Share

Menjelajahi Cita Rasa Restoran Indonesia di Hanoi, Manjakan Lidahmu!

Antara, Jurnalis · Minggu 22 Mei 2022 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 21 301 2597795 menjelajahi-cita-rasa-restoran-indonesia-di-hanoi-manjakan-lidahmu-LUnd6JNYTW.jpg Restoran Indonesia di Hanoi (ANTARA)

BANYAK pemburu kuliner dunia mengakui bahwa masakan Indonesia memiliki cita rasa tinggi dengan ciri kuat rasanya yang strong lantaran banyaknya bumbu.

Supaya bisa diterima di negara lain seperti di Vietnam, tentu dibutuhkan strategi khusus, dan ini yang dilakukan Restoran Halal Batavia yang merupakan satu-satunya restoran masakan Indonesia di Hanoi.

Berada di kawasan elit Vietnam, Ba Dihn atau sekitar 300 meter dari Museum Ho Chi Minh, restoran ini selalu ramai dari pukul sembilan pagi hingga 10 malam waktu setempat.

“Lidah orang di sini (Vietnam) beda sekali dengan Indonesia. Mereka tidak suka pedas tapi cenderung suka asam, asin dan selalu pakai minyak ikan,” kata Chef Yudi saat disambangi di dapur restoran tersebut.

infografis

Bagi Yudi yang sudah bekerja di restoran tersebut selama tiga tahun, ini menjadi tantangan tersendiri apalagi warga lokal tergolong militan terhadap masakan negara sendiri.

Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan khusus tata boga asal Jakarta ini pun harus pintar dalam meracik bumbu sehingga masakannya bisa mendekati selera Hanoi.

Ia menyadari ini sangat penting karena menjadi penentu keberhasilan dalam menjalankan bisnis rumah makan. Awalnya agak sulit, bahkan tak ada satu pun warga Hanoi yang singgah ke restorannya. Pengunjung hanya didominasi warga asing yang merupakan pemburu masakan halal, seperti asal Malaysia dan sejumlah negara muslim lainnya.

Namun, seiring waktu, pengunjung semakin beragam hingga mereka yang berasal dari Jepang dan Korea. Lebih membanggakan lagi, kini restoran ini mulai banyak dikunjungi warga lokal.

Untuk menggaet minat warga lokal, Yudi harus meracik beberapa bumbu yang levelnya harus diturunkan sedikit dari cita rasa asli Indonesia. Terkadang ia harus membuat sendiri kecap manis karena keinginan Hanoi memang berbeda.

Demi menjaga cita rasa Indonesia, sejumlah bumbu didatangkan langsung dari Indonesia seperti kapulaga, jinten dan kemiri. Bukan karena harga yang lebih murah, terkadang sulit mendapatkannya di Vietnam. Jika pun ada harganya terbilang mahal seperti kapulaga.

Dalam satu hari, bersama empat orang asistennya, Chef Yudi mampu menyediakan 200 menu makanan, termasuk juga menyediakan beberapa menu khusus asal negara Jepang, Korea dan Prancis.

“Yang paling disukai di sini itu nasi goreng, mie goreng, rendang, sop iga, dan gado gado. Untuk rendang, jangan dibilang bakal sama dengan rasanya di Indonesia karena sudah saya modifikasi sedikit,” kata pria asal Betawi-Bugis yang juga pernah bekerja di salah satu restoran India di Kota Brabat.

Pemilik Restoran Batavia, Nurlaela Hera mengatakan daya tarik utama dari restorannya itu terletak pada label halal itu. Hingga kini masih sulit dijumpai restoran halal di Hanoi karena untuk mendapatkannya harus diverifikasi oleh otoritas muslim setempat. Demi mendapatkan label halal itu, Nurlaela harus memastikan bahan-bahan masakan hingga produk yang dijual tidak mengandung bahan-bahan tak halal seperti mengandung daging babi dan minuman beralkohol.

“Di sini minum alkohol sudah menjadi gaya hidup, tapi kami tegaskan ke pengunjung tidak akan menjualnya. Bahkan membawa dari luar pun tidak boleh,” kata dia.

Nurlaela mulai merintis bisnis restoran ini pada 2017 bersama suaminya Azhar Rizal yang bekerja di Kedutaan Besar RI (KBRI).

Awalnya ia memulai bisnis kuliner ini berupa katering masakan halal untuk sekadar memenuhi permintaan kalangan internal KBRI.

Namun, lama kelamaan ia mendapati bahwa pesanan semakin bertambah banyak terutama dari luar KBRI. Terkadang ada pula warga Hanoi yang meminta dimasakkan nasi minyak.

Ia pun menangkap ini sebagai peluang bisnis yang sayang jika disia-siakan, sembari mendampingi suami yang menjadi diplomat.

“Saat awal-awal sekali, kami bahkan potong sendiri ayam. Tapi kini sudah tidak lagi, sudah ada yang menyediakan (pihak ketiga), termasuk untuk tempe dan tahu,” kata dia. Ibu tiga anak ini tak menyangkal bahwa tak mudah untuk menjalankan bisnis restoran halal masakan Indonesia ini.

Dibutuhkan kegigihan untuk tetap bertahan karena pangsa pasar yang dibidik yakni 60 persen warga Vietnam dan kalangan ekspatriat.

Ia tak mungkin membidik WNI karena warga Indonesia yang berada di kawasan tersebut tak melebihi 200 jiwa dari total 600 orang di Vietnam. Bahkan khusus di kawasan utara, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Vietnam hanya tercatat delapan orang.

Di sisi lain, warga Vietnam merupakan komunitas mayoritas non muslim yang dikenal sangat militan dengan masakan bangsanya sendiri.

Jelas ini menjadi tantangan luar biasa bagi pasangan suami istri asal Kalimantan Barat dan Jawa Tengah ini. Selain tentunya modal usaha yang relatif besar, ia juga harus mendatangkan tenaga kerja dari Indonesia demi mengangkat cita rasa masakan. Berawal di West Lake

Semula ia membuka restoran di depan danau terbesar di Hanoi, Danau West Lake.

Di lokasi elit itu, Nurlaela harus merogoh kocek cukup dalam karena sewa gedung tergolong tinggi. Namun ia diuntungkan karena penduduk sekitar sebagian besar kalangan ekspatriat sehingga sudah terbiasa icip-icip masakan dari beragam negara.

Selama dua tahun berbisnis di lokasi tersebut, bisa dikatakan Nurlaela dapat meraup banyak keuntungan. Bahkan ia rela berinvestasi dengan membangun restoran tiga lantai.

Namun, apa hendak dikata, secara tiba-tiba pemerintah setempat melakukan pelebaran jalan sehingga gedung yang sudah kadung direnovasinya itu terpaksa digusur. Tak ada pilihan lain selain mencari lokasi baru.

Kawasan Ba Dihn yang berdekatan dengan Museum Ho Chi Mihn akhirnya dipilihnya. Walau harus merintis lagi dari awal tapi setidaknya ia merasa beruntung karena bisa membuka restoran di kawasan wisata.

“Bisa dikatakan kami harus merintis dari nol lagi, tapi cukup diuntungkan karena terkadang pengunjung museum mengantre untuk masuk hingga ke depan restoran kami,” kata dia.

Para pengujung kini sebagian besar merupakan turis, yang juga sudah mengenal masakan Indonesia seperti nasi goreng, rendang, soto dan sate ayam. Walau bisnis belum pulih sepenuhnya seperti saat membuka restoran di lokasi pertama dan ada juga terdampak pandemi, tapi Nurlaela mensyukuri kini rumah makannya menjadi salah satu tujuan turis untuk bersantap disela-sela kunjungan ke Museum Ho Chi Mihn.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini