Share

Tradisi Lotus Feet, Mengikat Kaki di China Demi Keindahan

Kurniawati Hasjanah, Jurnalis · Senin 15 November 2021 21:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 15 406 2501834 tradisi-lotus-feet-mengikat-kaki-di-china-demi-keindahan-1BrI0NxbtE.jpg Tradisi Lotus Feet di China (dok The Guardian)

JAKARTA - Tradisi mengikat kaki wanita di China sudah ada sejak awal abad ke-20.

Tradisi ini mematahkan jari dan lengkungan kaki wanita untuk diikatkan ke tumit dengan kain.

Alhasil, kaki yang panjangnya hanya 10 cm itu sering terinfeksi dan mudah patah.

Baca Juga:

Mengenal Tradisi Pernikahan di Swedia, Tamu Lawan Jenis Boleh Cium Pengantin

3 Kebiasaan Unik Orang Jepang ketika Musim Panas, Makan Belut hingga Nonton Film Horor

Praktik mengikat kaki terinspirasi dari seorang penari di istana kaisar China pada abad ke-10, Yao Niang.

Ketika itu, Niang berusaha memikat Kaisar Li Yu dengan cara mengikat kakinya dan menari di atas jari kaki.

Karena mengikat kakinya, gaya berjalan Yao Niang juga berubah: ia mengandalkan otot paha dan bokong sebagai penopang. Ia tampak lebih menarik saat berjalan.

Lambat laun, kaum wanita di istana mulai meniru dan mengikat kaki mereka seperti Yao Niang. Semakin lama diikat, kaki mereka menjadi lebih kecil. Mereka pun menjadikannya sebagai simbol status sosial.

Fungsi dari tradisi ini berawal dorongan modis yang kemudian berubah menjadi ekspresi identitas orang-orang Han (suku mayoritas di China), setelah Mongol menginvasi China tahun 1279.

Wanita China menjadikan praktik tersebut menjadi semacam kebanggaan etnis.

Namun, tradisi tersebut mulai pudar di awal abad ke-20 ketika para misionaris dan reformis mengkampanyekan ideologi mereka.

Langkah ini diikuti oleh pemerintah nasionalis dan para pemimpin komunis yang akhirnya melarang praktik kaki teratai.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini