Share

Napak Tilas Jalur Pendakian Raja Brawijaya di Gunung Lawu, Pendaki Harus Bakar Kemenyan

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 21 Januari 2022 21:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 20 549 2535061 napak-tilas-jalur-pendakian-raja-brawijaya-di-gunung-lawu-pendaki-harus-bakar-kemenyan-udVFWmml1v.jpg Gunung Lawu (ANTARA/Fikri Yusuf)

MAGETAN - Gunung Lawu memiliki empat jalur pendakian yakni Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dan jalur klasik Singolangu.

Melansir laman resmi Kelurahan Sarangan, jalur Singolangu ini diyakini sebagai jalur klasik atau kuno, petilasan Raja Brawijaya.

Jalur Singolangu menawarkan pemandangan yang lebih indah. Pendaki bisa langsung melihat keindahan Telaga Sarangan dan hamparan Kota Magetan dari sisi timur.

Pendaki bahkan bisa melihat beberapa petilasan sepert batu lapak yang dipercaya sebaga petilasan Raja Brawijaya, serta ada beberapa peninggalan Belanda yang berkaitan dengan jalur pendakian di Singolangu.

infografis

Baca Juga:

Aneh, Hotel Megah Ini Tidak Pernah Punya Tamu Sejak Pertama Kali Dibangun

8 Bandara Terbengkalai Paling Seram di Dunia, Cocok Buat Uji Nyali 

Menariknya, pendaki akan melewati kobongan menyan. Berdasarkan kepercayaan seluruh pendaki yang melewati tempat tersebut harus membakar kemenyan.

Menurut pengakuan beberapa sesepuh yang ada di Singolangu, jalur pendakian ini memang sudah ada sejak lama dan tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali jalur pendakian tersebut muncul. Akan tetapi dulunya jalur ini tidak digunakan sebagai jalur pendakian seperti pada umumnya.

Pada saat itu orang-orang menggunakan jalur ini untuk kepentingan spiritual. Kemudian sekitar tahun 1980-an, jalur pendakian ini sempat vakum. Hal ini disebabkan karena belum adanya pengelola jalur pendakian terebut.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Selain itu, sempat terjadi peristiwa yakni hilangnya 16 orang pendaki yang memulai pendakian di sekitar wilayah tersebut. Para pendaki tersebut berhasil ditemukan, akan tetapi hanya satu orang yang selamat dari tragedi tersebut. Para pendaki tersebut kemungkinan terkena hipotermia saat melakukan pendakian sehingga tidak bisa terselamatkan.

Daerah tempat ditemukannya para pendaki tersebut dikenal sebagai Telogo Batok. Vakumnya jalur pendakian tersebut berdampak pada kondisi jalur yang menjadi tidak terawat dan tidak pernah dilalui lagi oleh para pendaki yang ingin mendaki Gunung Lawu.

Namun, pada tahun 2019 lalu, jalur pendakian Singolangu kembali dibuka setelah dilakukan pembersihan.

Untuk sampai di puncak Gunung Lawu melalui Jalur Klasik Singolangu para pendaki harus menempuh jarak 8,2 kilometer. Dapat ditempuh dengan estimasi waktu delapan jam. Sementara jalur lain seperti Cemoro Sewu dapat ditempuh dengan jarak 6-7 kilometer, Cemoro Kandang 14 kilometer, dan Candi Cetho 15 kilometer.

Jalur Singolangu mempunyai lima pos yang dapat digunakan beristirahat bagi pendaki. Tiap pos memiliki ciri khas pemandangan masing-masing yang dapat membuat pendaki takjub. Misalnya hamparan Bunga Eidelweis hingga tembus ke Sendang Sunan Drajat.

Meski demikian, beberapa warga menyebut terdapat pantangan bagi pendaki untuk berpakaian warna hijau, dihimbau pula tidak membawa tisu basah serta membawa turun sampah yang dibawa.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini