Share

Menikmati Pesona Mandeh dari Ujung Batu, Saksi Bisu Perang Dunia II

Antara, Jurnalis · Senin 21 Maret 2022 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 20 408 2564784 menikmati-pesona-mandeh-dari-ujung-batu-saksi-bisu-perang-dunia-ii-LgX0vfhj2s.jpg Puncak Mandeh di Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Okezone.com/Rus Akbar)

UJUNG Batu, begitu masyarakat sekitar menyebutnya, berada di kawasan Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat yang disebut Presiden Joko Widodo sebagai kepingan surga yang jatuh ke bumi saat berkunjung ke daerah itu.

Kawasan Mandeh berada di sebuah teluk di Kabupaten Pesisir Selatan memiliki keindahan alam yang memukau. Cantik memesona tiada Tara, anggun bak seorang puteri.

Ujung Batu merupakan akses melihat Mandeh secara langsung. Di daerah itu dengan gamblang dan tanpa ada keraguan orang bisa menikmati pesona bahari yang menakjubkan.

 BACA JUGA: 5 Spot Instagramable di Puncak Mandeh, Raja Ampatnya Sumbar

Apalagi Mandeh merupakan pahatan maha sempurna anugerah Sang maha Kuasa pemilik semesta di pantai Barat Sumatera. Wajar, jika pada ajang Anugerah Pariwisata Indonesia (API) Mandeh didaulat sebagai Surga Tersembunyi.

Saat berada di Ujung Batu semburat energi positif terasa memancar dari damainya Mandeh. Menguar, membaluri segenap jiwa.

"Penamaan Ujung Batu berasal dari nelayan setempat. Sesuai namanya, di situ terdapat sebuah batu yang menjorok ke laut. Berdiri kokoh melindungi nelayan Mandeh dari terjangan badai," ungkap Zainal (54), salah seorang warga sekitar.

 Ilustrasi

Puncak Mandeh (Okezone.com/Rus Akbar)

Laut di sekitarnya tenang. Ramah menyapa nelayan yang memasuki halamannya. Jaraknya pun dengan daratan dekat, hanya terpaut beberapa puluh meter saja dan menjadikannya mudah diakses. Ia relatif aman bagi nelayan untuk menambatkan perahunya.

Ujung Batu tidak hanya menjamu nelayan saat badai tiba, tapi juga bagi pengendara. Daratannya kerap dijadikan sebagai pesangrahan. Decak kagum tamu memandang hamparan laut biru bak permadani di Teluk Mandeh itu membuat puas.

Posisi Ujung Batu cukup strategis. Hanya berjarak sekitar 0,5 mil laut dari Pulau Setan, salah satu destinasi utama di kawasan Mandeh.

Bahkan juga tak berjarak jauh dari Pulau Cubadak, sebuah pulau yang terdapat di kawasan Mandeh yang dikelola penanam modal asing sebagai destinasi wisata ekslusif berskala internasional.

Sedangkan dari Carocok Kecamatan Koto XI Tarusan Ujung Batu dapat ditempuh dengan waktu hanya sekitar 10 menit saja, persis diantara Kilometer 55 dan 54 atau menjelang Nagari Mandeh.

 BACA JUGA: Sandiaga Uno Dukung Pengembangan KEK Mandeh di Sumbar

Saksi Perang Dunia II

 

Ujung Batu pernah menjadi saksi ganasnya Perang Dunia ke-II. Perang yang disulut Jepang melalui kegagalan pasukan Kamikaze menjalankan ambisi negara Matahari Terbit menguasai dunia.

 

Tentara Kaisar Hirohito itu gagal menguasai pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai. Sebuah kawasan yang merupakan batas antara Samudera Pasifik dan Atlantik.

Tak berapa jauh dari situ, di bawah lautnya yang biru tersimpan monumen Perang Dunia ke-II. Sebuah kapal dagang Belanda yang karam dihantam meriam Jepang. Ujung Batu saksi bisu peristiwa itu.

Kapal itu gagal ke tujuan akhirnya, Teluk Bayur. Pelabuhan yang dulu bernama Emma Haven. Satu-satunya pelabuhan buatan Belanda yang memakai nama Sang Ratu Negeri Kincir Angin itu.

NV. Boeloengan terseok sebelum kandas di perairan Mandeh. Tak ada yang mampu menyelamatkannya. Seluruh muatannya tumpah, hanyut terseret derasnya arus bawah laut.

Bangkai kapal itu kini menjadi salah satu daya tarik sendiri. Memacu adrenalin bagi pecinta olahraga selam. Puing-puing besi itu seperti mengajak mereka ke peristiwa masa lalu ketika perang berlangsung.

Perburuan tak hanya sampai di situ. Teluk Mandeh memiliki panorama alam bawah laut yang begitu memukau, dengan biota laut yang kaya. Terumbu karang di dasarnya seperti menari menghibur peselam.

Sore menjelang, mentari bersiap memasuki peraduan. Arus kendaraan ramai menanjak ruas jalan itu. Satu per satu merapati tepian aspal. Memarkir kenderaannya menikmati senja Ujung Batu.

"Kami bersama keluarga sering ke sini. Setidaknya hanya untuk sekedar makan bersama keluarga. Panorama alamnya memang bagus," ujar Al-Amin (36), warga Kecamatan Koto XI Tarusan.

Cahaya sang surya perlahan melabuhi Teluk Mandeh. Pantulan cahayanya membiaskan warna keemasan.

Sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada akhir 2015 Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh terus bersolek. Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan gencar membangun infrastruktur penunjang agar wisatawan semakin nyaman saat berkunjung.

Bahkan Mandeh telah dilengkapi dengan Touris Information Center (TIC), sehingga memudahkan wisatawan mencari titik destinasi yang bakal dikunjungi, termasuk soal akomodasi.

 Ilustrasi

Selain infrastruktur dan sarana lainnya, pemerintah kabupaten pun secara berkelanjutan terus melakukan promosi kawasan Mandeh, salah satunya melalui event pariwisata.

Tahun ini pemerintah kabupaten bersama pihak ketiga bakal menggelar fun bike skala nasional, dengan garis start di Painan dan finish di Mandeh. Peserta merupakan pesepeda dari luar daerah.

Dalam pengembangan pariwisata tahun ini pemerintah kabupaten menargetkan kunjungan wisata hingga 2,5 wisatawan, baik asing maupun dalam negeri.

"Kami siapkan Mandeh sebagai destinasi utama mampu menjawab target yang telah tertuang dalam rencana pembangunan daerah," ujar Bupati Kabupaten Pesisir Selatan Rusma Yul Anwar.

Namun tentu saja yang tak kalah penting adalah menyiapkan berbagai stimulan untuk kenyamanan dan kemudahan pada investor dalam menanamkan modalnya di sektor pariwisata di kawasan Mandeh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini