Share

Menilik Keramat Batu Lonceng di Lembang, Jejak Raja Padjadjaran Ciungwanara

Adi Haryanto, Jurnalis · Kamis 24 Maret 2022 01:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 23 406 2566169 menilik-keramat-batu-lonceng-di-lembang-jejak-raja-padjadjaran-ciungwanara-g2Hy9YWqzN.jpg

BATU Lonceng di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dikeramatkan oleh masyarakat. Situs Batu Lonceng diyakini sebagai peninggalan Raja Padjadjaran.

Dulu, Lembang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh Padjadjaran yang kala itu rajanya dikenal dengan nama Ciungwanara yang oleh masyarakat disebut Sunan Dalem Margataka.

Pamong Budaya Ahli Muda Sub Koordinator Sejarah dan Cagar Budaya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB Asep Diki Hidayat mengatakan, kawasan Desa Suntenjaya merupakan salah satu tempat yang pernah dikunjungi Ciungwanara.

infografis

Masyarakat sekitar biasa menyebut Ciungwanara dengan nama Sunan Dalem Margataka. Desa Suntenjaya atau lebih tepatnya sekarang dikenal dengan Keramat Batu Lonceng, merupakan daerah perbukitan yang sejuk karena ada di kawasan Bandung Utara.

"Keramat Batu Lonceng merupakan sebutan masyarakat Desa Suntenjaya untuk sebongkah batu yang dikeramatkan. Bentuknya mirip tubuh manusia yang tengah bersemedi atau bertapa," kata Asep Diki Hidayat.

Follow Berita Okezone di Google News

Batu Lonceng dikeramatkan, ujar Asep, karena masyarakat meyakini batu hitam andesit itu dapat mengeluarkan suara lonceng dan bersinar. Batu Lonceng disebutkan merupakan prasasti peninggalan kerajaan Galuh Padjadjaran yang ditemukan sekitar abad ke-16.

"Bentuknya seperti lonceng dengan diameter 80 cm dan tinggi 50 cm. Posisi objek tersebut berada di timur laut atau sekitar 22 kilometer dari ubu kota KBB di Ngamprah dan berada pada area bukit seluas 250 meter persegi," ujarnya.

Asep Diki Hidayat menuturkan, di kawasan tersebut juga terdapat patilasan Ciungwanara yang ditandai dengan pohon besar (kalimorot). Tidak jauh dari makam, terdapat batu berbentuk pipih seperti pegangan kujang, sehingga masyarakat sekitar sering menyebutnya Batu Kujang.

"Masyarakat mengartikan Batu Kujang sebagai senjata, temasuk juga Batu Lonceng yang dianggap sebagai sebuah gada," tutur Asep Diki Hidayat.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini