Share

Merawat Tradisi Membuat Gerabah, Kerajinan Sudah Ada Sejak Berdirinya Candi Borobudur

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 17 November 2021 23:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 406 2503344 merawat-tradisi-membuat-gerabah-kerajinan-sudah-ada-sejak-berdirinya-candi-borobudur-tjb7wnJBO4.jpg Menparekraf Sandiaga Uno di sentra kerajinan gerabah milik Supoyo (Instagram @gerabaharumart_)

KERAJINAN gerabah bisa hilang jika tak dilestarikan. Supoyo adalah sosok penting yang menjaga tradisi membuat gerabah. Warga Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu sudah 15 tahun bergantung hidup pada gerabah.

Kerajinan gerabah diyakini sudah ada sejak masa pembangunan Candi Borobudur sekitar abad ke-8 Masehi. Gerabah merupakan perkakas yang terbuat dari tanah liat yang dibentuk kemudian dibakar kemudian dijadikan alat-alat yang berguna membantu kehidupan manusia.

Baca juga:  Artefak Kuno Ditemukan di Gunung Mas Kalteng, Ada Keramik dari Dinasti Ming

Gerabah juga menjadi mata pencaharian bagi orang-orang desa seperti Supoyo. Berkat konsistensinya menjaga tradisi gerabah, kini sentra gerabah yang didirikan Supoyo bahkan sudah menjadi tempat wisata edukasi gerabah yang sering dikunjungi turis.

"Jadi kami sebagai penerus pengrajin gerabah itu sejak 2004," kata Supoyo seperti dikutip dari akun Instagram @kemenparekraf.ri, Rabu (17/11/2021).

 

Awal Supoyo membuat sentra kerajinan gerabah adalah saat pemerintah setempat melalui dinas terkait datang ke kediamannya dan memberikan alat sebagai penunjang untuk membuat gerabah. Karena, kata Supoyo, orang zaman dahulu membuat gerabah hanya menggunakan kayu secara manual.

"Jadi kalau pakai kayu kurang cepat untuk putarannya," tuturnya.

 Baca juga: 3 Situs Warisan Dunia di Indonesia, Kaya Sejarah dan Budaya

Supoyo menyebutkan, alat bantu untuk membuat gerabah itu bernama perbot. Dengan alat ini, ia mengaku bisa lebih banyak menghasilkan gerabah dibanding menggunakan kayu manual.

"Yang seharinya cuma 10, kalau pakai alat ini bisa 20, atau 30," ujarnya.

Meski produknya belum meluas ke pasar ekspor, namun barang dagangan Supoyo ini seringkali diminati para wisatawan sebagai suvenir atau kenang-kenangan saat berwisata ke desa tersebut. Bahkan, Supoyo juga mengajak para wisatawan yang datang untuk ikut praktek membuat gerabah.

Sayangnya, sejak pandemi melanda, Supoyo mengaku usahanya ini sangat berdampak. Jika sebelum pandemi, dalam satu bulan, Supoyo bisa mendapatkan pengunjung hingga 3.000 orang.

Ilustrasi

Setelah pandemi, tidak ada wisatawan yang berkunjung. Hanya pengrajin saja yang masih terus semangat untuk memproduksi gerabah.

"0 persen, enggak ada sama sekali penerimaan tamu. Semestinya pemerintah segera membuka jalur wisata. Karena kesehariannya kita sudah berbaur dengan dunia pariwisata," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini