Share

Protes Pemecatan 800 ABK, Kapten Mengunci Diri dan Kru di Kapal

Ahmad Haidir, Jurnalis · Kamis 24 Maret 2022 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 23 406 2566756 protes-pemecatan-800-abk-kapten-mengunci-diri-dan-kru-di-kapal-HeYSfBeA4u.jpg Ilustrasi (Freepik)

OPERATOR kapal feri terbesar di Inggris melakukan PHK terhadap 800 Awak Kapal atau ABK dengan alasan kelangsungan hidup perusahaan karena telah merugi 100 juta Poundsterling atau sebesar Rp1,8 triliun dari tahun ke tahun.

Namun pemecatan massal itu seakan dilakukan secara sepihak, bahkan dilangsungkan ‘hanya’ melalui Zoom Call. Hal itu lantas membuat kapten kapal Eugene Favier melakukan protes yang cukup unik, dimana ia mengunci dirinya dan krunya di dalam kapal dan bersumpah untuk tetap berada di feri sampai masalah itu terselesaikan.

Kapten Eugene menyatakan bahwa dia memiliki cukup makanan dan persediaan untuk bertahan "selama yang dibutuhkan". Tak perlu heran karena sebagai informasi, kapten tersebut biasanya membawa 141 awak dan merupakan salah satu feri terbesar di Eropa yang membuat penyeberangan reguler antara Kota Hull, Inggris dan pelabuhan Belanda di Rotterdam.

"Saya diberitahu oleh Gaz Jackson, yang merupakan pejabat RMT (re : Serikat Pekerja Kereta Api, Maritim dan Transportasi Nasional Inggris) yang duduk di kapal, bahwa ia secara efektif terkunci dengan kapal dan awaknya,” ungkap Karl Turner salah satu anggota serikat pekerja Kapal Hull tentang kejadian tersebut.

"Dia mengatakan kapten menolak kebijakan perusahaan lalu masuk ke kapal dan mengunci diri nya serta seluruh awak kapal. Anggota lainnya mengatakan kepada saya bahwa kapal memiliki persediaan yang cukup untuk memberi makan awak selama dibutuhkan,” lanjutnya dikutip MNC Portal Indonesia dari The Sun.

Kebuntuan berlangsung selama enam jam sampai perusahaan bernama P&O Ferries itu memberikan persyaratan tertulis tentang perjanjian terbaru mereka, yang menurut kapten Eugene ‘diterima oleh kru yang dicampakkan’.

Para kru kemudian turun di atas papan gang tertutup, sementara sang kapten MASIH tetap berada di kapalnya sebagai anggota personel kunci.

“Sejauh yang saya pahami dalam hukum maritim, meskipun kapal itu berada di pelabuhan, kapten tetap berhak menurut hukum maritim untuk menolak seseorang masuk ke kapalnya.” jelas Karl Turner.

Adapun permasalahan PHK massal sepihak tersebut disinyalir oleh Serikat Pekerja Kereta Api, Maritim dan Transportasi Nasional Inggris (RMT) sebagai upaya perusahaan untuk mengganti anggota kru dengan pekerja luar negeri yang lebih murah.

Turner menambahkan bahwa staf di kapal telah diperlakukan dengan "penghinaan total" oleh P&O, yang dimiliki oleh raksasa logistik DP World yang berbasis di Dubai.

"Mereka memperlakukan pekerja Inggris dengan penghinaan total, dan mereka juga memperlakukan pemerintah Inggris dengan penghinaan total. Dan Boris Johnson (re : Perdana Menteri Inggris) berada di Dubai kemarin,” ucapnya

"Saya tidak fanatik maupun kontra dengan Boris Johnson, tapi saya menduga feri P&O, yang dimiliki oleh negara bagian Dubai secara efektif akan memecat setiap pekerja Inggris keesokan paginya.” tandas Turner berang.

 Ilustrasi

Sementara itu, pihak Kepolisian Humberside membenarkan kejadian penguncian diri di kapal feri yang terjadi di dok kapal King George, Hull City tersebut. Aparat pun menyebut bahwa tidak ada sesuatu hal mengkhawatirkan selama proses mogok kerja itu.

"Kami mengetahui insiden di King George Dock, Hull. Kami telah terlibat dengan semua pihak dan puas bahwa tidak ada penyebab langsung untuk kekhawatiran,” demikian pernyataan resmi pihak Kepolisian Humberside.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini