Share

Aneh, Hotel Megah Ini Tidak Pernah Punya Tamu Sejak Pertama Kali Dibangun

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 19 Januari 2022 22:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 18 406 2534000 aneh-hotel-megah-ini-tidak-pernah-punya-tamu-sejak-pertama-kali-dibangun-xuL6WMy7Ti.jpg Ilustrasi hotel (dok freepik)

JAKARTA - Mendengar kata hotel, pasti yang terlintas di benak kita adalah tempat menginap dengan beragam fasilitas yang bisa memanjakan para tamunya. Akan tetapi, gambaran itu sepertinya sangat tidak cocok untuk hotel yang satu ini.

Bagaimana tidak, hotel Ryugyong yang terletak di Pyongyang Ibukota Korea Utara ini adalah hotel paling sepi di dunia. Jika dilihat dari bentuk bangunannya, rasanya terlihat baik-baik saja. Jelas saja, hotel bernuansa biru ini memiliki bentuk menyerupai piramida yang cantik.

Tinggi bangunan hotel ini adalah 330 meter yang terbagi menjadi 105 lantai. Kabarnya, hotel ini memiliki 3.000 kamar. Enggak cuma menyediakan kamar tamu, kabarnya hotel ini juga direncanakan punya fasilitas klub malam, arena bowling, dan 5 restoran bertaraf internasional.

infografis

Baca Juga:

Catat! Ini 6 Tips Traveling Keliling Dunia Sesuai Budget

Bokong Pria Ini Ditikam saat Menunggu Kereta, Pelaku Lenyap Tanpa Jejak

Tetapi, kenyataannya hotel ini malah menjadi bangunan misterius. Hal itu terjadi karena hotel ini tidak pernah memiliki tamu sejak dibangun pada 1987. Bukan tanpa sebab sepinya hotel ini lantaran Korea Utara sebagai salah satu negara komunis yang tidak mengizinkan wisatawan asing bebas berlibur ke negaranya.

Jika melihat kilas balik, ternyata hotel Ryugyong lahir dari perang dingin antara Korea Selatan yang saat itu didukung Amerika Serikat dan Korea Utara yang didukung Uni Soviet. Korea Utara ikut berencana melakukan pembangunan ketika Korea Selatan berpartisipasi dalam proses pembangunan Swissotel The Stamford, hotel terbesar di dunia yang dibangun di Singapura pada 1980-an.

Korea Utara terlihat berencana mencuri record sebagai pemilik hotel terbesar di dunia. Saat itu Korea Selatan juga sedang bersiap-siap menjadi tuan rumah olimpiade musim panas 1988. Korea Utara pun merasa terluka. Mereka tidak mau kalah popularitas dan ikut menyelenggarakan festival pemuda dan pelajar dunia pada 1989.

Pada 1987, pembangunan hotel pun dimulai. Pemimpin Korea Utara yang menjabat saat itu Kim Il Sung memiliki ambisi untuk menjadikan Korea Utara sebagai destinasi kasino terbesar di dunia. Namun sayangnya pembangunan hotel mangkrak di tengah jalan. Pada 1990, Korea Utara berada dalam posisi lemah setelah Uni Soviet kalah perang.

Fokus pembangunan hotel pun terpecah karena pemerintah harus memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya. Rencana peresmian hotel di 1992 pun hanya jadi angan-angan semata. Setelah 18 tahun berlalu, ternyata semangat Korea Utara untuk melanjutkan pembangunan masih membara.

Dibantu oleh perusahaan Orascom, proyek hotel pun selesai tepat di perayaan ulang tahun ke 100 Kim Il Sung pada tahun 2012. Biaya pembangunan hotel yang dikeluarkan pun tak main-main, yakni sekitar USD595 juta. Tapi siapa sangka, ternyata interior hotel tak secantik eksteriornya.

Bagian dalam hotel dikabarkan hanya memiliki tangga dan pilar-pilar beton saja. Hotel pun dibiarkan terbengkalai. Kabar akan dibukanya hotel ini beberapa kali berhembus kencang. Tapi ternyata bukan dibuka sebagai penginapa, hotel dipasang LED dan diselenggarakan pertunjukan cahaya.

Pertunjukan itu digelar selama 4 menit memperlihatkan sejarah Korea Utara, berbagai tulisan slogan politik, dan gambar bendera Korea Utara. Sampai hari ini, hotel tersebut masih menjadi hotel yang tidak memiliki tamu. Untuk itu, hotel ini dijuluki sebagai hotel of doom atau bangunan terburuk dan hotel kiamat.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini