Kabar Baik di Tengah Pandemi, Populasi Elang Jawa Meningkat

Avirista Midaada, Jurnalis · Minggu 31 Oktober 2021 03:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 30 406 2494066 kabar-baik-di-tengah-pandemi-populasi-elang-jawa-meningkat-bAgr1THfQc.JPG Elang Jawa dilepasliarkan ke kawasan Bromo Tengger Semeru (Foto: TNBTS)

SATWA dilindungi Elang Jawa dengan nama lain Nisaetus Bartelsi dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)

Pelepasliaran Elang Jawa berusia kurang lebih dua tahun ini setelah sebelumnya dilakukan di konservasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta.

Pelepasliaran dilakukan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK), Wiratno pada Jumat pagi lalu di kawasan Coban Bidadari, Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang masuk kawasan TNBTS.

Elang Jawa bernama Mirah, berjenis kelamin betina ini sebelumnya berada di pusat rehabilitasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Yogyakarta.

Ia didapat setelah sebelumnya sempat diperjualbelikan di Yogyakarta, kemudian oleh seorang warga diserahkan ke BKSDA.

Baca juga: Keren! Pusat Rehabilitasi Elang Jawa Dibangun di Kawasan Bromo Tengger Semeru

Infografis Gunung Tertinggi di Indonesia

Direktur Jenderal (Dirjen) KSDAE Kementerian LHK, Wiratno menyatakan, populasi Elang Jawa di alam liar mulai menunjukkan peningkatan setelah pihaknya bersama jajaran BKSDA KLHK berhasil melakukan konservasi dan rehabilitasi. Tercatat populasi Elang Jawa mencapai 571 di seluruh Jawa, termasuk yang ada di pusat rehabilitasi.

"Sekarang 571 seluruh Jawa tapi ada indikasi juga dia di Bali, catatan baru di Bali," kata Wiratno.

Wiratno memaparkan, pemilihan lokasi pelepasliaran Elang Jawa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, karena memang di lokasi ini menjadi habitat mereka dan dengan biodiversitas burung-burung yang langka.

"Jadi sebetulnya Bromo ini bukan taman nasional, bukan hanya keindahan landscape. Tapi juga biodiversitasnya burung," ungkap dia.

Selain itu, dengan potensi sinergi antara wisata dan konservasi dan perlindungan satwa liar menjadi kawasan TNBTS cocok dijadikan area pelepasliaran Elang Jawa, yang menjadi lambang negara Indonesia, Burung Garuda.

"Jadi kita mengimbau nanti kalau bapak-bapak dari kepolisian atau TNI bisa juga diajak, bagaimana cara masang kamera trap, kemudian memantau binatang di hutan apa saja. Bisa. Jadi wisata edukasi saya kira dengan keluarga juga boleh," terang dia.

Sementara itu, Ketua Raptor Indonesia, Zaini Rakhman mengungkapkan, populasi Elang Jawa yang menjadi satwa endemik langka diakui mulai menunjukkan tren positif, dengan mengalami peningkatan.

"Populasinya sudah mulai meningkat, Alhamdulillah. Salah satunya dengan pelepasliaran ini juga untuk meningkatkan populasi. Kemudian kita akan coba menyampaikan ke dunia internasional, itu bahwa ada catatan baru di Bali. Jadi sebarannya (Elang Jawa) Jawa dan Bali," papar dia.

Baca juga: Diapresiasi Khofifah, Begini Konsep Wisata Desa Pendukung Bromo Tengger Semeru

Pelepasliaran Elang Jawa

(Foto: MPI/Avirista Midaada)

Pelepasliaran Elang Jawa dikatakan Zaini, tidak bisa dilakukan asal-asalan. Berkaca pada Elang Jawa bernama Mirah yang dilepasliarkan hari ini memang perlu melakukan observasi dan dipantau kesehatannya terlebih dahulu.

"Yang pertama yang harus dilihat itu kesehatan satwanya. Kadang-kadang ada satwa yang dipotong sayapnya, yang dipotong kakinya. Dan itu kita coba rehabilitasi semua," tuturnya.

"Kemudian perilaku. Karena kan banyak yang dipelihara itu dikasih makan apa, ini penting juga untuk mengenalkan lingkungan sekitarnya. Kemudian kita kenalkan pakan-pakan alami yang ada di sekitarnya," tambahnya.

Langkah observasi kesehatan, dan perilaku Elang Jawa menjadikan hal penting untuk bisa memertahankan populasi Elang Jawa sebelum dilepasliarkan ke alam liar.

Sebab perkembangbiakan Elang Jawa memang cukup sulit, selama satu atau dua tahun sekali, satu sepasang Elang Jawa jantan dan betina, hanya menghasilkan satu telur.

"Itupun belum tentu menetas atau dia belum tentu survive di alam nantinya. Karena ada faktor setelah dewasa atau anakan diburu oleh masyarakat," ujarnya.

Zaini menambahkan, Mirah Elang Jawa yang dilepasliarkan merupakan sitaan BKSDA yang diserahkan seorang warga. Kemudian Elang Jawa yang waktu itu masih anakan direhabilitasi dan dikonservasikan di Yogyakarta.

Baca juga: Gunung Gede Pangrango dan Bromo Tengger Semeru Siap Dibuka

Pelepasliaran Elang Jawa

(Foto: MPI/Avirista Midaada)

"Termasuk ini salah satunya anakan, kemudian dibawa sebelum setahun umurnya sudah ditangkap kemudian diperjualbelikan. Kemudian ada tokoh masyarakat di Jogja beli itu atau misalnya menyelamatkan kemudian diserahkan ke KSDA untuk dilepasliarkan," pungkasnya.

Tampat pada pelepasliaran selain Dirjen KSDAE Kementerian LHK Wiratno, Penasihat Senior Ditjen KSDAE Agus Pambagio, Plt Kepala Balai Besar TNBTS Novita Kusuma Wardhani, jajaran BKSDA Jawa Timur, serta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Malang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini