Share

Biadab! 19 Gajah Bengkulu Diduga Mati Diracun, Populasi Hanya Tersisa Segini

Demon Fajri, Jurnalis · Sabtu 26 Februari 2022 06:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 25 406 2552793 biadab-19-gajah-bengkulu-diduga-mati-diracun-populasi-hanya-tersisa-segini-9keSKHqaId.JPG Gajah Sumatera mati ancam populasi (Foto: BBC Indonesia)

POPULASI gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) di Provinsi Bengkulu sudah kian mengkhawatirkan. Di mana estimasi populasi hanya mencapai 50 ekor. Kawanan ini terfragmentasi dibeberapa kawasan hutan.

Satu dasawarsa sebelumnya, tercatat ada 16 ekor gajah Bengkulu, ditemukan mati. Catatan ini kemudian bertambah lagi pada 2018-2021, tiga ekor gajah ditemukan mati.

"Kematian ini terjadi secara tidak alami. Seperti diracun, ditembak dan diburu," kata Penanggungjawab Konsorsium Bentang Alam Sebelat, Bengkuku, Ali Akbar kepada MNC Portal Indonesia.

Analisis Konsorsium Bentang Alam Seblat, jelas Ali, banyaknya kasus kematian gajah ini ditengarai masih dominannya stigma, bahwa gajah adalah hama. Stigma ini menjadi alasan utama bagi para pemangku perkebunan untuk membunuh kawanan ini.

Akibat dari fragmentasi habitat, terang Ali, kawanan gajah yang hidup di Bentang Alam Seblat menjadi hidup terkelompok dengan kawanan kecil. Efek lanjutan dari ini, jelas Ali, memunculkan perkawinan gajah yang dekat pertalian darahnya (inbreeding).

"Kondisi ini memicu turunnya fungsi genetik gajah yang kemudian bermuara pada cepatnya laju kepunahan gajah di Bengkulu," jelas Ali.

Benteng terakhir gajah Sumatera kian terdesak di Bengkulu. Sejak 2018, pemerintah telah menetapkan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah Sumatera seluas 29 ribu hektare. Meliputi, hutan produksi Air Rami, hutan produksi terbatas Lebong Kandis.

Kemudian Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan sebagian konsesi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit.

Namun, kata Ali, koridor yang sudah diproyeksikan untuk menjadi jalur satwa itu, nyatanya terus rentan dengan beragam ancaman.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Perambahan, pembalakan, aktivitas perkebunan sawit skala besar, hingga ke pertambangan batu bara membuat jalur penghubung itu terus tergerus dan memperbesar ancaman kematian terhadap para gajah.

Sejak 2021, dalam payung Konsorsium Bentang Alam Seblat, yang merupakan kerja kolaboratif tiga lembaga non-pemerintah yakni Yayasan Kanopi Indonesia, Yayasan Genesis dan Lingkar Inisiatif, menemukan bahwa kondisi itu ditengarai oleh lemahnya pengawasan negara terhadap kawasan yang hendak dijadikan jalur penghubung para gajah Sumatera.

"Impilikasi dari inilah yang kini membuat 'benteng terakhir' para gajah Sumatera kini makin terdesak," jelasnya.

Penyelamatan populasi gajah Sumatera dan perlindungan habitatnya menjadi hal mutlak yang mesti disegerakan. Di mana butuh komitmen bersama dan dukungan banyak pihak untuk mewujudkan ini.

"Penegak hukum harus memberikan sanksi tegas kepada para pihak yang merambah atau pun melakukan pembalakan liar di kawasan hutan yang menjadi habitat gajah Sumatera," kata Ali.

Temuan lapangan Konsorsium Bentang Alam Seblat, sambung Ali, bahwa beberapa praktik pembukaan kawasan hutan justru difasilitasi oleh aparat desa, oknum di pemangku kawasan dan warga yang memiliki modal.

"Jika ini dibiarkan berlarut, maka konflik antara gajah dan manusia akan semakin sering bermunculan. Pastinya, akan menimbulkan korban di kedua belah pihak," beber Ali.

Pemerintah harus segera menetapkan koridor penghubung gajah Sumatera. Tindakan ini, tambah Ali, bisa membantu menyelamatkan para gajah yang sudah terfragmentasi habitatnya sekaligus memperpanjang daur hidup satwa endemik Sumatera ini di Bengkulu.

"Tanpa koridor, habitat yang selama ini sudah menyempit akibat aktivitas manusia dan industri perkebunan ataupun pertambangan, akan semakin tergerus dan memicu kematian gajah di Bengkulu semakin cepat," pungkas Ali.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini