Tradisi Suku Mangbetu, Kepala Bayi Baru Lahir Diikat Agar Berbentuk Lonjong

Salwa Izzati Khairana, Jurnalis · Selasa 07 Desember 2021 12:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 06 406 2512778 tradisi-suku-mangbetu-kepala-bayi-baru-lahir-diikat-agar-berbentuk-lonjong-Vmp4ZffnCY.jpg Tradisi suku mangbetu (dok Rare Historical Photo)

 JAKARTA - Suku Mangbetu di bagian utara Kongo, Afrika Tengah memiliki tradisi kepala bayi baru lahir diikat agar berbentuk lonjong.

Sepintas kepala berbentuk lonjong atau kerucut ini mirip Alien, makhluk angkasa luar seperti dalam beberapa film fiksi ilmiah produksi Hollywood.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Okezone, tradisi membentuk kepala lonjong ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Tradisi ini diawali ketika bayi baru lahir lalu kepalanya dibungkus menggunakan kain agar membentuk sebuah kepala yang memanjang.

Baca Juga:

Ternyata Ini Penyebab Pesawat Kerap Alami Turbulensi, Jantung Serasa Mau Copot!

Rekomendasi 15 Oleh-Oleh Wajib Kamu Borong saat Pelesiran ke Blitar

Proses pengikatan itu berlangsung kurang lebih enam bulan. Saat kepala tumbuh lebih besar dari sebelumnya, ikatan kemudian diganti sampai kepala memanjang. Proses ini dianggap mampu meningkatkan rongga otak dan kecerdasan anak mereka.

Sementara gaya rambut suku Mangbetu dikembangkan lebih lanjut untuk menonjolkan bentuk kepala. Setelah sebagian besar rambut dikepang, sejumlah helai dijalin dengan terampil dengan jerami untuk memberikan bentuk silinder yang diikatkan ke kulit kepala dengan jarum. Hal ini dilakukan terus dalam beberapa tahun sampai mendapat bentuk sesuai keinginan.

Bagi suku Mangbetu, mengikat kepala ini merupakan simbol keindahan, keagungan, kekuatan, dan kecerdasan yang lebih tinggi. Sementara itu, kepemimpinan suku Mangbetu terkait dengan dua konsep, yaitu nataate dan nakira.

Nataate adalah kekuatan dinamis yang ada dalam diri seseorang dan membuatnya disegani oleh orang lain, sedangkan nakira adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam hampir semua usaha, terutama dalam hal menari, menyanyi, dan berbicara di depan umum. Keunggulan nataate dan nakira dipertimbangkan secara serius dalam pemilihan kepemimpinan sebagai penerus suku.

Selain itu, suku Mangbetu mencapai tingkat pengembangan teknologi dan material yang sangat tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh laporan awal dari penjelajah Eropa, Georg Schweinfurth pada tahun 1870.

Sebagian besar budaya material Mangbetu kemungkinan berasal dari orang-orang yang ditaklukkan, tetapi suku Mangbetu telah mendorong pengembangan semua seni masyarakat di bawah kendali mereka. Contoh kerajinan mereka termasuk rantai dan pisau yang ditempa dengan rumit dengan gagang gading berukir, dekorasi geometris tubuh, pot, tikar, dan rumah.

Meski begitu, praktik suku Mangbetu ini mulai menghilang pada tahun 1950-an, saat banyak orang Eropa yang berdatangan dan bagian dari westernisasi. Hal ini juga dipengaruhi oleh pemerintahan Belgia yang melarang praktik tersebut.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini