Wakili Indonesia, Begini Pesona 3 Desa Wisata Nominator UNWTO Best Tourism Village 2021

Ahmad Haidir, Jurnalis · Kamis 04 November 2021 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 03 408 2496234 wakili-indonesia-begini-pesona-3-desa-wisata-nominator-unwto-best-tourism-village-2021-Yp3jr4dMRS.jpg Desa Adat Wae Rebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (Okezone.com/Ira Aldira)

INDONESIA memiliki segudang potensi wisata mulai dari keindahan alam, kuliner, keragaman tradisi budaya unik dan lainnya yang tersebar hingga desa-desa sepenjuru Nusantara. Menyadari hal itu, Kemenparekraf kini serius menggarap potensi desa wisata.

Desa wisata sangat diminati oleh wisatawan di masa pandemi COVID-19. Desa wisata menawarkan pengalaman liburan berbeda. Wisatawan bisa merasakan kedekatannya dengan alam, menikmati kehidupan pedesaan yang erat dengan tradisi dan tak bisa ditemui di perkotaan.

Desa wisata juga menawarkan pemandangan indah, udara segar dan menenangkan.

Baca juga: Arborek Raja Ampat, Wisata Super Komplet dengan Keindahan bak Surga

Di Indonesia ada banyak sekali desa wisata dengan beragam keunikan. Kemenparekraf sudah memilih 50 desa wisata terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

Ada tiga desa wisata terbaik mewakili Indonesia ke ajang lebih bergengsi, yakni UNWTO Best Tourism Villages atau Desa Wisata Terbaik Dunia 2021 yang digelar oleh Organisasi Wisata Dunia (UNWTO).

Ketiga desa tersebut yaitu Desa Wisata Nglanggeran di Gunung Kidul, DIY Yogyakarta; Desa Wisata Tetebatu di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat; dan Desa Wae Rebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Ketiga desa sudah siap adu keindahan dengan kandidat lain dari berbagai negara.

“Mudah-mudahan ini menjadi langkah kita bersama dalam menjadikan desa wisata di Indonesia sebagai pariwisata berkelas dunia, berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu mendorong pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” kata Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno.

Berikut profil tiga desa wisata yang mewakili Indonesia di UNWTO Best Tourism Villages 2021:

1. Desa Wisata Nglanggeran, Gunung Kidul, Jogja

Pertama mari kita mengenal Desa Wisata Nglanggeran. Terletak di Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, DIY, tepatnya di kawasan Gunung Api Purba menjadi daya tarik terbesar dari desa wisata ini. Gunung Api Purba sendiri adalah bagian dari Geopark Gunung Sewu yang telah diakui oleh dunia.

ilustrasi

Nglanggeran

Untuk menikmati kemegahan Gunung Api Purba, wisatawan bisa tracking dengan menaiki 100 anak tangga. Setibanya di atas, anda bisa melihat gunung api purba yang membentang luas dengan keunikan bongkahan-bongkahan batu.

Baca juga: 5 Fakta Unik Nglanggeran di Yogyakarta yang Masuk Nominasi Desa Wisata Terbaik Dunia

Pengunjung juga akan disuguhkan pemandangan utuh geosite serta melihat keunikan Kampung Pitu, yakni satu kampung yang hanya boleh diisi 7 keluarga. Selain itu, terdapat pula Embung Nglanggeran. Objek wisata yang merupakan tampungan air seluas 0,34 hektare ini digunakan sebagai pengairan kebun warga.

Desa Wisata Nglanggeran juga kaya akan potensi seni dan budaya yang masih tetap terjaga kelestariannya. Diantaranya Tarian Reog Nglanggeran, GejogLesung, Jathilan, Kenduri, Karawitan, dan Festival Kirab Budaya.

Ada pula potensi ekonomi kreatif seperti kerajinan batik topeng, olahan spa, dan deretan kuliner. Desa Wisata Nglanggeran juga memiliki batik tulis motif gunung Api Purba dan cokelat, batik jumputan menggunakan kelereng dan batu, serta batik eco print yang memanfaatkan daun jati, papaya, singkong, dan kenikir.

2. Desa Wisata Tetebatu, NTB

Desa Wisata Tetebatu memiliki magnet pemikat berupa wisata alam bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi kawasan yang berada lembah Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dari Desa Wisata Tetebatu, wisatawan bisa melihat pemandangan Gunung Sangkareang dan Gunung Rinjani. Selain indahnya hamparan sawah terasering, yang paling menggoda dari desa ini adalah dua air terjunnya, yakni air terjun Sarang Walet atau Bat Cave dan air terjun Kokok Duren.

ilustrasi

Tetebatu

Kemudian wisatawan juga bisa mengunjungi Hutan Monyet, di mana pengunjung bisa melihat monyet hitam endemik asli Tetebatu. Bagi yang hobi tracking, Desa Wisata Tetebatu juga mempunyai tempat jalan-jalan yang menyehatkan jiwa dan raga yakni di kebun kopi, cokelat, vanili, dan cengkeh milik masyarakat. Bahkan wisatawan pun bisa ikut menanam bibitnya jika musim tanam sedang berlangsung.

Dengan mengunjungi Tetebatu, pengunjung juga bisa mendapatkan pengalaman berwisata religi dengan melihat peninggalan bersejarah berupa Al-Qur’an kuno yang sudah berusia 200 tahun. Kitab suci umat Islam itu terbuat dari bahan kayu dan kulit onta dan konon katanya merupakan asli tulisan tangan.

Al-Qur’an kuno itu disimpan di sebuah rumah yang disebut bale kemaliq di Dusun Tete Batu Lingsar, Kecamatan Sikur. Alquran tersebut kini diwariskan kepada Jinarim alias Sukirman yang mengaku mendapatkan benda bersejarah itu dari kakeknya secara turun-temurun.

3. Desa Wae Rebo, NTT

Desa Wae Rebo yang terletak di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini disebut juga sebagai ‘surga di atas awan’, karena lokasinya yang berada di atas ketinggian 1.000 mdpl. Tak heran jika pemandangan yang disuguhkan begitu memukau layaknya lukisan.

Untuk bisa sampai ke tempat ini memang tidaklah mudah karena posisinya yang berada di atas gunung. Pengunjung perlu tracking menyusuri jalan setapak, membelah hutan hingga menyusuri sungai sejauh 6 kilometer. Wisatawan harus mempersiapkan kondisi tubuh yang bugar, karena di mulai awal pendakian, langsung disuguhkan dengan tanjakan yang tiada henti. Namun, setibanya di Desa Wae Rebo, rasa lelah itu akan terbayar.

ilustrasi

Hal pertama yang menjadi perhatian wisatawan adalah tujuh rumah adat yang menjadi ikon dari Desa Wae Rebo, yakni Mbaru Niang yang berbentuk kerucut. Selain itu, hamparan rumput hijau yang dikelilingi pegunungan lengkap dengan kabut juga menjadi pesona wisata tersendiri sehingga memberikan kesan magis namun damai, tenang, dan sejahtera.

Berbagai acara adat yang dilakukan setiap tahunnya juga menjadi satu keunggulan wisata tersendiri. Salah satunya adalah upacara persembahan untuk roh yang menghuni tempat Wae Rebo yang dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Juni dan Oktober.

Selain itu, ada pula upacara pernikahan dan upacara kelahiran masyarakat setempat yang menarik untuk disaksikan secara langsung.

Dengan eksotisme alam dan budaya Desa Wae Rebo, maka tidak heran jika mereka mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada Agustus 2012.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini