Gunung Semeru Meletus, AirNav Ingatkan Pilot soal Dampak Erupsi

Azhfar Muhammad, Jurnalis · Minggu 05 Desember 2021 12:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 05 406 2512167 gunung-semeru-meletus-airnav-ingatkan-pilot-soal-dampak-erupsi-821FDZXxXX.JPG Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

AIRNAV Indonesia mengimbau para pilot yang melakukan penerbangan di sekitar Gunung Semeru agar tetap mewaspadai sebaran abu vulkanik. Peringatan itu disampaikan terkait letusan Gunung Semeru pada Sabtu kemarin sekitar pukul 15.00 WIB.

Peringat kepada pilot tersebut tertuang dalam ASHTAM nomor VAWR 2168 tanggal 4 Desember 2021 pukul 16.25 WIB, yang terkait dengan Gunung Semeru meletus.

“ASHTAM tersebut berisi mengenai peringatan terhadap para pilot terkait erupsi Gunung Semeru dengan level aktivitas yang tinggi (ketinggian abu vulkanik hingga 40,000 kaki),” tulisnya dalam keternagan tertulis, Minggu (5/12/2021).

Dijelaskannya, berdasarkan observasi yang dilakukan, belum terdapat bandara maupun rute pelayanan navigasi penerbangan (ATS route) yang terdampak oleh erupsi Gunung Semeru.

Baca juga: Gunung Semeru Meletus, Sandiaga Uno Sampaikan Doa Menyentuh dari Hadits Rasulullah

“AirNav Indonesia merekomendasikan para pilot untuk melakukan update berkala terkait informasi terkini mengenai status dan perkembangan erupsi Gunung Semeru,” sebutnya.

Pihak AirNav Indonesia memastikan terus bersinergi erat dengan seluruh pihak terkait untuk menyampaikan status dan perkembangan terkini dampak erupsi Gunung Semeru khususnya terhadap sektor penerbangan.

Sebelumnya, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Budi Lelono mengatakan erupsi tersebut berkaitan dengan curah hujan tinggi di sekitar puncak gunung, sehingga menyebabkan runtuhnya bibir lava dan memicu erupsi.

"Kelihatannya memang ada kaitan dengan curah hujan tinggi, sehingga menyebabkan runtuhnya bibir lava itu, sehingga memicu adanya erupsi atau guguran awan panas," ujar Eko.

Erupsi Gunung Semeru tersebut, menurut Eko, bisa disebabkan oleh faktor eksternal yaitu curah hujan tinggi. Hal itu dinilai berdasarkan catatan kegempaan yang relatif rendah dan aktiviasi suplai magma dan material sejak November, dan mulai 1-3 Desember tidak mengalami perubahan signifikan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini