Share

Viral Rumah di Karimunjawa Dijual ke WNA, Warga: Kami Bisa Tersisih dari Kampung Sendiri

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 19 Januari 2022 04:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 18 406 2533723 viral-rumah-di-karimunjawa-dijual-ke-wna-warga-kami-bisa-tersisih-dari-kampung-sendiri-fwHE5Wh4PT.JPG Pulau Karimunjawa (Foto: Instagram/@ekoyulist)

SEBUAH iklan penjualan rumah di Pulau Karimunjawa kepada warga negara asing (WNA) yang beredar di media sosial menuai kontroversi. Iklan tersebut diposting oleh sebuah perusahaan bernama PT Levels Hotels Indonesia atau 'The Start Up Island'.

Melansir laman BBC Indonesia, yang diperoleh dari situs PT LHI, harga rumah di The Start Up Island dibanderol seharga 49.500 Euro atau Rp800 juta.

Sejauh ini, proyek The Start Up Island yang diinisiasi oleh seorang warga negara Spanyol mengklaim telah menjual 170 rumah dalam kurun 8 bulan.

Permukiman tersebut masih dalam tahap pembangunan di atas lahan seluas 35.000 meter persegi, di pinggir pantai di Pulau Karimunjawa.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar, mengatakan, PT LHI memiliki hak guna bangunan atas tanah tersebut.

Baca juga: Wisatawan ke Karimunjawa Wajib Tunjukkan Hasil Rapid Test Antigen

"Dan tidak ada rencana pengalihan hak dari PT tersebut ke pembeli, karena bangunan hotel atau resort tersebut tidak dijual, tetapi disewakan secara jangka pendek atau jangka panjang," kata Ary.

Iklan Penjualan Rumah Warga di Pulau Karimunjawa

(Foto: Twitter)

Sementara, iklan itu menawarkan target pasarnya membeli residensial premium di 'pulau surgawi di Indonesia' yang dilengkapi akses langsung ke pantai, beach club, gym, dan sejumlah fasilitas mewah lainnya.

Postingan iklan itu memantik kegeraman pengguna Twitter. Mereka khawatir kehadiran residensial mewah itu akan memicu gentrifikasi dan membuat warga lokal menjadi tamu di tanahnya sendiri.

Isu gentrifikasi ini juga sempat mengemuka di media sosial pada tahun lalu, ketika seorang warga negara Amerika Serikat bernama Kristen Gray mempromosikan bagaimana dia bisa tinggal secara nyaman dan murah di Bali melalui e-book berjudul 'Our Bali Life is Yours'.

Beberapa pengguna media sosial juga mempertanyakan aspek legalitas dari kepemilikan rumah oleh warga negara asing (WNA).

Seorang warga Desa Kemujan, Karimunjawa, Bambang Zakaria mengungkapkan, kehadiran orang asing yang menetap dengan kemewahan dan dunia mereka sendiri akan memunculkan sebuah lingkup sosial baru yang tidak mungkin bisa menyatu dengan masyarakat lokal.

Menurut Bambang yang sehari-hari melaut sembari mengurus penginapan milik keluarganya, situasi yang tercipta dengan residensial mewah akan berbeda dengan kehadiran wisatawan.

"Selama ini banyak wisatawan Eropa ke sini untuk berwisata, kami terpercik (secara ekonomi). Tapi ketika itu menjadi hunian, budaya kami, adat istiadat kami pun lama-lama akan tergeser," kata Zakaria mengawali cerita.

Turis Asing

(Foto: Antara)

"Mereka kan punya budaya sendiri, nanti akan muncul dua budaya. Mereka enggak akan bisa kami ajak kumpulan, enggak bisa ajak musyawarah," sambung pria 54 tahun ini.

Kekhawatiran itu semakin menguat karena banyak tanah di wilayah Karimunjawa kini telah dimiliki oleh orang-orang luar, yang bukan warga lokal. Menurut Zakaria, bukan tidak mungkin ke depannya akan muncul residensial mewah serupa seperti The Start Up Island. Ia lantas meyakini pada titik itu, kelak warga lokal tidak akan mampu mengimbanginya.

"Lama-lama ini akan jadi 'kampung bule', karena bagi mereka tanah di sini itu katanya murah. Kami akan tersisih, akhirnya pergi dari kampung kami sendiri," tuturnya.

Warga sendiri sampai saat ini belum mendapat sosialisasi langsung terkait pembangunan residensial itu. Menurut Bambang, informasi yang mereka dapat justru datang dari media sosial.

Padahal, konstruksi pembangunan The Start Up Island sudah mulai berjalan. Pantai yang berada tepat di depan area pembangunan itu bahkan telah dipagari, membuat warga tidak bisa lagi melintas di depannya.

"Dulu pantai di sepanjang pantai barat Pulau Karimun itu kami gunakan untuk menanam rumput laut, aktivitas kita di situ lalu lalang lah, juga jadi area penggembala. Setelah dipagar ya sudah betul-betul enggak bisa," keluhnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini