Kisah Tragis Ratu Thailand, Tewas Tenggelam Jadi Tontonan karena Aturan Konyol Kerajaan

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 14 Januari 2022 12:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 13 406 2531526 kisah-tragis-ratu-thailand-tewas-tenggelam-jadi-tontonan-karena-aturan-konyol-kerajaan-qoxBsogima.JPG Ratu Thailand, Sunandha Kumariratana (Foto: Wikimedia Commons)

SUNANDHA Kumariratana, lahir pada 10 November 1860. Ia merupakan putri Rama IV, atau Raja Mongkut, dan permaisurinya, Piam. Siam, kini lebih dikenal dengan nama Bangkok, Thailand.

Para raja Siam biasanya memiliki harim atau pendamping seperti istri dan selir, dan karena itu, mereka cenderung memiliki lusinan anak, seperti yang dicontohkan dalam novel Anna and the King dan film The King and I. King Mongkut memiliki 82 anak.

Saat remaja, Sunandha menikah dengan Rama V, yang kemudian dikenal sebagai Raja Chulalongkorn dan menjadi permaisuri, yang berarti bahwa dia memegang semua gelar formal yang terkait dengan raja tetapi tidak memiliki kekuatan militer atau politiknya.

Kisah Rama V dan Ratu Sunandha

Rama V menikahi Sunandha saat masih remaja. Bersama-sama mereka memiliki seorang putri, Putri Karnabhorn Bejraratana.

Ketika permaisuri berusia 19 tahun, dia hamil lagi dan percaya bahwa anaknya laki-laki. Sebagai laki-laki, dia akan berdiri untuk mewarisi takhta Siam.

Baca juga: Dina Sanichar, Bocah Lelaki yang Diasuh Kawanan Serigala hingga Kesulitan Berdiri Tegak

Infografis Suku Kanibal

Saat hamil, dia melakukan perjalanan untuk mengunjungi kediaman keluarga kerajaan, Bang Pa-In, yang terletak di luar Bangkok.

Raja tidak menyisihkan biaya untuk memastikan bahwa itu tetap menjadi tempat yang luar biasa bagi keluarga untuk menemukan kelonggaran dari tantangan menjalankan sebuah negara.

Untuk mencapai istana, permaisuri dan putrinya harus menyeberangi Sungai Chao Phraya yang berubah-ubah dan bergejolak dan merupakan terbesar di Siam.

Para penjaga yang mengawal, menaikkan mereka ke atas perahu yang terpisah. Diduga karena status mereka yang sangat tinggi sehingga mereka tidak dapat melakukan perjalanan dengan perahu biasa yang diseret oleh perahu yang lebih besar menyeberangi sungai.

Namun, arus kuat seringkali terjadi di sungai itu. Entah dari mana datangnya, arus tiba-tiba saja menggulung hebat dan menyebabkan kapal kerajaan yang ditumpangi Ratu Sunandha terbalik. Permaisuri yang sedang hamil dan putri kecilnya berusia dua tahun pun terlempar ke sungai.

Tragisnya, para pengawal kerajaan justru hanya menonton dan membiarkan sang ratu dan anaknya ditelan arus sungai.

Bukan tak mau menolong, mereka khawatir dan tidak berani menyentuh anggota kerajaan karena status sosial mereka yang kelewat tinggi.

Baca juga: Marie Fikackova, Perawat Sadis yang Membunuh 10 Bayi karena Kesal Dengar Tangisannya

Saat itu memang berlaku aturan rakyat jelata dilarang menyentuh anggota kerajaan, termasuk Ratu Sunandha.

Bahkan rakyat yang hendak menolong sang ratu pun dicegah oleh pengawal dan diancam hukuman mati jika berani menyentuh fisik anggota kerajaan tersebut. Hukuman akan dijatuhkan bagi siapapun yang nekat menyentuh fisik bangsawan. Sekalipun anak putri Sunandha yang masih dalam kandungan. Sungguh miris!

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini