Berbagi Suami Antara Ibu dan Anak, Tradisi Suku Mandi Bangladesh

Anisa Suci Maharani, Jurnalis · Sabtu 20 November 2021 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 19 406 2504499 berbagi-suami-antara-ibu-dan-anak-tradisi-suku-mandi-bangladesh-Y18477PVAH.jpg Ilustrasi (Freepik)

BERBAGI suami antara ibu dan anak merupakan tradisi suku Mandi, Bangladesh yang dianggap tabu bagi kebanyakan orang.

Selain Indonesia, belahan dunia lain juga memiliki beragam suku yang masih melestarikan budaya dan tradisinya masing-masing. Salah satunya adalah Suku Mandi di Bangladesh India.

Melansir dari Orissa Post, gadis Mandi tidur dengan ayahnya sesuai tradisi suku. Bukan karena para gadis menyukainya, tetapi mereka tidak punya jalan keluar lain. Ini adalah tradisi yang telah dijalankan selama berabad-abad di suku Mandi yang sebagian besar ditemukan di Bangladesh.

 Baca juga: Mengenal Festival Seks Saut d'Eau Haiti, Ritual Berhubungan Badan Massal di Air Terjun

Tradisi ini mendapat sorotan setelah kisah seorang gadis yang diidentifikasi sebagai Orola Dalbot (30) pertama kali muncul di media sosial dan platform online lainnya.

 Ilustrasi

Warga suku Mandi di Bangladesh (The Guardian)

Orola Dalbot dipaksa menikah dengan ayahnya setelah dia berusia 15 tahun. Sekarang, dia memiliki tiga anak dari ayahnya. Ini adalah nasib semua gadis seusianya di desa.

Menurut Orola, ayahnya telah meninggal ketika dia masih kecil, dan ibunya telah menikah lagi dengan ayah tirinya Noten.

Dia terkejut mengetahui bahwa pernikahannya telah terjadi ketika dia berusia 3 tahun, dalam upacara bersama dengan ibunya. Menurut tradisi dalam suku Mandi matrilineal, ibu dan anak perempuannya menikah dengan pria yang sama.

"Saya ingin melarikan diri ketika saya tahu," kata Orola. Namun, ibunya, Mittamoni, sekarang 51 tahun, mengatakan kepadanya bahwa dia harus menerimanya.

 Baca juga: Ritual Seks Tak Lazim, Bocah 13 Tahun Berhubungan Intim dengan Wanita Lebih Tua

Bagi suku Mandi, para janda yang ingin menikah lagi harus memilih seorang pria dari klan yang sama dengan suaminya yang sudah meninggal.

Di sini seorang janda akan menawarkan salah satu putrinya sebagai pengantin kedua untuk mengambil alih tugasnya—termasuk seks—ketika putrinya sudah dewasa.

"Ibuku baru berusia 25 tahun ketika ayahku meninggal. Dia belum siap untuk melajang," kata Orola, yang mengenakan pasmina biru cerah.

Suku tersebut menawarkan Noten, yang saat itu berusia 17 tahun, sebagai suami baru Mittamoni, dengan syarat dia juga menikahi Orola.

"Saya terlalu kecil untuk mengingat pernikahan itu. Saya tidak tahu itu terjadi," kata Orola.

Dia merasa hancur saat mengetahui bahwa dia diharuskan untuk berbagi suami ibunya sendiri. Orola berkata, "Ibuku sudah memiliki dua anak dengannya. Aku menginginkan suamiku sendiri."

 Ilustrasi

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pengamat menganggap kebiasaan pernikahan ibu-anak telah mati.

Misionaris Katolik telah mengubah 90 persen dari 25.000 anggota suku Bangladesh, dan banyak praktik Mandi yang dulu diterima sekarang menjadi tabu. Ini termasuk kebiasaan langka, di mana wanita Mandi menikahi suami ibunya.

Namun, meski tidak ada angka resmi, seorang kepala daerah mengklaim banyak keluarga yang masih mengikuti adat pernikahan ibu-anak.

"Orang-orang tetap diam tentang hal itu karena memiliki lebih dari satu istri tidak disukai oleh gereja," kata Shulekha Mrong, kepala Achik Michik, sebuah kelompok perempuan berpengaruh yang dijalankan oleh para tetua perempuan Mandi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini