Share

Mengenal Sejarah Tari Kecak Bali yang Mendunia dan Filosofi di Baliknya

Kevi Laras, Jurnalis · Minggu 19 Desember 2021 16:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 19 406 2519284 mengenal-sejarah-tari-kecak-bali-yang-mendunia-dan-filosofi-di-baliknya-d2XgNNZpj2.JPG Tari Kecak Bali yang mendunia sarat filosofi (Foto: Instagram/@tarikecak)

BALI dikenal dengan seni dan budayanya yang khas. Salah satu karya seni khas Pulau Dewata ialah tari kecak. Tari Kecak atau yang dikenal tari cak merupakan tarian daerah asal Bali.

Kesenian ini jadi pertunjukan hiburan massal yang menggambarkan seni peran atau drama yang tidak diiringi oleh alat musik atau gamelan.

Hanya diiringi oleh paduan suara sekelompok penari laki-laki yang berjumlah sekitar 50 sampai 150 orang yang berbaris melingkar memakai kain penutup kotak-kotak.

Tarian ini sakral karena adanya penari diyakini memiliki kekebalan dan mempan terbakar api. Para penari diduga kerasukan roh halus saat melakukannya.

Tari Kecak Bali sudah diciptakan sejak tahun 1930 oleh Wayan Limbak. Ia telah mempopulerkan seni ini ke mancanegara dengan bantuan Walter Spies, pelukis asal Jerman. Keunikan seni ini terletak pada iringan tarian itu sendiri yang para penari laki-laki yang menari akan meneriakkan kata 'cak cak cak'.

Baca juga: Ketika Penari Gunakan Masker di Pentas Tari Kecak Uluwatu

Tari Kecak Bali

(Foto: Kemenparekraf)

Gerakan tangan para penari ketika menari berasal dari sebuah cerita Ramayana. Lebih tepatnya menceritakan tentang Dewi Shinta yang diculik oleh Rahwana ketika rama sedang berburu di hutan.

Pada tarian ini, kisah penculikan Dewi Shinta hingga pembebasannya ditunjukkan hingga akhir cerita. Adapun makna tari kecak yang terkandung yakni;

Bernilai seni tinggi

Walaupun tarian ini tidak diiringi oleh musik atau gamelan, tetapi Kecak masih tetap terlihat kompak dan indah. Gerakan yang dibuat para penarinya bisa tetap seirama. Itulah yang membuatnya bernilai seni tinggi dan disukai oleh para turis.

Mengandalkan kekuatan Tuhan

Dalam alur cerita, ada adegan di mana Rama meminta pertolongan kepada Dewa. Hal ini membuktikan bahwa Rama percaya bahwa Tuhan bisa menolong dirinya.

Seni ini juga dipercaya sebagai salah satu ritual untuk memanggil Dewi yang bisa mengusir penyakit dan melindungi masyarakat dari kejahatan. Dewi tersebut adalah Dewi Suprabha atau Tilotama.

Pesan moral

Salah satu pesan moral yang disampaikan adalah kesetiaan Shinta pada suaminya Rama. Juga burung Garuda yang rela mengorbankan sayapnya demi menyelamatkan Shinta dari cengkeraman Rahwana.

Manusia juga diajarkan agar tidak memiliki sifat buruk seperti Rahwana yang serakah dan suka mengambil milik orang lain secara paksa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini