Mengenal Dalit, Masyarakat Kasta Terendah yang Hidup Menderita

Anisa Suci Maharani, Jurnalis · Senin 29 November 2021 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 28 406 2508714 mengenal-dalit-masyarakat-kasta-terendah-yang-hidup-menderita-5BNDdAtI71.jpg Wanita Dalit India (BBC)

WANITA Dalit atau Paria dianggap sebagai kasta terendah di antara masyarakat India. Mereka menjadi korban terburuk krisis kelaparan di India.

Dalit, kaum terpinggirkan yang berada di bagian bawah hierarki kasta India, memiliki tingkat kelaparan yang terus meningkat. Banyak kasus perempuan Dalit yang menderita anemia sampai malnutrisi.

Baca juga:  Heboh Pemuda Dilamar Bocah SMP Rp500 Juta, Perkawinan Anak di Gujarat Malah Jadi Tradisi

Studi menunjukkan 59 persen perempuan Dalit menderita anemia, sedangkan rata-rata nasional adalah 53 persen.

Pada tahun 2016, India menempati peringkat 170 dari 180 negara di mana perempuan menderita anemia. Wanita Dalit meninggal 15 tahun lebih muda dari wanita dari kasta dominan, kata sebuah studi PBB (PDF).

 Ilustrasi

"Perempuan Dalit dan Adivasi meninggal lebih muda dari perempuan kasta dominan. Gizi dan kesehatan selalu menjadi perjuangan bagi perempuan Dalit-Adivasi. Anda memasukkan krisis mata pencaharian kelaparan selama pandemi, dan efek yang diderita oleh perempuan yang terpinggirkan akan berlipat ganda," kata Beena Pallical dari Kampanye Nasional Hak Asasi Manusia Dalit seperti dilansir dari Aljazeera.

Ranjita Majhi (33 tahun), kehilangan bayinya karena malnutrisi. Dia juga tidak mampu melahirkan secara normal akibat anemia berat dan komplikasi kesehatannya.

Baca juga:  Turis India Ngebet Liburan ke Indonesia, Sandiaga: Ada Hal yang Harus Disepakati

Kasus serupa juga terjadi pada Nisha saat dia mengalami anemia akut. Meski mengalami sakit kepala yang parah, nyeri tulang rusuk dan kelelahan, dia tetap bekerja demi pendidikan anak-anaknya.

 

Dampak Pandemi Covid-19

Laporan Keadaan Bekerja di India 2021 (PDF) menunjukkan bahwa 83 persen wanita kehilangan pekerjaan selama pandemi virus corona, dengan 47 persen wanita dan hanya 7 persen pria tidak mungkin pulih dari kehilangan pekerjaan.

Pallical mengatakan sebagian besar perempuan yang terpinggirkan didorong kembali ke pekerjaan tidak aman dan rentan terkena virus.

Tetapi mereka harus melakukan pekerjaan karena sistem bekerja melawan mereka, katanya.

Perempuan makan paling akhir dan paling sedikit

"Di dalam rumah, wanita adalah yang terakhir makan dan paling sedikit makan. Krisis kelaparan di rumah berarti perempuan secara otomatis akan makan lebih sedikit," kata Rajendran Narayan dari Stranded Workers Action Network dan Hunger Watch.

Situasinya sangat parah bagi wanita hamil dan menyusui. Perempuan terpinggirkan tidak hanya berjuang untuk mendapat makanan bersubsidi, tetapi juga bantuan tunai dari pemerintah.

Lakshmi Devi Bhuiyan, seorang warga Dalit berusia 60 tahun dari desa Barwadih di distrik Latehar negara bagian Jharkhand, tidak memiliki anak untuk menghidupinya. Dia mengeluh sakit kepala terus-menerus karena anemia dan penyakit lain dan terlihat lemah.

 Ilustrasi

Butuh Perhatian Pemerintah

Sylvia Karpagam, peneliti kesehatan masyarakat dan dokter yang berbasis di negara bagian Karnataka selatan, menjelaskan bagaimana kekurangan gizi memiliki efek antargenerasi pada perempuan, terutama mereka yang berasal dari komunitas yang terpinggirkan.

"Ketika seorang wanita muda dari komunitas terpinggirkan hamil, dia sudah kekurangan gizi karena kasta, kelas dan gendernya yang tidak menguntungkan. Anak itu juga pasti akan kekurangan gizi bahkan sebelum dia mencapai usia satu tahun. Ini berlanjut hingga remaja," katanya kepada Al Jazeera.

Karpagam mengatakan menangani masalah kasta sangat penting untuk mengatasi kekurangan gizi di antara perempuan yang terpinggirkan.

"Faktanya adalah apa yang ditawarkan pemerintah saat ini tidak cukup bagi mereka untuk mengakses nutrisi penuh. Ini harus menjadi prioritas pemerintah dalam memberikan bantuan," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini