Share

Tak Hanya Nasi Liwet, Cek 4 Kuliner Majalengka Bakal Dipamerkan di Jerman

Inin Nastain, Jurnalis · Kamis 17 Maret 2022 03:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 16 301 2562336 tak-hanya-nasi-liwet-cek-4-kuliner-majalengka-bakal-dipamerkan-di-jerman-sTiUalaUNH.jpeg Rempah Embassy jadi kuliner Majalengka yang akan tampil di Jerman (dok MPI/Inin)

EMPAT kuliner Majalengka akan dipamerkan dalam pameran Documenta Fifteen di Kassel, Jerman, Juli 2022 bertajuk Food Diplomacy Majalengka Week.

Keempat jenis kuliner itu masing-masing terdiri dari makanan berat, kudapan, dan minuman.

 Nasi liwet sampai dengan kopi, akan mencoba mencuri perhatian dari pasar global di festival dengan antara 13-19 Juli itu.

Nasi Liwet Saung Eurih, adalah kuliner dari kelompok makanan berat yang akan dihadirkan dalam event itu.

Dalam ajang tersebut, Saung Eurih akan mempromosikan makanan lokal Majalengka kepada para peserta dan apresiatif festival.

Eman Kurdiman selaku pemilik Saung Eurih menyebutkan, ada beberapa hal yang akan ditampilkan dalam ajang itu. Secara umum, Liwet yang akan ditampilkan dalam acara itu, sebagaimana liwet pada umumnya

infografis

"Tapi tentunya ada hal-hal yang harus jadi terobosan. Karena kultur kita di sini dengan mereka di sana kan pasti beda. Kita akan eksperimen menu," kata Eman saat berbincang dengan MPI.

Selain Liwet dalam bentuk kuliner, dalam kesempatan tersebut akan disajikan juga nilai-nilai liwet yang ada di Saung itu.

"Jadi tidak hanya Liwet sebagai kuliner, tetapi juga nilai-nilainya," ujar dia. 

"Semangat liwet itu adalah kebersamaan. Bagaimana orang-orang kampung bertemu, berbicara berbagai hal, dan tentu ada gotong royong," kata dia. 

Selain Liwet, ada juga minuman yang terbuat dari rempah-rempah.

Rempah Embassy, akan ambil bagian dalam event tersebut. Dengan mengandalkan rempah-rempah, Rempah Embassy akan memperkenalkan kekayaan alam yang dimiliki Majalengka khususnya, Indonesia pada umumnya.

Lewat Food Diplomacy Majalengka Week juga, Rempah Embassy akan menyajikan beragam manfaat dari rempah-rempah itu.

"Yang kita usung nanti itu, Seduh Keluh atau menyeduh keluh kesah. Ketika ada keluhan kesehatan, bisa langsung menyeduh rempah-rempah yang disajikan," kata Ming, pemilik Rempah Embassy.

Kendati terkesan sepele, tetapi Ming memastikan rempah-rempah yang akan disajikan dalam event itu, memiliki referensi secara ilmiah. Beberapa rempah yang akan disajikan, memiliki khasiat tersendiri.

"Aspeknya mah ya tetap kesehatan. Dari awal juga kita menghimpun resep-resep jamu, obat obat tradisional," tutur dia.

"Kami akan bawa rempah-rempah yang memang memiliki khasiat kesehatan. Di sana, kami juga akan sampaikan presentasi, juga workshop. Apa aja manfaatnya, termasuk cara penyajiannya," kata dia.

Kemudian, ada Kopi Apik, salah satu kedai Kopi yang ada di Majalengka akan ambil bagian dalam acara itu. Gilang Pramudhita, pemilik Kedai Kopi Apik menjelaskan, secara umum, kopi produksinya tidak jauh berbeda dengan yang lainnya.

Namun, ada hal-hal tertentu yang akan ditonjolkan dalam Festival Dokumenta itu.

"Yang pertama, jelas, kopi yang akan kita suguhkan adalah kopi lokal Majalengka, yang ditanam di daerah Lemahsugih," kata Gilang.

Untuk mendukung performance, selain menonjolkan kopi lokal, ada juga beberapa peralatan yang memiliki nilai-nilai lokalitas.

"Kopi mah universal kan. Yang akan kita tonjolkan mah, karena ini performanc, beberapa perlengkapan nilai-nilai lokal," jelas dia.

Terakhir, kuliner yang akan ambil bagian dalam ajang 5 tahunan itu dari Roti Wangi. Namun, sajian berbeda akan ditampilkan Roti Wangi dalam ajang itu.

Di Kassel nanti, pemilik Brand Roti Wangi, Pandu Rahadian akan menampilkan produk baru, yang kental dengan nilai-nilai lokalitas.

"Akan sajikan produk Tempe, tapi dengan bahan berbeda. Bahannya kita sesuaikan dengan kultur mereka di sana, Kacang Almond, bukan Kedelai," ucap dia.

Lewat tema food diplomacy, jelas Pandu, di ajang itu juga akan digunakan untuk barter pengetahuan dengan pelaku kuliner.

"Nanti ada Serabi juga. Serabi atau Sorabi ini kan memiliki makna Rabi, perkawinan. Sehingga akan ada proses perkawinan pengetahuan," jelas dia.

"Food diplomacy, pengetahuan lokal kita dibawa ke sana. Akan ada produk dan karya-karya yang sarat dengan kearifan lokal," lanjut Pandu.

Sementara, documenta adalah salah satu acara seni kontemporer tertua di dunia, dimulai tahun 1955. Dokumenta berlangsung tiap 5 tahun sekali dan melahirkan seniman-seniman besar kelas dunia.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini