Menengok Kafe di Malang Bernuansa Klasik Eropa Jawa dengan Kopi Khas Belanda

Avirista Midaada, Jurnalis · Rabu 12 Januari 2022 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 11 301 2530380 menengok-kafe-di-malang-bernuansa-klasik-eropa-jawa-dengan-kopi-khas-belanda-aCgJO6Oge2.jpg Kafe di Malang Bernuansa Klasik Eropa Jawa (MPI/Avirista Midaada)

KOTA MALANG - Nuansa Belanda dan Eropa langsung menyambut setiap pengunjung di sebuah kedai kopi. Ya kedai kopi bernama Huize Jon Coffe di Jalan Majapahit, Kota Malang ini memang mengusung perpaduan antara Eropa khususnya Belanda, dengan kebudayaan Jawa.

Sejumlah benda antik menjadi suguhan saat memasuki area kedai kopi. Sepasang patung orang berpakaian Jawa menyambut pengunjung setibanya di kedai kopi. Masuk ke ruang tengah kedai kopi sebuah tulisan berbahasa Belanda besar menyambut setiap pengunjung yang datang.

"Hartelijk Welkom on Malang. Huize Djon Geschickt Voor Het Maken Van Mooie Uitstapjes Gezzelige Sfeer Voor Iedere Gast," begitu tulisan dari sebuah bahasa Belanda yang terlihat. Tulisan ini memiliki arti Selamat datang di Malang dengan sesungguhnya. Rumah Jon cocok untuk membuat suatu perjalanan atau singgahan suasana yang nyaman untuk tamu.

Di dalam area kedai kopi nuansa klasik Eropa dengan dipadukan Jawa, tampak terlihat lebih jelas. Ornamen - ornamen dan benda-benda kuno Eropa dan Jawa, mulai jam dinding klasik buatan Jerman berusia 75 tahun lebih, televisi, radio kuno, aneka wayang kulit, foto klasik, hingga ukiran kuno terpampang di bagian dalam kafe.

infografis

Baca Juga:

Fosil 'Naga Laut' yang Hidup 90 Juta Tahun Lalu Ditemukan di Sebuah Waduk

Menilik Kereta Cepat Pertama Asia Tenggara, Kecepatan Capai 160 Km per Jam

Nuansa Belanda kian terasa dengan tulisan berbahasa lagi di sisi utara dalam kafe 'Uitsmijter Toast' yang berarti Uitsmijter adalah nama khas sandwich Belanda, sedangkan toast berarti roti panggang.

Pemilik kedai kopi Jon Alif mengungkapkan, sengaja mendesain sedemikian rupa kafenya dengan perpaduan budaya Belanda Eropa dengan Jawa berkonsep heritage.

"Konsepnya mempertahankan kekuatannya dari sisi budaya heritage, kita perpaduan antara Eropa, Jawa, kita mempertahankan nilai-nilai sejarah," ucap Jon Alif, saat ditemui MNC Portal.

Faktor pemahaman budaya Belanda dan Eropa, membuat tulisan berbahasa Belanda demi menyosialisasikan budaya dan menarik pengunjung. Tak hanya itu, tulisan-tulisan ini juga beberapanya dapat menarik wisatawan mancanegara, khususnya dari Belanda.

malang

"Selamat Datang dengan sesungguhnya di Malang. Artinya ini memang sangat sopan dan polaid, dan kita terbuka terhadap mereka. Biasanya cukup dengan welcome tapi kita tambah dengan Hartelijk. Kita sungguh-sungguh welcome datang ke Malang, hartelijk itu artinya sungguh-sungguh, artinya kita membuka dengan sesungguhnya," bebernya.

Menurutnya, sejak lama ia menyukai budaya dan sejarah, serta berusaha memperkenalkan sejarah dan budaya, baik dari Jawa maupun Belanda. Kecintaannya terhadap budaya kian tinggi setelah dirinya sempat belajar bahasa dan kebudayaan hingga ke negeri Belanda di tahun 1993.

"Karena jatuh cinta pada Indonesia, sejarah Indonesia, dimana ini nilai-nilai sejarah yang harus kita pertahankan. Dimana kalau kita ingat sejarah pasti kita akan mengingat leluhur kita, mengingat bangsa kita. Jadi kita tetap harus pertahankan, dan harus kita edukasi kan kepada anak-anak bangsa dengan sejarah ini," paparnya.

Pak Jon, sapaan akrabnya bercerita bila awalnya ia membuat jasa penyediaan layanan perjalanan travel bagi para turis asing dan domestik. Dari sanalah kemudian, pria berusia 54 tahun berkembang membuat sebuah kafe dan hostel bagi para pelancong dengan budget rendah.

infografis

Baca Juga:

Rasakan Sensasi Naik Kapal Pesiar Super Mewah, Ini Fasilitas yang Bisa Dinikmati

 Ilmuwan Jelajahi Gletser 'Kiamat' Antartika, Hasilnya Bikin Cemas Penduduk Bumi

"Saya memang pemandu bahasa Belanda dan bahasa Inggris, juga sempat tahun 1993 ke Belanda, belajar bahasa dan budaya Belanda. Kemudian saya menjadi pemandu wisata, mendirikan Bromo tour holiday dan Malang tourist information center. Berkembang menjadi kopi, sebenarnya satu kesatuan, antara Huize Jon Coffe and hostel," jelasnya.

Tak pelak kecintaannya terhadap budaya dan sejarah menjadikan nuansa kafenya dihiasi benda-benda antik baik peninggalan Jawa maupun Eropa, yang didapatnya dari beberapa orang.

"Banyak hibah, warisan, kalau koleksi nggak. Tapi ini memang banyak dari saudara, teman, orang tua, sebenarnya barang ini kita hanya merawat dan peduli dengan barang ini. Jam yang tertua sebelum ada orang tua sudah ada jam itu. Jam dinding paling tua, kenang - kenangan dari orang tua, memang di uri-uri. Sebelum saya lahir itu sudah ada, bikinan Jerman, nggak tahu asal-usulnya, bapak saya suka jam, bisa servis jam bapak saya memodifikasi jam," terangnya.

Berkunjung ke kafe ini, anda juga dapat mencicipi menu makanan khas yang biasa disantap orang Eropa dan Belanda zaman dahulu.

Tak ketinggalan aroma kopi wine yang merupakan hasil fermentasi selama 5 - 6 bulan, jadi citra dan kopi khas Belanda bernama Koffie Met Slagroom. Menu - menu ini bisa anda dapat nikmati dengan harga terjangkau mulai 6 ribu untuk kopinya hingga 22 ribu, untuk kopi wine hasil fermentasi yang dingin.

"Winenya original, proses natural dimana aroma dan taste rasanya dari original kopi atau kopi Cherry, kalau kopinya robusta. Artinya yang matang proses fermentasinya, disimpan, dikeringkan sampai dia kering, disimpan 5 - 6 bulan, baru bisa diroasting. Makanya petani akan mendapatkan untung lebih karena berinovasi, bagaimana pendapatan biar meningkat, dan rasa kopinya juga beda," ungkapnya.

Citra rasa aroma wine cukup terasa bila anda mencicipi kopi wine ini. Namun dipastikan wine yang dimaksud di sini bukanlah wine yang memabukkan, melainkan berdasarkan fermentasi alami dari buah cherry. Maka tak heran, rasa buah cherry dipadukan dengan kopi begitu kental dan jadi suguhan bagi penikmat kopi.

Kopi wine ini juga bisa disajikan dengan dingin, namun rasanya tentu berbeda mengingat bila dingin lebih terasa manis. Sementara untuk Koffie Met Slagroom merupakan kopi khas Belanda yang juga biasa dinikmati para tamu.

Anda juga harus menikmati suguhan spesial jajanan yang dihidangkan bersama dengan kopi. Jajanan bernama speculas ini dulunya menjadi makanan para kolonial Belanda di masanya. Dimana speculas merupakan makanan kering dengan campuran rempah-rempah antara lain kayu manis, yang membuat rasa makanan tampak pedas.

"Speculas itu kita bikin sendiri, khasnya sini biar ada ciri khasnya Malang. Kita namai speculas Malang. Sebenarnya resep ini pada zaman dahulu orang Eropa kalau membuat kukis masakan, atau minuman selaku ada rempah. Maka rempah-rempah di Indonesia dibawa ke Eropa di sana, diolah beberapa macam olahan termasuk kukis jajanan minuman. Jadi kayu manis itu bisa diolah menjadi macam-macam jenis makanan minuman di sana," katanya.

"Jadi untuk campuran - campuran aroma - aroma makanan minuman khas Eropa, ini khas. Zaman dahulu minum kopi gandengan speculas orang eropa. Kalau orang Jawa zaman dahulu minum kopi bersanding dengan gula Jawa minum kopi pahit, camilannya gula Jawa," imbuhnya.

Ia pun tak segan juga mengajak pengunjung belajar sejarah dan bahasa Belanda, sambil meminum kopi yang khas. Tak heran bila kekhasan kafe tersebut menjadikan banyak turis mancanegara dan domestik luar Malang yang ingin tahu sejarah Malang.

Bahkan disebut Jon, sebelum pandemi Covid-19 melanda hampir 75 persen tamu dan pengunjung kafenya berasal wisatawan mancanegara, sedangkan sisanya 25 persen berasal dari wisatawan domestik.

"Banyak nggak ngitung, karena Malang ini pintu masuknya tamu-tamu asing yang di sini njenengan ribuan orang yang masuk mau lokal dan asing," kata dia.

Sayang semenjak Covid-19 merebak, dirinya harus dituntut kreatif dengan memanfaatkan memasarkan produk dan menawarkan paket wisata sejarah Malang, kepada turis domestik, yang berminat.

"Kita membuat program-program yang menarik, seperti Malang heritage. Saya juga membuat satu program edukasi wisata, sejarah kota Malang, dengan murah harga Rp 25 ribu mereka bisa menikmati jalan-jalan dengan Mendapatkan pengetahuan yang lengkap mengenai sejarah Kota Malang masih sampai sekarang, tamu-tamu dari luar kota, Jakarta, Surabaya, yang memang khusus datang jalan-jalan di kota malang dan kepengen naik Jeep terbuka, dengan mendapatkan banyak cerita," jelasnya.

Tertarik berkunjung ke kafe bernuansa Belanda ini, anda dapat mencatat jam operasional kafe mulai pukul 11.00 - 24.00 WIB. Namun operasional kafe sewaktu-waktu berubah menyesuaikan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kini dengan perlahan sejumlah pelonggaran - pelonggaran pembatasan mobilitas membuat kafe nuansa Belanda-nya kembali bergeliat. Apalagi saat ini tur keliling kota dengan menggunakan jeep terbuka mulai ramai peminat. Dirinya berharap kondisi perekonomian mulai pulih dan pengunjung kafenya kembali meningkat.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini