Share

Museum Holocaust Yahudi Berdiri di Minahasa Tuai Kontroversi, Ternyata Ini Tujuannya Dibangun

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Sabtu 05 Februari 2022 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 04 406 2542203 museum-holocaust-yahudi-berdiri-di-minahasa-tuai-kontroversi-ternyata-ini-tujuannya-dibangun-ckDMUGbyA9.JPG Museum Holocaust di Minahasa, Sulawesi Utara (Foto: AFP/Ronny Adolof Buol)

BERDIRINYA Museum Holocaust (Holokos) Yahudi di Kota Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara tuai kontroversi. Polemik itu memantik pengelola museum untuk menemui pimpinan MUI setempat pada Kamis, 3 Februari 2022 lalu.

Pada pertemuan itu, perwakilan komunitas Yahudi di Minahasa menegaskan bahwa museum tersebut dibangun bukan didasari untuk mengampanyekan normalisasi hubungan diplomasi Indonesia-Israel, melainkan sebagai pengingat agar genosida terhadap orang-orang Yahudi pada Perang Dunia II yang diawali rasisme dan kebencian tidak terulang di kemudian hari terhadap etnis atau penganut agama apapun.

Sebelumnya, sejumlah pimpinan MUI pusat menolak keberadaannya dan menuntut agar museum itu dibongkar. MUI Pusat menuding keberadaan museum itu dilatari motif politik luar negeri Israel yang akan merugikan masa depan bangsa Palestina.

Adapun para pegiat dialog antaragama mengusulkan agar semakin banyak dibuka ruang perjumpaan atau dialog antarumat beragama, sehingga kecurigaan di antara mereka dapat dikurangi.

Museum Holocaust di Minahasa

(Foto: AFP/Ronny Adolof Buol)

Alasan pembangunan

Museum Holocaust di Kota Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, yang diresmikan pekan lalu, dihadiri para pejabat setempat dan duta besar Jerman untuk Indonesia.

Melansir BBC News Indonesia, di Kota Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulut, bangunan Museum Holokos terletak di dalam kompleks Sinagoga Shaar Hashamayim yang lebih dulu berdiri di sana.

Selain di Israel, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa, museum holokos di Asia hanya ada di Hong Kong. Di Tondano, Minahasa, bangunan Museum Holokos terletak di dalam kompleks Sinagoga Shaar Hashamayim yang lebih dulu berdiri di sana.

Sejak berdiri pada 2004 lalu, sinagoga ini dilaporkan dapat diterima oleh masyarakat setempat yang mayoritas beragama Kristen.

Walau ada sentimen anti-Yahudi di tempat lain di Indonesia, hal itu tidak berdampak pada kehidupan komunitas Yahudi di Sulawesi Utara.

Sejauh ini, tidak ada penolakan dari masyarakat setempat, namun suara-suara keras justru muncul dari Jakarta, ketika sejumlah pimpinan Majelis Ulama Indonesia, MUI, menolak keberadaannya.

Di hadapan pimpinan MUI Sulawesi Utara, Yakoov Baruch, menegaskan pendirian museum itu tidak didasari niat untuk mengampanyekan upaya normalisasi hubungan diplomasi Indonesia-Israel.

Puluhan kilometer dari Sinagoga Shaar Hashamayim, menorah setinggi 18 meter telah berdiri sejak 2009 lalu di atas bukit Manado.

"Saya menjelaskan kembali sikap Yahudi Indonesia mendukung keputusan pemerintah Indonesia, yang sampai saat ini mempunyai sikap terhadap konflik Israel-Palestina itu seperti apa, kita tahu. Kami mendukung sepenuhnya," kata Yakoov.

Keberadaan Museum Holocaust lanjutnya, tidak mendapat bantuan pihak asing dalam bentuk uang atau apapun. "Itu murni dari hasil keringat kami," lanjutnya.

Yakoov juga menegaskan, pihaknya tidak meng-endorse negara asing atau untuk kepentingan asing.

"Saya ingin mengedukasi masyarakat Indonesia tentang bahayanya rasialisme dan kebencian," kata pemimpin sinagog dan pengelola Museum Holocaust, Rabi Yakoov Baruch.

Museum Holocaust di Minahasa

(Foto: AFP/Ronny Adolof Buol)

"Kalau kita tidak memerangi rasialisme dan kebencian sejak dini, dan itu bisa terlambat, maka peristiwa seperti holokos akan menjadi pelajaran buat kita," terang Rabi Yakoov Baruch.

"Kalau kita tidak memerangi rasialisme dan kebencian sejak dini, dan itu bisa terlambat, maka peristiwa seperti holokos akan menjadi pelajaran buat kita," imbuh dia.

"Bukan untuk hanya genosida terhadap bangsa Yahudi saja, tapi terhadap suku etnis manapun. Itu tidak bisa dibenarkan," tambah Yakoov.

"Semuanya dalam bingkai NKRI, di mana Konstitusi kita menentang segala bentuk penjajahan, termasuk kita belajar dari penjajahan Nazi di Eropa," jelasnya.

Saat diresmikan pada Kamis, 27 Januari 2022, museum seluas 6x4 meter itu menampilkan foto-foto terkait genosida atas orang-orang Yahudi di Eropa oleh Nazi Jerman. Koleksi foto-foto ini diakui oleh pengelola museum di Minahasa dipinjam dari Museum Genosida di Yerusalem, Israel.

"Karena museum genosida di AS dan Eropa tidak mau meminjamkannya," akunya.

Ke depan kata Yakoov, pengelola museum juga berencana akan menambah koleksi dengan berbagai artefak holokos yang diperoleh dari perorangan atau komunitas.

Itu artinya keberadaan Museum Holocaust Yahudi akan terus berlanjut, dan jelas bertolak belakang dengan keinginan sejumlah pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menuntut agar museum tersebut dirobohkan.

Rabi Yakoov Baruch

(Rabi Yakoov Baruch, Foto: AFP/Ronny Adolof Buol)

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan peresmian Museum Holocaust di Minahasa, Sulawesi Utara beberapa waktu lalu. Sebab, selain dinilai mengkhianati rakyat Palestina, nazisme Holocaust juga jahat seperti Zionisme Israel saat ini

"Zionis Israel itu jahat seperti nazismenya Holocaust itu,” ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim, saat dihubungi MNC Portal, Rabu, 2 Februari 2022.

“Empati yang harus dibangun kalau soal kemanusiaan jangan lupa juga kalau Palestina itu juga digenosida dan dikorbankan oleh Zionisme Israel," timpalnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini