Share

Mengenal Obrog-Obrog, Tradisi Unik Membangunkan Warga untuk Sahur

Inin Nastain, Jurnalis · Senin 11 April 2022 00:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 10 406 2576478 mengenal-obrog-obrog-tradisi-unik-membangunkan-warga-untuk-sahur-DGnC7s6i3a.jpg Kelompok Obrog-Obrog Udis saat bersiap ngobrog (MPI/Inin Nastain)

SELAIN ladang untuk beribadah, bulan Ramadan juga kerap ditemukan tradisi yang sudah berjalan turun temurun. Obrog-obrog adalah salah satu tradisi yang sering dan hanya ditemui saat Ramadan di Majalengka, Jawa Barat.

Obrog-obrog merupakan aktivitas membangunkan warga untuk mempersiapkan makan sahur, dengan cara berkeliling. Namun, cara membangunkannya, tidak hanya menggunakan suara semata.

Dalam aktivitasnya membangunkan warga, mereka juga mengiringinya dengan memukul berbagai benda-benda. Ember, galon, bahkan bambu, kerap menjadi alat musik dadakan saat mereka melakukan aktivitas tersebut.

 BACA JUGA: Tradisi Warga Tegal Semarakkan Ramadan, Begini Keseruan Bermain Sepak Bola Api

Teriakan 'sahuuuur, sahuuuur,' menjadi ciri khas aktivitas mereka. Teriakan itu, bagi mereka tidak harus menyesuaikan nada dengan musik yang mereka mainkan dari Ember, Galon dan lain-lain.

Yang terpenting, ada suara pengiring teriakan mereka, sekaligus agar suasana lebih hangat. Pasalnya, mereka sudah mulai beraktivitas sejak sekitar pukul 01.00 WIB. Di beberapa daerah, di waktu tersebut masih cukup sepi.

 

Rio bersama kawan-kawannya adalah contoh kecil dari sekelompok remaja yang melakukan aktivitas tersebut. Bermodalkan ember, galon bekas, mereka ngobrog (melakukan aktivitas obrog-obrog) berkeliling rumah, setidaknya dua sampai 3 RT, untuk membangunkan warga Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.

"Bergilir. Misalnya malam ini, ke daerah 1, besoknya ke daerah 2. Ya keliling aja. Mulai dari jam 1 an lah," kata Rio.

 BACA JUGA: Mengenal Tradisi Padusan di Jepara, Simbol Membersihkan Diri

Bersama teman-temannya, sebelum memulai ngobrog, Rio bisanya berkumpul di satu titik. Saat berkumpul, mereka sudah membawa beberapa barang bekas yang akan digunakan untuk ngobrog.

Dalam aktivitas ngobrog, ada sekitar 5 sampai 6 orang remaja yang ikut berkeliling. Mereka biasanya sudah tahu tugasnya masing-masing, siapa yang memukul barang-barang bekas, teriak 'sahur' atau bahkan sekedar tepuk tangan, agar suara lebih variatif.

"Temen-teman yang biasa main bareng aja, tetangga-tetangga. Ini nanti sampai akhir bulan puasa," jelas dia.

Setelah satu bulan ngobrog, beberapa hari menjelang lebaran, biasanya mereka memindahkan waktu aktivitas ngobrognya. Perpindahan waktu sengaja dilakukan setiap mendekati lebaran, karena mereka akan 'mengumpulkan iuran' dari warga.

Namun, iuran itu tidak ditentukan besarannya. Bahkan jenisnya pun tidak harus sama. Beberapa warga biasanya memberikan beras dengan takaran dari mulai 1 gelas sampai dengan 1 kilogram.

Ada juga yang ngasih dalam bentuk uang. Namun, itu pun bukan merupakan kewajiban. "Se-dikasih-nya aja. Nanti biasanya berasnya dijual, terus uangnya dibagi-bagi. Buat lebaran," papar dia.

 Ilustrasi

Selain menggunakan barang-barang bekas, beberapa kelompok juga menggunakan alat musik modern dalam melakukan aktivitas Obrog-nya itu. Hal itu seperti dilakukan Udis dan kawan-kawan di Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan/Kabupaten Majalengka.

Seperti halnya kelompok musik modern, Obrog-obrog kelompok Udis ini menggunakan alat-alat musik kekinian, seperti Gitar dan lain-lain. Bahkan, dalam melakukan aktivitasnya, kelompok Obrog-obrog Udis ini dilengkapi Genset, untuk mendukung alat-alat musiknya, termasuk towa.

"Dengan suka rela kami membangunkan sahur warga sekitar sini. Dari sisi lain menjalankan kewajiban ibadah puasa di bulan Ramadan juga mudah-mudahan ini bisa menjadi ladang ibadah kami," kaya Udis.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini