Share

Tradisi Suku Yamomami Makan Abu Orang yang Meninggal

Lina Sharfina, Jurnalis · Jum'at 10 Desember 2021 05:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 09 406 2514293 tradisi-suku-yamomami-makan-abu-orang-yang-meninggal-MrpOXYDD1M.jpg Suku Yamomami di Selatan Venezuela (dok REUTERS/CARLOS GARCIA)

JAKARTA - Ada berbagai macam budaya di seluruh dunia yang tampak aneh bagi rata-rata manusia modern, tetapi bagi orang-orang dari budaya seperti itu, kebiasaan mereka biasa saja karena sudah menjadi tradisi yang turun temurun. Satu di antaranya tradisi Suku Yamomami yang mengonsumsi abu orang yang meninggal dunia.

Dikutip Okezone dari laman historyofyesterday.com, Suku Yamomami terdiri dari 35.000 penduduk asli yang menempati perbatasan antara Brasil dan Venezuela.

Suku Yanomami tinggal di gubuk berbentuk oval yang disebut Shabono atau Yanos. Setiap gubuk biasanya menampung sekitar 50–400 orang.

Gubuk tersebut terbuat dari batang pohon, daun, dan bahan mentah lainnya yang berasal dari hutan hujan, dan dibangun kembali setiap empat hingga enam tahun jika rusak karena hujan lebat atau angin.

Baca Juga:

Cerita Horor Pendaki Semeru, Merasa Digandeng Hantu hingga Suara Jeritan Minta Tolong

Insinyur Inggris Ungkap Teori Baru Lenyapnya MH370, Pilot Sengaja Sandera Penumpang?

Suku ini menerapkan kesetaraan karena mereka tidak memiliki kepala suku. Sebaliknya, pengambilan keputusan biasanya dilakukan dengan musyawarah.

Ketika laki-laki dan perempuan pergi memancing, laki-laki kebanyakan berburu, namun, mereka tidak diizinkan untuk makan daging yang mereka bunuh sendiri melainkan hanya makan daging yang dibunuh oleh pemburu lain. Sedangkan para wanita melakukan kegiatan berkebun dan bertani.

Dalam budaya Yanomami, kematian bukanlah sesuatu yang dilihat sebagai kejadian alami, melainkan mereka percaya jika penyebab kematian karena roh jahat atau serangan spiritual dari musuh mereka.

Suku Yanomami meyakini bahwa roh orang yang sudah meninggal dunia dapat beristirahat dengan tenang, jika tubuh jenazah dibakar dan dimakan oleh kerabat yang masih hidup. Untuk itu, mereka melakukan upacara adat untuk kremasi jenazah.

Sisa abu dan tulang bekas kremasi akan dimasak bersama dengan pisang fermentasi menjadi sebuah sup. Makanan lokal yang kerap disajikan sebagai hidangan duka ini akan diberikan kepada semua pelayat.

Untuk memakannya juga tak boleh sembarangan. Apabila jenazah meninggal dunia akibat dibunuh oleh musuh dari suku lain, maka hanya wanita saja yang akan memakan sup tersebut. Selain itu, mereka hanya diizinkan makan makanan tersebut saat malam hari, ketika Suku Yanomami melakukan balas dendam terhadap tersangka.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini