Khawatir Dampak Varian Omicron, Begini Curhatan Bos Maskapai Internasional

Anisa Suci Maharani, Jurnalis · Kamis 02 Desember 2021 18:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 02 406 2510607 khawatir-dampak-varian-omicron-begini-curhatan-bos-maskapai-internasional-muXbqJrkhi.JPG Maskapai Emirates (Foto: Instagram/@emirates)

PARA bos maskapai penerbangan telah menyuarakan keprihatinannya mengenai dampak varian Omicron terhadap pemulihan industri aviasi.

Melansir Reuters, kekhawatiran disampaikan oleh beberapa maskapai, yaitu Emirates, EasyJet dan Skandivania SAS.

Presiden Emirates, Tim Clark mengatakan, pukulan besar pada puncak musim perjalanan Desember akan menyebabkan 'trauma signifikan' dalam bisnis penerbangan global.

Maskapai penerbangan murah Inggris EasyJet juga berbicara tentang penurunan permintaan dalam beberapa pekan terakhir karena kebangkitan virus di beberapa bagian benua Eropa.

Traveler berpikir ulang untuk liburan

Penemuan varian Omicron, yang pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan pekan lalu, memberikan pukulan bagi industri yang sedang dalam masa pemulihan, terutama setelah pelonggaran perjalanan menuju AS pada awal November.

Baca juga: Fantastis, Maskapai Ini Tawarkan Gaji Pramugari 3 Kali Lipat Jelang Natal dan Tahun Baru

Infografis Maskapai dengan Menu Terbaik di Dunia

Beberapa negara termasuk Jepang, Amerika Serikat, Inggris dan Israel telah memberlakukan pembatasan perjalanan untuk memperlambat penyebaran varian baru yang dikhawatirkan lebih tahan terhadap vaksin.

Clark mengatakan, beberapa pekan ke depan, menjelang musim liburan Natal dan Tahun Baru, adalah yang terpenting bagi industri penerbangan.

"Jika itu hilang, atau musim dingin hilang untuk banyak operator, akan ada trauma yang signifikan dalam bisnis, tentu saja bisnis penerbangan dan pinggiran," ujarnya.

Kehilangan uang

Dampak pembatasan perjalanan terbukti dalam hasil keuangan yang diterbitkan oleh maskapai EasyJet dan Skandinavia SAS pada Selasa.

EasyJet melaporkan kerugian utama sebelum pajak sebesar USD1,5 miliar (Rp21 miliar) untuk tahun ini hingga akhir September. Sementara SAS tetap berada di zona merah pada kuartal Agustus hingga Oktober.

Maskapai itu mengklaim, sulit untuk mengukur dampak dari varian baru. Kekhawatiran terhadap virus corona masih memengaruhi para pelancong.

Baca juga: Mantan Pramugari Maskapai Italia Lepas Seragam hingga Tersisa Pakaian Dalam

"Kami melihat ada dampak, terutama pada keberangkatan jangka pendek. Tetapi tidak pada tingkat dampak dan penurunan yang sama seperti yang kami lihat sebelumnya," kata Chief Executive EasyJet, Johan Lundgren.

Baik EasyJet dan SAS mencatat bahwa ada keinginan yang kuat untuk bepergian ketika pembatas jalan ditiadakan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini