Share

Mengenal Masjid Cangaan, Saksi Perkembangan Islam di Bojonegoro Sejak Era Mataram

Avirista Midaada, Jurnalis · Senin 18 April 2022 09:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 17 408 2580246 mengenal-masjid-cangaan-saksi-perkembangan-islam-di-bojonegoro-sejak-era-mataram-T4GnUV72eR.jpg Masjid di Bojonegoro (MPI/Avirista)

MASJID Nurul Huda di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro menjadi bukti Islam telah masuk ke wilayah Bojonegoro cukup lama. Masjid di tepi Bengawan Solo ini konon dirikan oleh pasukan Kerajaan Mataram Islam yang kabur menghindari serbuan pasukan penjajah Belanda. Bangunan ini mungkin sekilas tak ada yang berbeda dibandingkan masjid-masjid lainnya pada umumnya.

Konstruksinya lebih modern, diawali dengan pintu gapura berwarna putih dengan pagar hijau menyambut setiap jemaah yang datang.

Dari bangunan inti masjid seluas 15 x 15 meter ini juga tampak modern, dengan struktur dominasi tembok warna putih dengan pilar-pilar yang berlapis keramik, seperti sebuah bangunan yang baru saja dibangun.

Namun, saat kita melihat bagian teras masjid depan, bisa jadi anda terkejut. Daun pintu berbahan baku kayu jati kuno yang terletak di pintu depan masuk masjid. Di daun pintu ini bertuliskan sebuah huruf arab dan huruf aksara jawa.

infografis

Tak ketinggalan dua kalimat bertuliskan 'Laa Ilaha Illallah' di kanan dan 'Muhammad Rasulullah' di kiri dengan huruf arab gundul.

Di bawahnya terdapat tulisan 1262 H menggunakan angka arab yang menandakan tahun renovasi ketiga, atau bila dikonversi ke tahun Masehi yakni 1847 Masehi. Belum lagi konstruksi bangunan di dalam masjid dengan 4 pilar utama di ruangan ibadah utama tampak bahwa masjid ini bukan masjid baru yang dibangun. Meski secara keseluruhan konstruksi lebih modern.

Ketua Takmir Masjid Jami' Nurul Huda Cangaan, Abdul Hakim membenarkan, masjid yang berada di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro ini merupakan masjid tertua di Bojonegoro. Salah satu warisan yang dipertahankan ada pada daun pintu di pintu masuk dan empat tiang yang ada di tengah masjid yang masih dipertahankan.

"Memang masjid ini tertua di Bojonegoro. Jadi tulisan 1262 H di daun pintu merupakan renovasi ketiga dari waktu berdiri awalnya masjid. Kalau masjidnya didirikan lebih tua dari itu," ungkap Abdul Hakim.

Menurut Hakim, Masjid Jami Nurul Huda ini didirikan oleh bagian Kerajaan Mataram Islam asal Solo yakni Ki Ageng Wiroyudo. Ki Wiroyudo demikian nama akrab beliau, yang kemudian berganti nama menjadi Abdul Hamid, usai pergi haji, kabur dari Kerajaan Mataram lantaran wilayah kerajaan diserang Belanda dan ia pun melarikan diri menelusuri Sungai Bengawan Solo hingga terdampar di Desa Piyak, Kecamatan Kanor.

"Jadi dari cerita nenek moyang dahulu Mbah Buyut Wiroyudo dengan nama Ki Ageng Wiroyudo ini kabur dari Mataram karena dikejar Belanda. Naik perahu bersama pasukan lainnya dan terdampar di Desa Piyak. Lalu setahun di Piyak, pindah ke sini (Cangaan)," ucapnya.

Di Desa Cangaan inilah, Wiroyudo akhirnya mendirikan masjid tahun 1775 M untuk tempat ibadah dan menyebarkan ajaran agama islam. Awalnya bangunan Masjid Nurul Huda hanya berkonstruksikan kayu dengan atapnya berasal dari alang - alang dan daun jati.

"Dulu sebelum dipugar, masjid tersebut atapnya terbuat dari alang-alang dan daun jati," bebernya.

Sejak berdiri tahun 1775 M hingga saat ini, masjid sudah direnovasi 5 kali, daun pintu dan 4 pilar di masjid yang masih dipertahankan merupakan hasil renovasi ketiga tahun 1262 H atau 1847 M.

"Jadi ini daun pintu menunjukkan renovasi ketiga itu tahun 1262 H. Sebelumnya masjid ini sudah ada lama dan digunakan sebagai tempat penyebaran islam di Cangaan dan sekitarnya," tuturnya.

Selain konstruksi dasar bangunan masjid yang masih dipertahankan, terdapat sejumlah peninggalan kuno yang masih tersimpan mulai dari karpet merah, keris, dan tombak milik Ki Wiroyudo yang tersimpan dalam peti kayu jati yang juga usianya diperkirakan sudah mencapai 342 tahun.

"Ada peninggalan karpet merah, tombak, dan keris yang tersimpan dalam peti kayu. Itu semua barang dari Ki Wiroyudo. Bahkan karpet merah itu pernah dipakai pemerintah Bojonegoro menyambut kedatangan Bung Karno waktu berkunjung ke Bojonegoro," katanya.

Tak ketinggalan pula, jam matahari atau sundial sebagai alat yang menunjukkan waktu masuk salat sebelum adanya jam, atau masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama benjet. Benjet ini kini diletakkan di halaman depan masjid, sebagai penghias bangunan masjid lantaran sudah ada jam.

Sayang konstruksi Masjid Nurul Huda ini memang lebih modern, pasalnya faktor alam terpaan banjir jadi alasan utamanya. Beberapa renovasi menyeluruh dilakukan di tahun 2014 hingga 2015. Ya, letaknya yang berjarak sekitar 100 meter dari Sungai Bengawan Solo membuat masjid ini rentan tergenang banjir dari aliran anak Sungai Bengawan Solo yang ada tak jauh juga dari bangunan masjid.

"Kami sengaja meninggikan 1 meter karena kalau banjir ini setiap Salat Jumat tidak bisa digunakan. La masak kalau lagi banjir sebulan bisa 2 kali kebanjiran, terus gak salat Jumat," tutur Hakim.

Maka faktor itulah yang akhirnya membuat konstruksi sebagian besar masjid diperbarui dan terkesan lebih modern.

"Sebenarnya sayang kalau dipugar dari bangunan aslinya. Tapi mau bagaimana lagi harus ditinggikan, tapi tidak mengubah gaya arsitek lama masjid hanya ditinggikan dan terlihat lebih modern saja," katanya.

Alhasil karena itulah, beberapa konstruksi masjid seperti marmer kuno yang ada di bagian depan masjid sebagian rusak dan disusun ulang dan diletakkan di bagian samping kiri masjid.

Selain konstruksi masjid yang jadi 'korban' alam, terdapat kitab - kitab tulisan huruf arab kuno karya Ki Ageng Wiroyudo yang bertuliskan tangan di sebuah kertas yang sudah berusia ratusan tahun juga harus rusak termakan ganasnya alam.

"Ada Kitab tulisan arab gundul peninggalan Mbah Buyut Wiroyudo, dari tulis tangan berbahan kertas, sekarang rusak terkena banjir," ujarnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini