Share

Mengenal Asal Usul dan Makna Pawai Ogoh-Ogoh saat Perayaan Nyepi

Wilda Fajriah, Jurnalis · Kamis 03 Maret 2022 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 03 406 2555711 mengenal-asal-usul-dan-makna-pawai-ogoh-ogoh-saat-perayaan-nyepi-ptlsaO6BuC.jpg Pawai ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi di Palu, Sulawesi Tengah (Antara/Basri)

PERAYAAN Hari Raya Nyepi oleh umat Hindu di Bali tak lepas dari pawai ogoh-ogoh. Patung raksasa yang menggambarkan sosok Butha Kala atau roh jahat yang suka mengganggu manusia itu diarak oleh warga lalu dibakar.

Ogoh-ogoh diambil dari sebutan ogah–ogah dari bahasa Bali yang artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan.

 BACA JUGA: Jelang Nyepi 2022, Begini Proses Pembuatan Ogoh Ogoh di Boyolali

Melansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng, Kamis (3/3/2022), ogoh-ogoh di Bali mulai dibuat dengan wujud Bhuta Kala saat Nyepi sejak 1983. Di tahun tersebut, ada Keputusan Presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional.

Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar. Budaya baru ini semakin menyebar ketika ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII.

 

Buat orang awam, ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang diarak keliling desa pada saat menjelang malam sebelum hari raya nyepi (ngerupukan) yang diiringi dengan gamelan bali yang disebut Bleganjur, kemudian untuk dibakar.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

 BACA JUGA: Perang Api, Tradisi Tolak Bala Umat Hindu saat Perayaan Nyepi

Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Rakshasa. Selain wujud Rakshasa, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka, seperti: naga, gajah, Widyadari, bahkan Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi tahun 1986, Ogoh-ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel yang beraneka ragam dengan bentuk yang menyeramkan.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Sejak tahun 80 an, umat hindu mengusung ogoh-ogoh yang dijadikan satu dengan acara mengelilingi desa dengan membawa obor atau yang disebut acara ngerupuk.

 Ilustrasi

Sebelum memulai pawai ogoh-ogoh para peserta upacara atau pawai biasanya melakukan minum-minuman keras tradisional yang dikenal dengan nama arak.

Pada umumnya ogoh-ogoh diarak menuju suatu tempat yang diberi nama sema (tempat persemayaman umat Hindu sebelum dibakar dan pada saat pembakaran mayat) kemudian ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa tersebut dibakar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini