Kalibiru, Hutan Gundul yang Disulap Jadi Ekowisata Ciamik

Antara, Jurnalis · Selasa 26 Oktober 2021 01:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 25 406 2491592 kalibiru-hutan-gundul-yang-disulap-jadi-ekowisata-ciamik-mGizQFRFa5.JPG Ekowisata Kalibiru di Kulon Progo, DIY (Foto: Instagram/@something_special_inhere12)

INDONESIA tak pernah kehabisan objek wisata alam ciamik memesona. Salah satunya ialah wisata alam Kalibiru. Objek wisata ini awalnya hanyalah hutan gundul akibat pembalakan liar, namun kini telah disulap menjadi rimbun dan lestari.

Ekowisata di kawasan hutan Menoreh Barat, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini perlahan menyejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Kalibiru telah beroperasi sejak 2009 dan dikelola oleh Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (HKm) Mandiri melalui Program Perhutanan Sosial.

Wisata alam ini terbentuk berkat kolaborasi seluruh pihak dari masyarakat setempat, pemerintah daerah dan pusat, hingga LSM. Menyabet penghargaan Wana Lestari pada 2014, membuat wisata ini kian populer dan ramai dikunjungi hingga 82 persen pada 2016 lalu. Pada 2018, omzet Kalibiru bahkan mencapai Rp7,2 miliar.

Ketua Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (HKm) Mandiri Kulonprogo, Parjan, mengatakan, saat ini banyak masyarakat yang sebelumnya bekerja di luar negeri dan kota pulang ke kampung halaman untuk mengelola Wisata Alam Kalibiru.

Baca juga: 5 Alasan Sumatra Utara Layak Jadi Destinasi Ekowisata bagi Traveler

Namun, pihaknya menemui banyak tantangan di awal pembentukannya. Sebelumnya, kawasan tersebut adalah kawasan hutan produksi yang menjadi tempat masyarakat menanam pohon dan tumbuhan lainnya. Lalu, karena beralih menjadi hutan lindung, Parjan dan kelompoknya mencari jalan keluar untuk tetap memanfaatkan hutan tanpa merusaknya.

Ekowisata Kulon Progo

(Foto: Instagram/@lindapuspita.rini_)

Baca juga: Menparekraf Sandiaga Uno Dorong Pengembangan Ekowisata Berkonsep SAVE

“Waktu mengarah ke jasa lingkungan yaitu pembuatan ekowisata, banyak yang tidak setuju karena takut tidak bisa merambah lagi. Lalu ada pendekatan dari pemerintah dan LSM yang turut mendukung untuk mengarah ke sana,” tuturnya.

Tak hanya membantu meyakini masyarakat, pemerintah daerah dan LSM pun berkolaborasi dengan HKm Mandiri untuk memperkuat kelembagaan Wisata Alam Kalibiru.

Bupati Kulon Progo, Sutedjo membenarkan pentingnya melibatkan masyarakat dalam mengelola dan memelihara hutan. Sebelum mengantongi izin HKm, masyarakat diberi izin sementara selama 5 tahun.

Menurutnya, mengubah pola pikir masyarakat tidaklah mudah. Namun dengan upaya yang dilakukan terus menerus, masyarakat mulai memiliki rasa kepemilikan akan hutan dan menjaganya dari pembalakan liar.

Kelompok Tani HKm Mandiri kata dia, menjadi pionir dalam mengelola kawasan hutan secara lestari dengan membentuk Wisata Alam Kalibiru. Pemda pun terus memberi dukungan dalam berbagai bentuk.

“Selain pendampingan, Pemda pernah memberi bantuan seperti pembentukan usaha koperasi, bibit tanaman untuk di bagian bawah kawasan Kalibiru, ternak lembu, dan lainnya,” ucap Sutedjo.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Erna Rosdiana mengatakan, keberhasilan ini merupakan cita-cita dari program perhutanan sosial itu sendiri.

Baca juga: Sambangi Ekowisata di Kalsel, Istri Sandiaga Uno Beri Nama Bayi Bekantan

Ekowisata Kalibiru Kulon Progo

(Foto: Instagram/@tonnyakbar)

“Ini seperti sebuah konsep tanpa kita kondisikan dari pusat dan berjalan sendiri. Kami punya konsep tapi implementasinya secara spontan ditangkap Pemda dan diimplementasikan oleh masyarakat, lalu difasilitasi oleh pendamping,” kata Erna.

Guna mengembangkan ekowisata di Tanah Air, pihaknya lanjut Erna, juga berkolaborasi dengan kementerian/lembaga (K/L) terkait seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai kementerian/lembaga utama dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai sarana dan prasarananya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini