Share

Gerbang Neraka di Turkmenistan Akan Ditutup, Ini Alasannya

Denisa Aisyah, Jurnalis · Selasa 11 Januari 2022 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 10 408 2529942 gerbang-neraka-di-turkmenistan-akan-ditutup-ini-alasannya-VKzyNoKr0s.jpg Gerbang Neraka (dok AFP Photo/Igor Sasin)

PRESIDEN Turkmenistan Gurbanguly Berdymukhamedov meminta para ahli untuk menemukan cara memadamkan lokasi api besar berusia lima dekade di kawah gas alam raksasa di negara Asia Tengah. Lokasi ini seringkali yang dijuluki Gerbang Neraka.

Melansir News.com.au, Presiden Turkmenistan mengatakan permintaan tersebut pada Sabtu lalu, 8 Januari 2022.

Sebelumnya, Berdymukhamedov juga memerintahkan para ahli untuk menemukan cara memadamkan api yang telah berkobar sejak operasi pengeboran Soviet di Turkmenistan itu gagal pada 1971.

Presiden Berdymukhamedov mengatakan bahwa kawah buatan manusia itu berdampak negatif baik terhadap lingkungan dan kesehatan orang-orang yang tinggal di dekatnya.

"Kami kehilangan sumber daya alam yang berharga yang mana kami bisa mendapatkan keuntungan yang signifikan dan menggunakannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kami," terangnya.

Berdymukhamedov menginstruksikan para pejabat untuk menemukan solusi untuk memadamkan api tersebut.

Seperti diketahui, menurut ahli geologi Turkmen Anatoly Bushmakin, situs ini diidentifikasi oleh para insinyur Uni Soviet pada tahun 1971.

Kawah yang dibuat selama kecelakaan pengeboran Soviet yang menghantam gua gas itu, menyebabkan rig pengeboran jatuh dan tanah runtuh di bawahnya.

Khawatir gas beracun berbahaya menyebar ke kota-kota terdekat, para insinyur berpikir bahwa cara terbaik untuk menghentikannya adalah dengan membakar habis gas tersebut.

Sebelumnya diperkirakan gas tersebut akan terbakar habis dalam beberapa minggu, namun justru terus menyala selama lima dekade hingga saat ini.

Lubang itu telah terbakar sejak itu dan upaya sebelumnya untuk memadamkannya tidak berhasil.

Kawah yang dihasilkan, lebar 70 meter dan kedalaman 20 meter, merupakan daya tarik wisata populer di negara bekas Soviet tersebut.

Pada tahun 2018, presiden secara resmi mengganti namanya menjadi "Shining of Karakum".

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini