Share

5 Tradisi Unik Perayaan Paskah di Indonesia, Kure hingga Buha-Buha Ijuk

Ahmad Haidir, Jurnalis · Jum'at 15 April 2022 21:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 15 406 2579723 5-tradisi-unik-perayaan-paskah-di-indonesia-kure-hingga-buha-buha-ijuk-41HZI09GdH.jpg Semana Santa Paskah (Indonesia Travel)

SETIAP tahunnya, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Hari Paskah untuk mengenang kematian sekaligus kebangkitan Yesus Kristus. Untuk tahun ini, momentum itu akan jatuh pada 17 April 2022.

Peringatan Hari Paskah biasanya identik dengan kelinci dan telur Paskah. Perayaan itu adalah hal yang mainstream yang berasal dari kebudayaan barat kontemporer.

Namun tahukah kamu bahwa di Indonesia, terdapat sejumlah daerah yang memiliki ritual dan adat istiadat untuk merayakan Paskah dengan cara berbeda. Penasaran? Berikut ini MNC Portal Indonesia sajikan 5 tradisi unik perayaan paskah di Indonesia!

1. Kure, Nusa Tenggara Timur

Adalah sebuah tradisi Paskah yang dirayakan oleh masyarakat Kote di kota Noemuti, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur yang berlangsung pada Kamis Putih dan Jumat Agung, dimana umat Katolik setempat akan berjalan sebagai peziarah dari satu rumah ke rumah lain untuk berdoa bersama dan merenungkan Sengsara Yesus Kristus.

Ilustrasi

Telur Paskah

Kata Kure sendiri berasal dari kata Latin 'Currere' yang artinya berlari atau berjalan. Umat paroki mengatakan bahwa tradisi tersebut merupakan warisan misionaris Portugis yang memperkenalkannya pada tahun 1642.

Ritual dimulai dengan pembersihan salib dan patung Yesus Kristus dan Bunda Maria dan diakhiri dengan persembahan berupa uang, buah-buahan, sayur mayur dan lontar yang dipersembahkan kepada Tuhan. Sesajen ini kemudian dibagikan kepada para peziarah, kelompok doa dan peserta ritual lainnya.

2. Semana Santa, Flores Timur

Adalah tradisi paskah unik lain dari masyarakat NTT tepatnya Flores Timur yang telah menjadi sebuah parade budaya dan keagamaan yang bernilai wisata.

Semana Santa berasal dari Bahasa Portugis yang artinya Pekan Suci, dimana ritual ini dilakukan setelah Jum’at Agung dan dilaksanakan usai ziarah ke Kapel Tuan Ma, nama Bunda Maria menurut masyarakat setempat.

Keunikan dari tradisi ini adalah masyarakat setempat akan melakukan serangkaian ritual, mulai dari berdoa mengenang pengkhianatan Kristus yang dilakukan oleh Yudas Iskariot, lalu memandikan patung Bunda Maria, hingga puncaknya adalah arak-arakan patung Yesus dan Bunda Maria secara bersamaan yang berlangsung dengan khidmat.

 

3. Tradisi Jalan Salib Wonogiri

Jalan Salib adalah satu ritual dalam merayakan Paskah yang berasal dari Abad Pertengahan, dimana salah satu yang paling terkenal di Indonesia adalah Tradisi Jalan Salib ala masyarakat Wonogiri, Jawa Tengah.

Setiap tahunnya warga setempat akan melakukan tradisi ini saat hari Jum’at Agung dengan cara berjalan memanggul salib ukuran raksasa ke puncak Gunung Gandul dengan jarak tempuh sekitar kurang lebih 3 kilometer.

Ritual itu dilakukan sebagai gambaran dan napak tilas penderitaan Tuhan Yesus yang berjalan sambil memangku salib hingga ke Bukit Golgota. Di mana di tempat tersebut Dia akan disalibkan.

4. Momento Mori, Kalimantan Tengah

Momento Mori adalah bahasa Latin untuk 'ingatlah kamu akan mati' dan diyakini bahwa tradisi ini diperkenalkan pada abad ke-19 selama penjajahan Belanda.

Ritual ini dilakukan masyarakat Kristiani Kalimantan Timur pada Sabtu Suci dan melibatkan jemaah anggota keluarga di kuburan orang yang dicintai. Keluarga akan berkumpul sepanjang malam hingga fajar keesokan harinya di mana mereka akan menyalakan lilin dan mengatur bunga di atas makam.

Saat fajar menyingsing di hari Minggu Paskah, akan disediakan tenda oleh gereja bagi para peziarah untuk melanjutkan perayaan dan ibadah Paskah mereka.

 Ilustrasi

5. Buha-buha Ijuk, Sumatra Utara

Serupa namun tak sama dengan Momento Mori, masyarakat Sumatra Utara punya tradisi unik merayakan paskah dengan cara berziarah ke makam keluarga atau orang yang dicintai bernama Buha-buha Ijuk yang dilangsungkan tepat di Minggu Paskah nya.

Ritual yang biasa dilakukan masyarakat Pangan Bolon, Nagasaribu, dan Parapat ini dilakukan pada pagi buta yakni jam 04.00 WIB dengan arahan lonceng gereja. Setelah lonceng dibunyikan, masing-masing jamaah keluar rumah dan berjalan menuju makam keluarganya. Selesai berziarah, mereka akan melanjutkan dengan kegiatan beribadah di gereja.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini