Share

Ada yang Sampai 2 Juta Orang, Ini 5 Negara Paling Gencar Kerahkan Buzzer

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis · Sabtu 16 April 2022 13:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 16 408 2579995 ada-yang-sampai-2-juta-orang-ini-5-negara-paling-gencar-kerahkan-buzzer-XsGyqutMqB.JPG Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

5 NEGARA yang paling gencar kerahkan buzzer. Pada 26 September 2019 lalu, Oxford Internet Institute di bawah University of Oxford merilis laporan The Global Disinformation Order berjudul '2019 Global Inventory of Organized Social Media Manipulation', laporan itu mengungkap manipulasi media sosial yang terorganisir di 70 negara.

Dalam laporan itu, 70 negara yang diteliti digolongkan dalam 4 kategori sesuai tinggi-rendahnya peran buzzer yang diandalkan pemerintah. Kategori tersebut meliputi kapasitas tinggi, sedang, rendah, minimal.

Artinya, negara-negara yang masuk kategori kapasitas tinggi sangat mengandalkan buzzer dalam menyebarkan propagandanya. Mereka rela merekrut tim berjumlah banyak, memberi pelatihan formal pada buzzernya, dan menggelontorkan dana yang jumlahnya tidak sedikit.

Berdasarkan laporan '2019 Global Inventory of Organized Social Media Manipulation', ini 5 negara yang paling gencar mengerahkan buzzer.

Arab Saudi

Serupa dengan Iran, Arab Saudi juga termasuk negara paling mengandalkan Facebook dan Twitter untuk menyebarkan propagandanya ke luar negeri. Diperkirakan mereka rela merogoh 150 poundsterling (Rp2,6 juta) demi menciptakan satu tagar Twitter yang masuk daftar 'trending'.

Infografis negara penghasil wanita cantik di Asia Tenggara

Israel

Dilaporkan tim buzzer di Israel beranggotakan 400 orang. Tak main-main, mereka juga mendapat pelatihan formal. Serupa dengan China, mereka juga berstatus sebagai staf permanen. Nilai kontraknya pun bervariasi, mulai dari USD778 ribu (Rp11 miliar) hingga USD100 juta (Rp1,4 triliun).

China

Dalam laporan itu, tim buzzer China diperkirakan berjumlah 300 ribu hingga 2 juta orang. Bahkan, mereka berstatus staf permanen serta bekerja di kantor lokal dan regional.

Memblokir media sosial global seperti Facebook, Twitter, dan YouTube, pemerintah China menyebarkan propagandanya melalui media sosial domestik, seperti Weibo, WeChat, dan QQ.

Namun, di tahun 2019, mereka mulai membidik media sosial global untuk mencitrakan aktivis demokrasi Hongkong sebagai gerakan radikal kekerasan untuk membendung penyebarannya. Selain itu, Negeri Tirai bambu ini giat mengembangkan kecanggihan teknologinya sebagai geopolitik.

Venezuela

Dipimpin Nicolas Maduro yang tergolong diktator, pemerintah negara Amerika Latin ini rupanya juga mengandalkan buzzer untuk menyebarkan propaganda. Tim buzzer Venezuela diperkirakan berjumlah 500 orang.

Tak hanya itu, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan mereka mendapat pelatihan formal. Statusnya pun merupakan staf permanen sama halnya dengan China. Meski begitu, tak disebutkan berapa dana yang digelontorkan untuk membiayai para buzzer ini.

Iran

Iran merupakan salah satu negara yang menyebarkan pengaruhnya ke luar negeri lewat kecanggihan teknologi. Media sosial Facebook dan Twitter menjadi perantaranya. Dalam laporan tersebut, tak disebutkan berapa jumlah buzzer yang dimiliki Iran.

Namun, negara itu rela menggelontorkan dana cukup besar demi menyebarkan propagandanya lewat media sosial. Iran terhitung telah merogoh USD6.000 (Rp84,9 juta) untuk mengiklankan propagandanya di Facebook.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini