Uniknya Tradisi Kematian Suku Kajang, 40 Hari Dilarang Mandi Hanya Sarungan Tanpa Pakai Baju

Andin Nurul Alifah, Jurnalis · Rabu 08 Desember 2021 08:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 07 406 2513397 uniknya-tradisi-kematian-suku-kajang-40-hari-dilarang-mandi-hanya-sarungan-tanpa-pakai-baju-3Vv3uMpspy.JPG Masyarakat Suku Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan (Foto: Instagram/@asrullah.ai)

SUKU Ammatoa atau Kajang di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dikenal memiliki banyak tradisi unik.

Salah satunya ialah ketika mereka sedang berduka. Mereka punya tradisi hanya mengenakan sarung hitam tanpa pakai baju selama 40 hari.

Selama itu pula orang Suku Kajang tidak diperbolehkan mandi, apalagi mengganti sarung yang dikenakannya tersebut.

Oleh warga setempat, tradisi itu disebut Ikkarambi atau melilitkan sarung pada badan dan diikat pada dada sewaktu berada di dalam rumah.

Pada saat keluar rumah, mereka akan melakukan tradisi A’bohong. Di mana sarung dililit hingga bagian kepala seperti orang memakai kudung.

Masyarakat Kajang memang dikenal sangat teguh memegang tradisi mereka. Terdapat sejumlah larangan yang pantang untuk dilanggar oleh keluarga yang meninggal.

Baca juga: Mengenal Nganre Sassang, Budaya Suku Kajang Memberi Makan Bayangan

Salah satunya tidak boleh membawa cabai ke dalam rumah. Sebab diyakini memakan cabai di dalam rumah akan membuat orang yang meninggal 'kepanasan' di alam kubur.

Masyarakat Suku Kajang

(Foto: Instagram/@asrullah.ai)

Selain itu, keluarga yang berduka tidak boleh menyapu lantai, hanya boleh menggunakan pakaian untuk membersihkan rumah karena akan membuat badan orang yang meninggal konon menjadi bengkak.

Selain itu, adapula tradisi Ma'basing. Tradisi ini dilakukan setiap sepuluh hari setelah kematian hingga hari ke-100.

Mengutip laman budayaindonesia.org, Basing ialah alat musik mirip seruling yang terbuat dari bambu sepanjang 50 centimeter. Ia memiliki lima lubang dan bagian ujungnya terbuat dari tanduk kerbau.

Basing atau sering juga disebut Bulo' ini biasa dimainkan ketika salah satu warga Desa Adat yang meninggal dunia, Basing biasa dimainkan pada hari ke seratus setelah prosesi penguburan dan dimainkan semalam suntuk. Basing sendiri dimainkan dua orang sebagai peniup Bulo' dan dua lainnya menyanyi.

Baca juga: Sambangi Desa Wisata Ara Bulukumba, Sandiaga Uno Janji Hadirkan Bandara

Hari kematian dalam Suku Kajang sendiri diperingati selama 100 hari, di mana secara spesifik menjelaskan hari-hari tertentu yaitu;

Masyarakat Suku Kajang

(Foto: Instagram/@asrullah.ai)

- Hari pertama disebut juga hari Kamateang, yakni keluarga orang yang meninggal (almarhum) mendatangi rumah Ammatoa dan rumah seluruh Galla untuk diundang ke rumah orang yang meninggal (Appisse’).

Undangan disampaikan secara lisan, dan Ammatoa beserta Galla datang ke rumah dan diarahkan duduk berjejer. Di atas rumah tidak ada aktivitas makan ataupun minum, hal ini sebagai bentuk duka cita sedalam-dalamnya.

- Peringatan hari ketiga disebut Appasili, atau didinginkan (dibersihkan), semua alat-alat yang pernah almarhum gunakan dibersihkan supaya sosok almarhum tidak lagi 'terbayang-bayang' di dalam rumah.

Segala barang milik almarhum diambil, dikumpul, dan dipercik-percik daun khas Kajang, yakni daun dinging-dinging. Sebagai contoh kasur yang pernah dipakai tidur oleh almarhum, oleh keluarga dicuci di sungai dan dibawa pulang namun adapula yang sekaligus menghanyutkannya.

- Ritual hari kelima disebut hari Sa’la, makanan disajikan dan didoakan, masyarakat sekitar menyebutnya dibaca-bacai dan keluarga terdekatpun berkumpul dalam rumah tersebut.

Kampung Suku Ammatoa Kajang

(Foto: Instagram/@asrullah.ai)

- Hari ke-10 disebut Nialle Banngina, tetangga atau orang-orang sekitar membawa makanan ke rumah duka. Saat itu juga dimainkan permainan seruling yang oleh masyarakat lokal disebut Basing sebagai pengiring kesedihan.

- Sedangkan pada peringatan hari ke-100, diiringi ritual pemotongan kerbau. Pemotongan seekor kerbau disebut Nilajo-lajo. Jika dua ekor dinamakan Nidampo’.

Pada upacara ini disediakan pula makanan seperti songkolo, kue merah (Dumpi Eja), Ruhu’-ruhu’ (lazim disebut bannang-bannang). Pada peringatan ke-100 hari inilah Ammatoa dengan Galla-nya diundang ke acara tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini