Share

Menantang Maut, 3 Aktivitas Ekstrem yang Butuh Nyali Baja

Pratitis Nur Kanariyati, Jurnalis · Senin 21 Maret 2022 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 20 406 2564778 menantang-maut-3-aktivitas-ekstrem-yang-butuh-nyali-baja-OwKxM5zW20.jpg Mendaki Gunung Everest di Nepal (Outforia via Euronews.com)

BERBAGAI jenis pekerjaan tersebar luas di dunia. Mulai dari pekerjaan yang berkutat dengan teknologi hingga pekerjaan yang bersahabat dengan alam. Di antara pekerjaan tersebut, terdapat beberapa pekerjaan yang memiliki risiko tinggi dan menantang maut.

Berikut jenis pekerjaan ekstrem yang menantang maut.

1. Sherpa Gunung Everest

Sherpa adalah sebutan untuk para pemandu pendakian Gunung Everest. Gunung tertinggi di dunia ini terletak di antara negara Nepal dan Tibet. Seorang sherpa harus memiliki mental yang kuat dan tahan banting terhadap alam Everest.

Mereka harus bertahan dalam oksigen yang tipis atau dingin yang menggigit sambil membawakan peralatan para pendaki.

Pernah ada kasus sherpa karbitan yang ditemukan pingsan dalam perjalanan menuruni puncak bersama pendaki lainnya pada 2018 silam.

Dia bernama Dawa Sange Sherpa. Pemuda berusia 20 tahun itu harus kehilangan seluruh jarinya karena terpaan udara dingin yang ekstrem.

Seorang sherpa senior yang berpengalaman akan memperoleh bayaran hingga 10 ribu dolar AS selama musim pendakian bulan April sampai Mei.

2. Pembersih Kaca Gedung Pencakar Langit

Berprofesi sebagai pembersih kaca gedung pencakar langit, tentu akan berisiko cukup besar. Pasalnya, pekerja hanya bergantung pada seutas tali untuk bergantung. Membersihkan kaca gedung pencakar langit akan sangat menantang terutama jika kecepatan anginnya melebihi 12 knot (sekitar 14 mil per jam).

Oleh karena itu, pekerja harus selalu fokus dan berhati-hati. Dalam satu tahun, seorang pembersih kaca akan mendapatkan upah sebesar 50 ribu dolar AS.

3. Penambang Belerang

Pekerjaan satu ini sering kita jumpai ketika melakukan pendakian di salah satu kawah di Jawa Timur, yakni Kawah Ijen. Setiap pagi buta terdapat puluhan pekerja yang mencari belerang tanpa peralatan dan perlengkapan keselamatan apa pun.

Penambang hanya berbekal linggis untuk mencongkel endapan belerang. Untuk menuju area tambang pun mereka harus mendekati bibir kawah.

Ilustrasi

Para penambang harus memikul beban belerang sekitar 70 kg, berhadapan dengan gas racun atau pun cuaca buruk kawah Ijen. Belerang tersebut nantinya akan dijadikan bahan tambahan berbagai produk, mulai dari sabun, kosmetik hingga campuran gula.

Upah yang diterima para penambang berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu tiap harinya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini