Silariang, Budaya Kawin Lari Suku Bugis yang Bisa Berakhir di Ujung Badik

Anisa Suci Maharani, Jurnalis · Jum'at 03 Desember 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 02 406 2510997 silariang-budaya-kawin-lari-suku-bugis-yang-bisa-berakhir-di-ujung-badik-825HjY1GYn.JPG Ilustrasi (Foto: VOA)

SETIAP suku di Nusantara memiliki tradisi budaya dengan ciri khas dan keunikannya masing-masing. Salah satunya ialah Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Salah satu budaya yang dikenal oleh kalangan masyarakat Bugis kini ialah Silariang.

Silariang merupakan budaya kawin lari oleh Suku Bugis, yang hingga kini masih sering dilakukan oleh pasangan kekasih alias dua sejoli yang sedang dimabuk cinta.

Istilah Silariang sendiri diartikan sebagai upaya kawin lari antara laki-laki dan perempuan yang saling mencintai dan sepakat membangun bahtera rumah tangga namun terhalang restu kedua orangtua.

Lazimnya para orangtua di sana menolak pinangan lantaran kesenjangan status sosial.

Pelaku Silariang pun tidak terbatas, bisa dari kaum pemuda yang belum beristri, hingga laki-laki dan perempuan yang bahkan sudah menikah.

Budaya ini bisa dikatakan 'aib' bagi kedua keluarga, terutama pihak perempuan yang disebut Tumasiri. Mereka menjunjung tinggi hukum adat siri' atau harga diri.

Baca juga:ย Mengenal Lebih Dekat Suku Bugis dan Kapal Pinisi yang Melegenda

Maka tidak jarang jika Tumanyala, sebutan untuk pelaku Silariang laki-laki, berakhir dianiaya atau bahkan dibunuh oleh Tumasiri dalam berbagai kasus yang terjadi di Tanah Daeng.

Tradisi Seks Bebas Kamboja

Berakhir tragis

Hukum adat Bugis berpandangan bahwa 'menghabisi' pelaku Silariang dengan alasan siri' tidak bisa dikenakan hukuman. Pelaku eksekusi bahkan dianggap sebagai 'pahlawan' yang telah menegakkan harga diri keluarga.

Dalam istilah orang Bugis; "Jika badik sudah keluar dari sarungnya, maka pantang disarungkan sebelum menyesaikan 'tugas' menegakkan martabat keluarga,".

Bagi para Tumasiri, mereka wajib memenuhi hukum adat jika mendengar sanak keluarganya melakukan Silariang.

Keluarga pelaku Silariang akan dicap oleh masyarakat sebagai Ballorang alias penakut apabila tidak melakukan tugasnya.

Namun hukum adat tentu berbeda dengan hukum pidana. Pelaku tetap dijatuhi Pasal 338 tentang Pembunuhan, 340 Pembunuhan Berencana dan atau Pasal 351 tentang Penganiayaan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Jenis-jenis perkawinan

Suku Bugis atau di Makassar pada umumya mengenal beragam jenis perkawinan. Salah satunya dinamakan Nilariang.

Nilariang ialah kehendak kawin yang datang dari pihak laki-laki. Perempuan akan dilarikan secara paksa atau dibawa dengan tipu muslihat.

Duel Badik ala Suku Bugis dan Makassar

(Duel badik Suku Bugis/Makassar, Foto: YouTube/HasbiTubeHD)

Baca juga: 15 Kuliner Khas Makassar Terenak, Bakal Nyesel Kalau Belum Coba

Jenis lain dari Silariang adalah Nilari atau Erang Kale. Kasus ini merupakan kebalikan dari Nilariang, di mana perempuan lari ke rumah laki-laki, lalu menunjuk laki-laki yang pernah menggaulinya. Dengan demikian, laki-laki yang ditunjuk harus atau wajib menikahinya.

Namun jika tidak ada laki-laki yang mau bertanggung jawab, maka mereka menunjuk orang lain yang mau secara sukarela mengawini perempuan tersebut. Perkawinan seperti itu disebut Pattongkok Siriโ€™ alias penutup malu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini