Share

Uniknya "Pasar Bisu" di Sumbar, Bertransaksi Tanpa Bicara Hanya Pakai Bahasa Isyarat

Denisa Aisyah, Jurnalis · Kamis 18 November 2021 02:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 406 2503207 uniknya-pasar-bisu-di-sumbar-bertransaksi-tanpa-bicara-hanya-pakai-bahasa-isyarat-8bgz6EcR0q.JPG Tradisi Marosok, transaksi jual-beli hanya pakai bahasa isyarat (Foto: Antara)

APA yang ada di benak Anda jika mendengar kata pasar? Ramai dan riuh dengan hiruk pikuk bukan?

Biasanya terjadi tawar menawar harga yang ditentukan oleh pembeli maupun penjual dengan cara berkomunikasi suatu harga yang ditentukan atau yang biasanya disebut tawar menawar.

Namun bagaimana jika transaksi dilakukan hanya mengandalkan bahasa isyarat? Ya, pemandangan itulah yang terjadi di sebuah pasar hewan di Tanah Datar, Sumatera Barat.

Orang-orang di sana melakukan tranksaksi jual-beli dengan menggunakan bahasa isyarat atau yang lebih dikenal sebagai 'Pasar Bisu'.

Eits, jangan salah sangka dulu, meski namanya pasar bisu bukan berarti yang bertransaksi di pasar ini orang bisu lho ya.

Baca juga: Wow, Padang Jadi Salah Satu Kota Terindah di Indonesia

Pasar Hewan Ternak

(Foto: Kementan)

Melainkan ini merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak turun temurun. Tradisi ini terjadi di Desa Cubadak, Kecamatan Tanah Datar yang buka hanya setiap hari Selasa.

Barang yang dijual di pasar ini berupa hewan ternak seperti kambing, kerbau dan sapi. Jual dan beli dilakukan dengan cara Marosok, sebuah tradisi yang dalam bahasa Indonesia berarti Meraba.

Kegiatan Marosok sendiri berlangsung antara penjual dan pembeli layaknya orang bersalaman tetapi, tangan mereka ditutup dengan kain. Umumnya, sarung digunakan untuk menutup tangan mereka, namun ada juga yang menggunakan songkok atau peci.

Tradisi unik ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Minangkabau dan sudah dilakukan secara turun temurun. Proses tranksaksi Merosok ini dilakukan dengan cara kedua tangan yang bersembunyi di balik kain atau handuk dengan saling meraba jari-jari antara penjual dan pembeli.

Tujuan di balik prosesi adat ini adalah untuk menjaga kerahasiaan harga supaya tidak diketahui orang lain ketika sudah setuju untuk tranksaksi.

Dikutip dari Antara, transaksi jual-beli dilakukan dengan cara penjual dan pembeli berjabat tangan. Si penjual menyampaikan harga yang dilambangkan dengan ruas-ruas jari dan selanjutnya si pembeli menawar dengan memilih jari-jari yang melambangkan jutaan, ratusan ribu dan puluhan ribu.

Baca juga: Liburan Sehari ke Padang, Lihat Budayanya Sampai Puaskan Diri Kulineran

Infografis Oleh-Oleh

Jika penjual dan pembeli sudah melepaskan genggaman tangan berarti menandakan sudah ditemukan kesepakatan harga dan si pembeli menyerahkan sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan tadi.

Transaksi seperti ini bertujuan tak lain untuk merahasiakan harga ternak yang dibeli agar tidak diketahui oleh orang lain.

Adapun soal harga di pasar ini hanya boleh diketahui oleh penjual dan pembelinya saja. Setidaknya cara ini dipakai untuk menghargai penjual lain, jika mungkin punya harga yang lebih tinggi.

Selain membeli ternak, cara membeli daging di sini juga unik. Mereka tidak memakai timbangan seperti orang kebanyakan. Harga daging sapi didapat berdasarkan pengamatan, jika cocok maka transaksi jual beli dilakukan.

Karena tradisi yang unik ini, banyak wisatawan yang tertarik untuk berkunjung melihat proses tranksaksi yang unik ini. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pembeli dan penjual berjabatan tangan dengan waktu yang lama.

Saat itulah proses tranksaksi dimulai dan menyepakati harga yang ditentukan. Jari-jari mereka bermain melambai ke kanan dan kiri dan bisa juga melambangkan jumlah uang yang harus diberikan.

Maka sebaiknya, sebelum melakukan transaksi di pasar ini, kita juga harus mengetahui arti dari simbol atau isyarat yang akan digunakan ya Okezoners.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini