Share

4 Negara Konflik yang Berhasil Dibikin Adem Indonesia, Bukti Ibu Pertiwi Serius Ciptakan Perdamaian

Ahmad Haidir, Jurnalis · Kamis 05 Mei 2022 00:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 04 408 2589222 4-negara-konflik-yang-berhasil-dibikin-adem-indonesia-bukti-ibu-pertiwi-serius-ciptakan-perdamaian-3MKPHfTaeH.JPG Menlu RI, Marty Natalegawa (tengah) menjadi mediator konflik antara Thailand dan Kamboja pada 22 Februari 2011 (Foto: AP)

TERDAPAT 4 negara konflik yang berhasil dibuat adem oleh Indonesia. Sebagai negara besar dan anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia juga ikut berperan aktif dalam melakukan upaya perdamaian dunia.

Usaha Indonesia menjadi negara yang mewujudkan perdamaian dunia bukan julukan semata. Buktinya, dari beberapa sengketa yang terjadi, negara kita berhasil menemukan titik tengah agar tidak terjadi konflik panjang. Negara mana sajakah? Dihimpun dari berbagai sumber, simak selengkapnya berikut ini.

1. Konflik etnis Rohingya vs Myanmar

Konflik Rohingya sempat panas pada zamannya. Hal itu membuat Indonesia terketuk untuk membantu, menolong, dan menyelesaikan kasus ini, mengingat Indonesia sebagai negara non-blok yang menjunjung perdamaian dunia.

Oleh karenanya, sejak cerita konflik etnis Rohingya viral, pemerintah Indonesia langsung menghubungi Myanmar untuk mengetahui keadaan sebenarnya yang ada di sana.

Tak sampai di situ, bahkan Menlu Indonesia Retno Marsudi sampai datang ke sana menemui Aung San Suu Kyi membicarakan masalah perdamaian yang ada di sana. Perlu di garis bawahi kalau Indonesia jadi negara pertama yang diperbolehkan datang ke sana, lantaran dipercaya bisa membantu menyelesaikan konflik.

Menlu Retno menyampaikan usulan Indonesia yang disebut Formula 4+1 untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Myanmar. Pertama, mengembalikan stabilitas dan keamanan. Kedua, agar militer Myanmar menahan diri dan tidak menggunakan kekerasan.

Ketiga, mendorong pemerintah Myanmar memberikan perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State tanpa memandang suku dan agama. Keempat, membuka akses untuk bantuan keamanan.

2. Konflik Kamboja dan Vietnam

Tak banyak tahu, Kamboja dan Vietnam pernah bersitegang. Bahkan, masing-masing prajuritnya sudah dikirim ke daerah perbatasan. Beruntungnya ada Indonesia yang menjadi negara penengahnya, sehingga tidak sampai perang yang mengorbankan nyawa bisa terjadi.

Infografis negara penghasil wanita cantik di Asia Tenggara

Di sini, Indonesia berperan sebagai tuan rumah Jakarta Informal Meeting (JIM) untuk menyelesaikan konflik antara Kamboja dan Vietnam pada 1988-1989.

Ya, Indonesia berhasil menjadi mediasi kedua negara yang sedang bermusuhan untuk bisa duduk bersama-sama mendiskusikan dan menyelesaikan konflik di antara mereka.

Setelah perwakilan kedua negara didudukan bersama dalam satu meja, akhirnya kesepakatan pun bisa tercapai. Alhasil, Vietnam pun menarik pasukannya dari tanah Kamboja dan situasi damai pun tercipta.

3. Konflik etnis Filipina

Jasa Indonesia pada Filipina mungkin tak bisa dilupakan. Tepatnya pada masa pemerintahan orde baru, negara yang terletak di utara Indonesia itu sempat mengirimkan perwakilan untuk menyelesaikan konflik suku Moro yang mencoba merdeka dari Filipina.

Indonesia lantas bergegas membantu dengan syarat kalau etnis Moro harus diakui dan tetap menjadi bagian dari Filipina. Tak sampai di situ, beberapa tahun kemudian Filipina datang kembali ke Indonesia konflik muslim Mindanao.

Dengan Indonesia sebagai penengah atas konflik yang ada, tak sampai kejadian buruk terjadi, semua diselesaikan secara damai.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

4. Thailand vs Kamboja

Thailand dan Kamboja pernah terlibat konflik akibat sengketa Kuil Preah Vihear yang terletak antara distrik Kantharalak di Provinsi Sisaket dan distrik Choam Khsant di provinsi Preah Vihear. Thailand mengklaim demarkasi belum selesai untuk wilayah luar kuil. Sengketa ini kemudian meluas ke kompleks Ta Moan Thom.

Kala itu perseteruan di antara mereka berjalan cukup panas. Bahkan tak menutup kemungkinan terjadinya perang jika dibiarkan begitu saja. Di saat kemelut memuncak, Indonesia, mengadakan sebuah pertemuan informal dengan Menteri Luar Negeri ASEAN.

Menlu kala itu, Marty Natalegawa yang saat itu tengah menjabat mencoba mencari solusi atas konflik yang dilatarbelakangi sengketa kuil atas kedua negara.

Akhirnya, Marty melakukan shuttle diplomacy, menemui Menlu Kamboja Hor Nam Hong di Phnom Penh dan Menlu Thailand Kasit Piromya di Bangkok untuk mendapatkan informasi dari pihak pertama.

Bersama-sama dengan Menlu Thailand dan Kamboja, Menlu Marty pun ke New York untuk memberikan pertimbangan dan masukan mengenai peran ASEAN dalam menyelesaikan konflik internal di kawasan.

Langkah ini terbukti efektif dengan stabilnya kembali wilayah konflik di perbatasan Thailand dan Kamboja. Beruntung tak ada peperangan atau pertumpahan darah terjadi atas sengketa ini.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini