Share

Wuihh... Batik Motif Corona Jadi Seragam Delegasi KTT G20, Ini Maksud di Baliknya

Antara, Jurnalis · Sabtu 04 Juni 2022 03:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 03 406 2604788 wuihh-batik-motif-corona-jadi-seragam-delegasi-ktt-g20-ini-maksud-di-baliknya-bn79HgXzaG.JPG Pengrajin batik tulis di Pamekasan, Jawa Timur

PENGRAJIN batik tulis di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menyiapkan motif motif Corona, sebagai salah satu motif batik yang hendak dipamerkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan digelar di Bali pada November 2022.

"Selain batik dengan motif Corona, jenis motif batik lain yang juga akan dibawa ke Bali di KTT G20 itu, batik motif kembang tujuh rupa," kata perajin batik di Dusun Podhek, Desa Rangperang Daya, Kecamatan Palengaan, Hadi.

Motif batik Corona yang akan dipamerkan dan menjadi seragam delegasi KTT G20 di Bali itu, karena dirinya ingin menampilkan nuansa berbeda.

"Nuansa berbeda yang kami maksud, dari sebelumnya Corona itu menakutkan, menjadi sesuatu yang biasa, bahkan menyejukkan," katanya.

Dusun Podhek, Desa Rangperang Daya, Kecamatan Palengaan, ini merupakan satu dari 38 sentra batik tulis yang ada di Kabupaten Pamekasan.

Infografis Museum Batik

Di dusun ini ada 200 perajin batik tulis dengan jumlah pengusaha 26 orang. Selain perajin, Hadi juga merupakan pengusaha yang memiliki enam pekerja.

Pemkab Pamekasan menunjuk pengrajin batik tulis di Dusun Podhek, Desa Rangperang Daja, Kecamatan Palengaan, sebagai pemasok batik tulis yang akan dipamerkan di KTT G20.

Menurut Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Pamekasan Budi Bachtiar, penunjukan pengrajin batik asal Dusun Podhek itu, karena mereka biasa memproduksi batik tulis premium.

"Di Pamekasan ini, perajin batik tersebar di 11 kecamatan dari 13 kecamatan yang ada di kabupaten ini. Tapi pengrajin batik yang biasa memproduksi batik premium kebanyakan dari Dusun Podhek," katanya.

Selain itu, batik asal Dusun Podhek, Desa Rangperang Daya, itu juga telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, karena biasa mengikuti pameran di tingkat nasional.

Pada Tahun 2016, pengrajin batik asal dusun ini dipercaya membuat batik Sri Sultan Hamengkubuwono X, bahkan seorang perajin batik senior bernama Taslimah (90) pernah meraih penghargaan pada 2018 dari Yayasan Batik Indonesia.

Baca Juga: Masyarakat Depok Terbantu BLT BBM

Menurut Hadi, harga batik premium berbeda dengan harga batik tulis biasa, karena membutuhkan proses yang lama, antara dua hingga empat bulan, bahkan ada yang mencapai enam bulan.

"Minimal dua bulan, dan kalau bolak-balik, luar dan dalam dibatik, maka bisa lebih dari enam bulan," kata Hadi.

Karena itu, ia membagi harga batik tulis premium dalam tiga kelas, yakni antara Rp1-3 juta, lalu Rp3 hingga Rp6 juta dan antara Rp6 hingga Rp12 juta.

"Kalau batik tulis biasa, hanya ratusan ribu saja, tidak sampai jutaan," katanya.

Batik tulis hasil kerajinan warga Pamekasan ini akan menjadi seragam delegasi KTT G20 atas permintaan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno setelah melihat langsung acara Pamekasan Fashion Week (PFW) yang digelar April 2022.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini