Share

Kisah Ninja Terakhir Jepang, Bisa Menghilang dan Membunuh dalam Sekejap dari Jarak 20 Langkah

Intan Afika Nuur Aziizah, Jurnalis · Rabu 19 Januari 2022 10:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 18 406 2534227 kisah-ninja-terakhir-jepang-bisa-menghilang-dan-membunuh-dalam-sekejap-dari-jarak-20-langkah-FDhqkIqr6i.jpg Jinichi Kawakami, ninja terakhir Jepang (AFP/Getty Images/Daily Mail)

KISAH Jinichi Kawakami, ninja terakhir di Jepang sempat menjadi sorotan. Ya, ninja bukan hanya sekadar cerita fiksi, melainkan memang benar adanya di Jepang, salah satunya adalah Jinichi Kawakami.

Dia adalah kepala klan Ban ke-21, sebuah dinasti mata-mata rahasia sekitar 500 tahun. Kawakami telah dilatih untuk mendengar jarum yang terjatuh di kamar sebelah, menghilang dalam kepulan asap, dan memotong tenggorokan korban dari jarak 20 langkah.

Baca juga: Mengenal Festival Ehomaki, Makan Sushi Tebal Berisi 7 Bahan yang Bawa Hoki

"Saya pikir saya disebut (ninja terakhir) karena mungkin tidak ada orang lain yang mempelajari semua keterampilan yang diturunkan langsung dari master ninja selama lima abad terakhir," katanya seperti dilansir dari Daily Mail, Rabu (19/1/2022).

 Ilustrasi

Jinichi Kawakami memperlihatkan senjata ninja (AFP/Getty Images/Daily Mail)

Kendati demikian, Kawakami telah memutuskan untuk membiarkan seni itu mati bersamanya. Sebab, ninja dinilai ‘tidak sesuai dengan zaman modern’.

“Kami tidak dapat mencoba membunuh atau meracuni. Bahkan jika kami mengikuti cara membuat racun, kami tidak bisa mencobanya,” lanjutnya.

 Baca juga: Teke Teke, Hantu Wanita Korban Kecelakaan Kereta Api yang Tubuhnya Terbelah Dua

Kawakami mulai berlatih seni Ninjutsu pada usia enam tahun, sebelum berlatih di bawah rezim guru Buddhis, Masazo Ishida. Untuk meningkatkan konsentrasinya, dia akan menghabiskan berjam-jam menatap lilin yang menyala hingga dia merasa berada di dalamnya.

 

Sementara untuk mengasah pendengarannya, Kawakami akan berlatih mendengarkan jarum yang dijatuhkan ke lantai kayu di kamar sebelah. Dia juga dilatih untuk menahan panas dan dingin yang ekstrem serta menjalani hari-hari tanpa makanan atau air.

Kawakami sering memanjat dinding, melompat dari ketinggian dan belajar mencampur bahan kimia untuk menyebabkan ledakan dan asap. Meski pelatihan itu terasa sangat sulit dan menyakitkan, namun justru sangat berharga baginya.

"Latihannya sangat sulit dan menyakitkan. Itu tidak menyenangkan tetapi saya tidak terlalu memikirkan mengapa saya melakukannya. Pelatihan dibuat untuk menjadi bagian dari hidup saya," ujarnya.

Pada saat 19 tahun, Kawakami telah mewarisi gelar masternya bersama dengan rahasia dari gulungan rahasia dan peralatan kuno. Menurutnya, seni ninja terletak pada kekuatan kejutan, bukan kekerasan atau kekuatan luar.

Mereka lebih mengeksploitasi kelemahan untuk mengakali lawan yang lebih besar dan lebih kuat sambil mengalihkan perhatian mereka untuk menang. Dan, katanya, kemampuan untuk bersembunyi di tempat yang paling tidak terduga adalah senjata terhebat dari seorang ninja.

 Ilustrasi

"Kami juga memiliki pepatah bahwa adalah mungkin untuk lolos dari kematian dengan bertengger di bulu mata musuh Anda; itu berarti Anda begitu dekat sehingga dia tidak dapat melihat Anda," terangnya.

Kini, Kawakami mengelola Museum Ninja Iga-ryu, di Iga, 220 mil barat daya Tokyo dan memulai pekerjaan penelitian di Universitas Mie yang dikelola negara, di mana ia mempelajari sejarah ninja. Dia telah memutuskan untuk tidak mewariskan ilmunya dan memilih untuk menjadikan dirinya sebagai ninja yang terakhir dari klan Ban.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini