Share

Kisah Unik Bule yang Menjadi Mualaf karena Lumpia

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis · Selasa 24 Mei 2022 21:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 23 406 2598827 kisah-unik-bule-yang-menjadi-mualaf-karena-lumpia-lJTp62Ev6N.jpg Lumpia, salah satu makanan khas Semarang (Okezone)

KISAH bule yang menjadi mualaf karena lumpia. Lumpia termasuk salah satu makanan khas Semarang Jawa Tengah yang memiliki cita rasa unik. Tak heran banyak wisatawan yang menjadikannya sebagai buah tangan.

Selain sebagai makanan, nyatanya lumpia menjadi salah satu hal yang mengubah kisah bagi Bule asal Skotlandia. Karena lumpia, bule tersebut berhasil menjadi mualaf dan memeluk agama Islam.

Lantas, bagaimana kisah bule mualaf lantaran lumpia? Untuk lebih jelasnya, simak ulasan berikut ini.

Bule mualaf karena lumpia

Mengutip dari kanal YouTube Ape Astronout, Maya Wallace seorang mualaf membagikan kisahnya pada tahun 2009 silam. Gadis bule ini mulanya mengenal Islam dari teman-teman kerjanya yang akhirnya mengantarkannya untuk bersyahadat di masjid.

Maya mengaku bahwa sebelum jadi mualaf, ia sempat tak menyukai Islam karena agama yang dibawa Nabi Muhammad itu dianggap melegalkan terorisme. Tentu saja anggapan ini salah. Maklum saat itu Maya menjalani kehidupan remaja di Skotlandia dan tidak begitu mengenal Islam sesungguhnya.

Layaknya para remaja setempat, Maya kala itu hanya bersosialisasi di kelab-kelab malam dan tak segan minum alkohol. Namun, tak disangka tahun 2005 menjadi perkenalan pertamanya dengan agama Islam.

Kala itu, ia bekerja sebagai call center. Mayoritas pegawai di sana adalah orang Pakistan dan beragama Islam. Maya menceritakan bahwa teman-teman yang beragama Islam bukan seperti yang ia pikirkan selama itu.

Pada mulanya, Maya dan teman-teman kantornya itu hanya menjalani pertemanan biasa. Hanya saja, ia kerap memperhatikan kebiasaan teman-teman muslim yang selalu melakukan segala hal dengan terhormat. Sikap tersebut yang membuat Maya mulai memandang beda pada Islam.

Ramadhan menjadi salah satu momen yang paling berkesan ketika melihat teman-temannya buka puasa bersama. Ia mengungkapkan jika salah satu sahabatnya bernama Sam Shayma menyodorkan sekotak lumpia dan menawarkan.

Sejak saat itu, ia mulai bertanya banyak hal tentang Islam dan sikap agama Islam terhadap penganutnya. Menurutnya, sikap temannya yang menawari lumpia itu membuatnya merasa sangat dihormati dan membuatnya berpikir bahwa kebaikan ini adalah bagian dari Islam.

 Rentetan pertanyaan yang dilontarkan Maya dengan sigap dijawab oleh teman-temannya. Maya menyadari jika ada yang berbeda dari sikap penganut agama lain, ia selalu mendengar jawaban dari pertanyaannya berdasarkan dalil. Baik itu hadist, Al Quran dan sunnah di Islam serta tak pernah ada kalimat penekanan yang memaksanya percaya pada jawaban tersebut.

Setelah mendapat rentetan jawaban, Maya merasa sekadar mempelajari Islam belum cukup untuk dirinya mengenal Sang Pencipta. Terlebih, ia meyakini bahwa Islam adalah jalan hidup yang sudah seharusnya dijadikan sebagai jati diri.

Perasaan ragu masih ada di benak Maya sehingga ia mulai menjalani komitmen dengan menjalani 'Masa Percobaan'. Ia mulai mengenakan pakaian yang lebih sopan dan secara perlahan merasa mampu menjalaninya.

Meski begitu, keraguan masih melanda lantaran ia merasa ini akan menjadi komitmen seumur hidup nya kepada Allah sehingga butuh waktu lama untuk memiliki keberanian menjadi mualaf. Terkhusus keberanian untuk memberitahu keluarga tercinta. Setelah berdiskusi panjang bersama keluarganya mereka memahami kemauan Maya.

Ilustrasi

Maya secara perlahan memiliki keinginan berhijab. Pada awalnya, ia belum memahami konsep Islam dan apa keperluan hijab bagi muslimah. Ia pun bertanya dan seorang teman menjawab konsep hijab dengan analogi permen yang dibungkus dan tidak dibungkus. Perlahan tapi pasti, Maya memahami konsep hijab dan mencoba mengenakannya.

Namun, ketika Maya memberitahu sang ibu, ia mendapat cemooh dengan tangisan ibu di hadapannya. Melihat ibunya menangis lantaran ia memakai hijab, membuat Maya merasa sakit.

Terlebih, sang ibu menyebut jika hijab hanyalah bentuk penindasan pada perempuan. Maya pun memilih diam lantaran meski sudah memahami konsep hijab, Maya belum mampu mengatakannya secara jelas dan detail.

Hal itu pula yang akhirnya membulatkan tekad Maya untuk memakai hijab dan keluar dari rumah. Hingga akhirnya, ujian dari Allah itu berhasil diatasinya di momen wisuda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini