Fakta Unik Desa Nagoro di Jepang yang Dihuni Boneka Mirip Manusia

Nindi Widya Wati, Jurnalis · Rabu 10 November 2021 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 09 406 2499315 fakta-unik-desa-nagoro-di-jepang-yang-dihuni-boneka-mirip-manusia-1X8a97AKMp.jpg Fakta unik Desa Nagoro di Jepang (Ina Jaffe/NPR.org)

ADA sederet fakta unik Desa Nagoro di Jepang. Desa kecil terpencil di Lembah Iya, Pulau Shikoku, Perfektur Tokushima tersebut penghuninya kebanyakan boneka berwujud seperti manusia yang dibuat oleh warga setempat yang kesepian.

Nagoro dulunya memiliki penduduk lebih dari 300 jiwa. Namun, seiring waktu populasinya turun hingga tersisa 35 orang pada Januari 2015. Lima orang meninggal dunia dalam kurun satu tahun setelahnya. Jumlah boneka di desa itu mencapai 350 buah.

Baca juga:  10 Minuman Alkohol Asli Jepang Selain Sake, Dibuat dari Bahan Alami

Cerita berawal saat seorang seniman kelahiran Nagoro kembali ke kampung halaman setelah membangun karier puluhan tahun di Osaka. Seniman tersebut bernama Tsukimi Ayano.

Dikutip dari Wikipedia, Tsukimi kembali ke Nagoro awal 2000-an untuk merawat ayahnya yang kondisi kesehatannya mulai menurun.

Pada 10 Oktober 2017, National Geographic pernah merilis artikel tentang karya Tsukumi di Desa Nagoro. Tsukumi disebut membuat boneka sejak momen-momen awal kepulangannya untuk merawat sang ayah.

Berbagai boneka seukuran manusia dibuat untuk menggantikan warga yang meninggal dunia, atau warga yang pindah. Bahkan saat ayah Tsukumi meninggal dunia, ia membuat boneka ayahnya, dipakaikan baju asli milik ayahnya dan dipasang di ladang sang ayah.

Baca juga:  Mengenal Tradisi Unagi di Jepang, Memasukkan Belut ke Organ Intim Wanita hingga Orgasme

Apa yang dilakukan Tsukumi ini pernah dibuatkan film pendek dokumenter oleh sineas bernama Fritz Schumann. Film pendek dokumenter itu berjudul The Valley of Dolls.

“Saat aku membuat boneka orang-orang yang sudah meninggal. Aku memikirkan masa-masa saat mereka masih sehat. Boneka-boneka itu seperti anak-anakku,” ungkap Tsukumi.

Boneka-boneka itu kini ditempatkan di berbagai tempat di desa tersebut. Ada yang diposisikan memancing di pinggir sungai, ada yang di depan toko, hingga di kelas menggambarkan kegiatan belajar mengajar. Sekolah di Desa Nagoro ditutup pada 2012.

Gedung sekolah kini menjadi galeri bagi Tsukumi. Dia secara berkala mengganti model boneka yang menjadi murid dan guru. Tak hanya itu, Stukumi juga secara berkala memperbaiki boneka-boneka lama kemudian mengembalikan ke tempat semula.

 Ilustrasi

Hal itu mengundang wisatawan ke Desa Nagoro. Mereka penasaran melihat desa yang dihuni boneka. Hingga 2017, dilaporkan Tsukumi sudah memajang lebih dari 350 boneka.

Dia bahkan membuat boneka dirinya. Boneka Tsukumi biasa ditempatkan di sekitar rumah, kalau tidak melihat tanaman, boneka itu biasa berada di depan penghangat ruangan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini