Share

Mengenal Tradisi Balapen, Cara Unik Keluarga Papua Rayakan Natal

Wilda Fajriah, Jurnalis · Kamis 23 Desember 2021 09:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 22 406 2520812 mengenal-tradisi-balapen-cara-unik-keluarga-papua-rayakan-natal-cZF5yDFeW8.jpg Ilustrasi natal (dok Freepik)

JAKARTA - Setiap masyarakat pasti punya ciri khas tersendiri dalam merayakan Natal sesuai dengan kebudayaannya masing-masing. Enggak terkecuali masyarakat Papua, mereka punya cara unik yang dilakukan setiap 25 Desember ini.

Ya, masyarakat Papua punya cara unik untuk merayakan Natal yang juga disebut dengan tradisi Barapen.

Mengutip akun Instagram resmi Kemenparekraf, Barapen merupakan tradisi memasak dan mengolah makanan khas Papua sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.

Baca Juga:

Balas Dendam Karena Anaknya Mati Diserang, Monyet Membantai 250 Anjing di India

Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Banjir, Cek 4 Fakta Terbarunya

Mereka menggunakan batu yang dibakar hingga membara. Bahan makanan yang biasa diolah antara lain adalah umbi-umbian, sayur-sayuran, dan juga daging.

Tradisi Barapen ini telah berlangsung selama ratusan tahun.

Konon, proses ini ditemukan dari ketidaksengajaan sepasang suami istri yang kebingungan karena tidak memiliki peralatan masak yang memadai.

Dari situlah tercetus ide untuk menjadikan batu sebagai media pengolah makanan yang ternyata dapat menghasilkan cita rasa khas. Hal ini dipertahankan dan menjadi tradisi yang berlangsung secara turun-temurun hingga hari ini.

Ketika pelaksanaan tradisi Barapen tiba, masyarakat akan melakukan persiapan pada pagi buta. Kemudian, kepala suku akan berkeliling mengundang semua warga dengan pakaian adat mereka.

Selanjutnya, mereka pun melakukan perburuan babi atau hewan lainnya. Sebagian orang pun akan memproses hewan tersebut hingga siap dimasak. Sementara yang lain akan menyiapkan batu bakar sambil menari.

Batu yang digunakan merupakan batu yang kokoh, sehingga tidak mudah hancur ketika disusun. Sebelum digunakan, batu dibakar terlebih dahulu. Proses ini memakan waktu sekitar 2-4 jam.

Kemudian, batu disusun berselang bersama kayu sampai bertumpuk dan siap dibakar dengan api panas. Setelah membara, batu dipindahkan ke dalam lubang yang telah berisikan makanan.

Usai makanan matang, agenda dilanjutkan dengan acara makan bersama yang diawali oleh kepala suku dan diikuti oleh seluruh warga. Setelah makanan habis, warga menari dengan iringan lagu daerah mereka.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini