Share

Pengemis Sapu Lidi dan Mitos Jembatan Sewo Indramayu

Melati Septyana Pratiwi, Jurnalis · Selasa 17 Mei 2022 18:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 16 406 2594833 pengemis-sapu-lidi-dan-mitos-jembatan-sewo-indramayu-LNQzFsJl0X.jpg Jembatan Sewo Indramayu (dok ANTARA)

BAGI traveler yang langganan melewati kawasan Jembatan Kali Sewo pasti sudah tak asing lagi dengan kehadiran pengemis sapu lidi. Jembatan perbatasan antara Indramayu dan Kabupaten Subang, seolah sudah beralih fungsi menjadi ladang rezeki bagi warga sekitar.

Mulai dari anak-anak hingga lansia pun tak ingin ketinggalan mengais recehan dari para pelintas. Sesuai julukan mereka yakni 'Pengemis Sapu Lidi' , mereka tak tangan dengan tangan kosong, melainkan membawa sapu lidi bergagang panjang.

Ketika ada mobil yang membuka kaca dan meleparkan koin, para pengemis sapu lidi akan sigap menunggu. Mereka begitu gesit menyeret koin tersebut menggunakan sapu lidi.

infografis

Perlu diingat pula, jumlah pengemis sapu lidi tak hanya hitungan jari. Jika dihitung mungkin bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan.

Untuk itu lah, pengemudi mobil pribadi, bus, hingga truk perlu berhati-hati dan sebisa mungkin memperlambat laju kendaaraan.

Mitos Jembatan Sewo Indramayu

Kebiasaan warga mengemis pakai sapu lidi ini tidak datang secara tiba-tiba. Konon, ada kisah pilu dibalik itu yang menjadi cikal bakal kegiatan tersebut.

Kisah pertama berkaitan dengan kecelakaan dari sebuah mobil. Entah bagaimana kronologi pastinya, mobil tersebut dikabarkan terjun ke sunga saai melintasi Jembatan Sewo.

Dari peristiwa malang itu, para pelintas Jembatan Sewo percaya bahwa satu cara untuk menghindari mereka dari mara bahaya adalah melempar uang. Lambat laun, kebiasaan itu pun seolah dianggap tradisi dan para akhirnya segelintir warga menjadikan uang-uang itu sebagai penghasilan tambahan, terutama saat hari lebaran tiba.

Tapi ada satu kisah lagi yang tak kalah fenomenal. Awal mula hadirnya pengemis sapu lidi dipercaya bermula dari kejadian pahit yang dialami kakak beradik bernama Saidah dan Saeni.

Menurut legenda yang beredar, Saidah dan Saeni rutin mengemis di Jembatan Sewo Indramayu demi kebutuhan hidup. Sebenanrya mereka bukan hanya menghabiskan waktu untuk mengemis, melainkan juga mengisi pentas seni tari Ronggeng.

Hingga pada suatu ketika, nyawa mereka pun berakhir di sekitar jembatan.

Warga percaya arwah Saedah maupun Sani masih bersemayam di sana. Alhasil, muncul lah ritual lempar uang sebagai bentuk 'saweran' kakak beradik itu.

Adapun kebiasaan warga mengemis pakai sapu lidi ini sebenarnya terbilang cukup berbahaya. Kendati demikian, 'tradisi' satu ini juga sulit dihilangkan. Pihak kepolisian setempat berusaha maklum dan tetap mengatur keamanan lalu lintas di tengah kehadiran pengemis sapu lidi. (nia)

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini