Share

6 Fakta Unik Cap Go Meh, Penutup Perayaan Tahun Baru Imlek yang Meriah

Intan Afika Nuur Aziizah, Jurnalis · Rabu 02 Februari 2022 15:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 01 406 2541060 6-fakta-unik-cap-go-meh-penutup-perayaan-tahun-baru-imlek-yang-meriah-ehzZBv1I03.jpg Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat sebelum pandemi COVID-19 (Istimewa)

USAI perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa akan menyelenggarakan Cap Go Meh. Ini adalah rangkaian akhir dari perayaan Tahun Baru China yang dilakukan tiap tanggal 15 di bulan pertama penanggalan Tionghoa.

Meskipun dirayakan di tempat yang berbeda, Festival Lampion atau Festival Musim Semi di Tiongkok ini memiliki fakta yang sama. Cap Go Meh biasanya berlangsung meriah, diwarnai atraksi barongsai, parade budaya hingga pesta kuliner.

 BACA JUGA: 5 Destinasi Perayaan Cap Go Meh di Indonesia

Berikut enam fakta menarik tentang perayaan Cap Go Meh, seperti yang dilansir MNC Portal Indonesia dari China Highlights :

1. Warna lampion hampir selalu merah

Secara tradisional, lampion China memiliki warna merah dan berbentuk oval. Kemudian, ada hiasan jumbai merah dan emas di bagian bawah. Dalam budaya China, warna merah dipercaya melambangkan kehangatan, kebahagiaan, dan keberuntungan. Ini juga dianggap sebagai warna nasional Cina.

 Ilustrasi

Lampion ini biasanya dibuat dari kertas tipis atau sutra. Rangkanya terbuat dari bambu, kayu, kawat, atau rotan. Lampion-lampion tersebut nantinya akan dihias dengan kaligrafi, lukisan, atau bordiran yang mendetail.

2. Berumur lebih dari 2.000 tahun

Festival Lampion selalu dirayakan pada hari ke-15 dalam kalender lunar atau pada bulan purnama pertama di tahun baru. Perayaan ini mulai dilakukan pada masa pemerintahan Dinasti Han sejak tahun 206 Sebelum Masehi.

 BACA JUGA: 5 Tempat Wisata yang Kental Nuansa Imlek di Jakarta, Pasti Seru!

Kaisar Han Mingdi, seorang pendukung agama Buddha, menemukan para biksu yang menyalakan lampion di kuil-kuil untuk menunjukkan rasa hormat mereka kepada Buddha. Akhirnya, sang kaisar memerintahkan semua kuil, rumah, dan istana kerajaan untuk menyalakan lampion serupa yang kemudian dikenal sebagai Festival Lentera.

Kini, menerbangkan lampion menjadi sebuah tradisi yang menyimbolkan keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa.

Ilustrasi

3. Hari Valentine

Tiongkok Festival Lampion juga disebut sebagai Hari Valentine di China. Dulu, seorang perempuan diberi kesempatan untuk keluar rumah tanpa pendamping. Sehingga mereka mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan laki-laki yang mungkin dapat menjadi pendamping hidupnya kelak. Cahaya lampion juga dianggap sebagai tanda harapan dalam hubungan asmara.

4. Hong Kong Dipenuhi Lampion Unik

Hong Kong selalu dipenuhi dengan lampion untuk merayakan hari penutup rangkaian Tahun Baru Imlek. Pada tahun 2011, acara Festival Pertengahan Musim Gugur terbesar yang diselenggarakan di Victoria Park Hong Kong menetapkan Rekor Dunia Guinness untuk patung lampion terbesar, patung berbentuk ikan berukuran lebih dari 36 x 9 x 13 meter.

Pasalnya, patung itu dibuat dari 2.360 lampion oleh 35 orang dengan waktu 13 hari. Tahun demi tahun, acara di Hong Kong ini dianggap sebagai perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur termegah di seluruh Tiongkok. Kamu dapat menonton demonstrasi kung fu, merasakan tarian naga api, dan tentu saja melihat pertunjukan lampion yang seru.

5. Memecahkan teka-teki lampion

Sebuah tradisi yang dimulai pada masa Dinasti Song (960-1279) telah berlangsung hingga saat ini, bahkan menjadi salah satu tradisi terpenting selama Festival Lampion. Memecahkan teka-teki lampion dianggap sebagai tugas yang cukup menantang pada momen ini.

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa memecahkannya membutuhkan kekuatan harimau. Jadi, teka-teki lampion ini disebut 'harimau sastra' atau 'macan lentera'. Ketika seseorang berhasil memecahkannya, mereka dianggap telah 'menembak harimau sastra'.

Biasanya, pemilik lampion akan menulis teka-teki menggunakan prosa atau puisi dan menempelkannya di lampion mereka. Kemudian, peserta lampion lainnya akan mencoba menebak teka-teki itu dengan imbalan hadiah kecil.

6. Berakhirnya berbagai mitos

Selama perayaan Tahun Baru Imlek, dipenuhi dengan mitos-mitos yang membuat banyak orang harus menghindari hal tertentu. Beberapa mitos di antaranya adalah tidak boleh datang ke rumah sakit, membiarkan anak kecil menangis, hingga memecahkan perabotan rumah tangga. Namun semua itu tidak akan berlaku setelah rangkaian Imlek berakhir. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini