Sambangi Desa Kole Sawangan Tana Toraja, Tongkonan Jadi Magnet Wisata Pelancong

Ahmad Haidir, Jurnalis · Senin 22 November 2021 15:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 22 408 2505355 sambangi-desa-kole-sawangan-tana-toraja-tongkonan-jadi-magnet-wisata-pelancong-i8OT5XBSXu.JPG Desa Kole Sawangan di Tana Toraja, Sulsel (Foto: Dok. Kemenparekraf)

BICARA soal kekayaan budaya, Tana Toraja menjadi salah satu yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Bagi yang ingin mempelajari atau sekadar menyaksikan warisan budaya dari suku yang berasal dari Sulawesi Selatan itu, mengunjungi Desa Kole Sawangan ialah jawaban tepat.

Betapa tidak, desa ini menjadi salah satu daerah yang menyimpan kekayaan adat dan budaya Toraja secara lengkap. Penasaran? Berikut ini MNC Portal Indonesia sajikan ulasannya!

Lokasi dan rute akses

Desa Kole Sawangan terletak di Kecamatan Malimbong Balepe’, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Apabila ingin berkunjung ke Desa Kole Sawangan, bisa menggunakan pesawat dan turun di Bandar Udara Toraja,

Sesampainya di bandara, kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk bisa sampai di desa yang terletak di kaki Gunung Sado'ko ini yang dapat ditempuh dengan perjalanan darat.

Tongkonan jadi daya tarik wisata

Kekuatan adat dan budaya menjadi daya tarik utama dari Desa Wisata Kole Sawangan. Seperti kawasan Toraja pada umumnya, di desa wisata ini wisatawan bisa menemui deretan Tongkonan atau rumah adat orang Toraja yang indah nan megah. Adapun Tongkonan merupakan rumah panggung tradisional masyarakat Toraja berbentuk persegi empat panjang.

Baca juga: Pariwisata Solusi Kebangkitan Ekonomi Tana Toraja, Menparekraf Dukung Percepatan Vaksinasi Covid-19

Masyarakat Tana Toraja

(Foto: Kemenparekraf RI)

Namun keistimewaan Tongkonan di Desa Kole Sawangan adalah wisatawan dapat melihat salah satu Tongkonan tertua di Toraja!. Tongkonan tersebut awalnya dibangun pada tahun 1200 dan beratap batu. Namun pada tahun 1939, Tongkonan tersebut terbakar lantas baru dipugar 7 tahun kemudian.

Melalui Tongkonan tersebut, wisatawan akan mendapatkan gambaran betapa bersahajanya masyarakat Toraja yang sangat menghormati budaya leluhur.

Selain sebagai tempat tinggal, Tongkonan juga memiliki peranan kuat sebagai tempat rumpun keluarga dalam melaksanakan upacara-upacara yang berkaitan dengan sistem kepercayaan, sistem kekerabatan, dan sistem kemasyarakatan.

Puas menyusuri bagian dalam, di bagian depan Tongkonan tertua tersebut wisatawan bisa melihat deretan tanduk kerbau yang terpajang. Tanduk kerbau itu merupakan simbol bahwa pemilik rumah adalah tuan yang sudah melakukan upacara rambu solo’ yaitu sebuah upacara pemakaman secara adat atau pesta sebagai tanda penghormatan terakhir kepada mereka yang telah meninggal dunia.

Baca juga: Kunjungan Kerja ke Kole Sawangan Tana Toraja, Sandiaga Uno: Desa Wisata Buka Lapangan Kerja

Sandiaga Uno di Toraja

(Foto: Kemenparekraf RI)

Tak hanya itu, di Desa Wisata Kole Sawangan juga terdapat kuburan batu Saluliang. Ini juga merupakan salah satu kuburan batu tertua di Toraja yang berdiri sejak tahun 1215 dan masih digunakan sampai saat ini!. Batu-batu besar yang berjejer mengikuti kontur tanah itu dilubangi dan dipahat menjadi liang kubur.

Kuburan batu ini memiliki liang terbanyak dari semua kuburan batu yang ada di Toraja yakni sebanyak 107 buah. Saluliang juga merupakan tempat pemujaan leluhur aluk todolo. Aluk Todolo sendiri merupakan agama leluhur nenek moyang suku Toraja.

Kaya kesenian dan produk ekraf

Wisatawan yang datang ke desa wisata ini juga dapat melihat berbagai seni suku Toraja seperti tarian Pa'gellu, yakni tarian sukacita yang biasa dipentaskan pada upacara adat di Toraja, Sulawesi Selatan yang sifatnya riang gembira. Pa’gellu atau ma’gellu dalam bahasa setempat berarti menari-nari dengan riang gembira sambil tangan dan badan bergoyang dengan gemulai, meliuk-liuk dan berlenggak-lenggok.

Tarian ini pertama kali diciptakan oleh Nek Datu Bua’, yakni pada saat kembali dari medan peperangan yang kemudian dirayakan rakyat dengan menari penuh sukacita.

Selain itu juga ada tarian Pa' Tirra, yang merupakan tari kreasi yang biasanya dilakukan oleh remaja laki-laki berjumlah genap. Mereka berbaris menjadi dua barisan sambil membawa alat musik yang terbuat dari bambu yang dibawa dan dihentakan sehingga mengeluarkan alunan nada yang secara teratur selaras dengan langkah dari para remaja laki-laki.

Di samping kesenian, wisatawan akan disuguhkan beragam produk ekonomi kreatif seperti kerajinan tenun dan manik-manik yang dikerjakan para wanita setempat. Wisatawan akan jamak melihat hal ini karena Desa Wisata Kole Sawangan memang merupakan salah satu sentra kerajinan dan ekonomi kreatif Toraja.

Baca juga: Sambangi Desa Wisata Tipang, Sandiaga Uno Beri Bantuan Alat Pertukangan

Tana Toraja

(Foto: Kemenparekraf RI)

Selain kain tenun dan manik-manik, masyarakat setempat juga mengembangkan kerajinan anyaman bambu seperti keranjang, nampan, tas, serta alat rumah tangga lainnya. Serta tidak ketinggalan Kopi Pokko, yang merupakan produk kopi kemasan jenis arabika yang ditanam langsung di kebun-kebun kopi rumah warga dan di-roasting dengan alat tradisional sehingga memiliki cita rasa yang khas.

Dipuji Sandiaga Uno

Dengan berbagai potensi tersebut, rasanya Desa Wisata Kole Sawangan sangat layak untuk menjadi destinasi pariwisata unggulan di Kabupaten Toraja bahkan Indonesia.

Potensi wisata itu juga berhasil dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat hingga membuat Desa Kole Sawangan ditetapkan sebagai salah satu dari 50 besar desa wisata terbaik di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, dengan waktu persiapan yang cukup singkat!

Fakta-fakta tersebut sampai-sampai menuai pujian dari sosok Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI, Sandiaga Salahuddin Uno saat melakukan visitasi ke Desa Kole Sawangan, Minggu, 21 November 2021 kemarin.

Meski merupakan sebuah desa wisata rintisan, namun Sandiaga menilai bahwa Desa Kole Sawangan siap menyambut wisatawan dengan atraksi dan daya tarik yang dimilikinya. Melihat kesungguhan pemerintah setempat juga membuat Menparekraf berjanji memberikan support penuh untuk menjadikan Toraja sebagai destinasi unggulan kedua di Indonesia Tengah setelah Bali.

Sandiaga Uno di Toraja

(Foto: Kemenparekraf RI)

"Ini juga karena kerja cepat dari birokrasi Pemerintah Kabupaten Tana Toraja yang sudah mengeluarkan SK (desa wisata) dan mengurus kelengkapan dokumen. Karena desa wisata itu bisa maju kalau dukungannya adalah semua pihak berkolaborasi," kata Sandi.

"Oleh karena itu, kami akan menggagas bersama dengan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, tahun depan satu event internasional yang menandakan perjalanan kembali Toraja sebagai destinasi unggulan kedua setelah Bali," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini