Melihat Lorong Rahasia Bawah Tanah, Jalur Penyelundupan Candu di Solo

Salwa Izzati Khairana, Jurnalis · Kamis 02 Desember 2021 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 01 406 2510440 melihat-lorong-rahasia-bawah-tanah-jalur-penyelundupan-candu-di-solo-ZFENNkf5Wn.jpg Lorong rahasia yang dulu jadi jalur pengiriman opium di Kampung Laweyan, Kota Solo (Instagram @kanjengnuky)

KOTA Solo, Jawa Tengah punya sederet peninggalan sejarah Kerajaan Pajang hingga Kesultanan Surakarta. Warisan budaya tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata. Misalnya Keraton Surakarta Hadiningrat, istana resmi Kesunanan Surakarta.

Bila ditelisik ke belakang, Kota Surakarta memiliki sejarah yang melekat dengan keberadaan Kampung Laweyan.

Baca juga:  Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo Dorong Solo Jadi Pilot Project Wisata Kebugaran Indonesia

Pada kehidupan masyarakat Jawa zaman itu, Kampung Laweyan merupakan tempat bagi para pengusaha dan saudagar yang keberadaannya berseberangan dengan kaum ningrat Keraton Kartasura.

Dan yang menarik, kampung itu sudah ada sejak tahun 1540-an pada masa Kerajaan Pajang.

Mengutip dari unggahan Instagram @kanjengnuky, Kampung Laweyan saat itu menjadi tempat bandar utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Nagari Pajang, baik legal maupun ilegal.

 ilustrasi

Instagram @kanjengnuky

“Salah satu yang ilegal waktu itu adalah opium atau yang disebut candu atau Jawa menyebut apyun apabila msh mentah,sedangkan ketika matang disebut dengan candu atau madat,” tulis Kanjeng Nuky, pencinta sejarah dan budaya dalam unggahannya yang disertai foto dan video lorong rahasia bawah tanah bersejarah di Solo.

Pada masa Amangkurat II, kegiatan impor candu mulai diperbolehkan dan memonopoli candu di daerahnya yang merupakan hadiah-hadiah pemberian VOC.

Baca juga:  Gaet Wisatawan, Solo Tampilkan Atraksi Prajurit Keraton Mirip di Istana Buckingham Tiap Sabtu

Dan kemudian pada tahun 1677 candu menjadi sumber bisnis bagi kehidupan masyarakat Jawa saat itu. Candu juga menjadi bagian yang dikonsumsi oleh mereka.

Orang-orang pada masa itu mengirimkan candu melalui lorong-lorong bawah tanah dari rumah mereka yang menembus ke sungai. Jalur masuk candu itu terhubung dengan perahu-perahu di bandar Laweyan.

“Salah satu jalur masuk opium itu melewati droping oleh perahu-perahu jung di bandar Laweyan dan memasuki lorong-lorong yang menghubungkan rumah-rumah di Laweyan. Adapun di Surakarta sendiri ada rumah-rumah candu yang berada di bangunan yang sekarang menjadi masjid Merdeka Laweyan ( slide 9) dan kemudian di Totogan utara Mangkunegaran (slide 10),” tulis Kanjeng Nuky.

Nuky menunjukkan sebuah lorong bawah tanah dari salah satu rumah. Dulunya, lorong-lorong itu terhubung dengan rumah-rumah lainnya di Laweyan.

Namun, kini banyak dari rumah-rumah itu telah ditutup dan tidak bisa dikunjungi, baik yang menuju sungai maupun rumah-rumah lainnya yang ada di utara.

 

“Lorong-lorong ini sudah diteliti oleh peneliti dari Inggris, New Zealand dan lain-lain yang mereka tertarik dengan jalur perdagangan opium zaman dahulu di kota Surakarta. Mengutip pakar candu Henri Louis Charles Te Mechelen dalam ‘Opium To Java’ pada tahun 1882 menyebut perbandingan satu dari 20 orang Jawa merupakan pengisap candu,” ujarnya.

“Yang menarik dari kunjungan saya di tempat-tempat ini juga dijaga penunggu tak kasat mata yang mempunyai nama-nama khusus. Hingga banyak orang yang kemudian melakukan tirakat baik di dalam lorong maupun di luar lorong/di dlm rumah ini. Hal ini merupakan fakta-fakta menarik yang menunjukan kehidupan "bawah tanah" masyarakat Jawa zaman dahulu.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini