Share

Masyarakat Adat Akhirnya Restui Pembangunan Ekowisata Hutan Bowosie Labuan Bajo

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 19 Mei 2022 14:59 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 19 406 2596767 masyarakat-adat-akhirnya-restui-pembangunan-ekowisata-hutan-bowosie-labuan-bajo-1b2AJIIlHK.JPG Labuan Bajo, salah satu destinasi super prioritas (Foto: Instagram/@irvanwowor)

RENCANA pengembangan dan pembangunan ekowisata di kawasan Bowosie oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), didukung oleh masyarakat adat Kampung Lancang, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Hal itu diungkapkan oleh Tua Golo (Ketua Adat) Lancang, Theodorus Urus.

"Jika tanah ini dibangun untuk pariwisata justru kami dukung, karena itu milik pemerintah. Yang nantinya berimbas bagi kami warga Lancang dan Manggarai Barat umumnya. Sehingga anak-anak kami bisa kerja disana nantinya," kata Tua Golo (Ketua Adat) Lancang, Theodorus Urus.

Ia menjelaskan, dirinya dan masyarakat Lancang mendukung penuh rencana pemerintah untuk mengelola lokasi Bowosie. Namun di sisi lain, ia menyesalkan bahwa ada kelompok tertentu yang melakukan perambahan, sehingga merusak sekitarnya.

Infografis Labuan Bajo

"Kita kesal karena lahan hutan dirusak oleh kelompok masyarakat yang bukan warga wilayah Nggorang ataupun golo Lancang," terangnya.

Pihaknya tak keberatan apabila pemerintah melalui BPOLBF yang menata hutan Bowosie. Namun ia juga berharap, pengelola bisa mensosialisasikan dampak baik maupun buruk untuk ke depannya nanti, dikarenakan terdapat pembangunan di lahan hutan tersebut.

Sementara itu, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi mengharapkan agar masyarakat mendukung program pemerintah. Terkait dengan rencana pengembangan dan pembangunan ekowisata di kawasan Bowosie.

"Dan sebagai kota pariwisata, kita harus ciptakan situasi yang kondusif," terangnya.

Bupati Edistasius menyampaikan, di dalam dokumen yang pemerintah miliki bahwa program IP4T itu sudah dilakukan inventarisasi.

Pengusul sebanyak 250 orang. Namun setelah diverifikasi oleh tim yang komponennya ada Pemda, BPN dan KPH, tertinggal 200 orang dengan Total luas lahan itu kurang lebih 13,8 ha.

Berdasarkan sejarah, secara ulayat kawasan Bowosie merupakan milik Ulayat Nggorang. Pada 1960, fungsionaris adat ulayat Nggorang menyerahkan kawasan Bowosie kepada tetua adat Lancang.

Namun kemudian, pada 1961 Raja Ngambut meminta kepada ulayat Nggorang untuk menyerahkan sebagian tanah tersebut kepada pemerintah.

Kemudian disisi lain, tanah yang dimintai Raja Ngambut telah diserahkan dan dikuasai oleh Kampung Lancang. Walau begitu hasil rembuk kampung Lancang dan Ulayat Nggorang, diputuskan bahwa sebagian tanah itu diserahkan kepada pemerintah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini