Share

Cerita Warga Manfaatkan Bekas Stasiun KA Penting Era Kolonial

Avirista Midaada, Jurnalis · Senin 06 Juni 2022 14:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 05 549 2605823 cerita-warga-manfaatkan-bekas-stasiun-ka-penting-era-kolonial-m5QLXdmJ8W.jpg Stasiun Jagalan Malang Kini Jadi Permukiman Warga (dok MPI/Avirista)

STASIUN Jagalan Malang berubah fungsi menjadi permukiman warga usai lama tak difungsikan. Warga nekat mendirikan rumah di perlintasan rel kereta api bekas Stasiun Jagalan Malang, kendati setiap hari melintas KA BBM milik Pertamina.

Terlihat di lokasi, rel kereta api yang dulunya menjadi bagian dari Stasiun Jagalan Malang berjarak 1,5 meter di depan rumah-rumah warga yang menyulap bangunan utama stasiun.

Sejumlah bangunan penduduk tampak padat dari ujung utara ke selatan. Bangunan Stasiun Jagalan hanya menyisakan bagian atap, lantai bermotif kotak-kotak kecil, dan temboknya saja.

infografis

Sisi barat bangunan bekas stasiun sudah tertutup lapak dagangan warga, sedangkan di sisi timur yang berbatasan dengan rel kereta api yang mengarah ke Depo Pertamina, dihuni sejumlah kepala keluarga yang memanfaatkan bangunan Stasiun Jagalan.

Stasiun Jagalan sendiri merupakan stasiun penting di masa pemerintahan Belanda di Indonesia. Stasiun ini merupakan salah satu bangunan bersejarah di kancah perkeretaapian era pemerintahan Belanda. Saat itu stasiun ini difungsikan sebagai pusat kendali perusahaan operator kereta api swasta bernama Malang Stoomstram Maatschappij.

Stasiun dibuka pada 20 Juli 1879 oleh Malang Stoomstram Maatschappij yang disingkat MS, yang melayani pendistribusian sumber daya alam (SDA) dari wilayah selatan Malang hingga ke Surabaya. Jaringan rel kereta apinya membentang ke dalam kota, yang kini menjadi jalan protokol salah satunya di kawasan Kayutangan heritage.

Seorang warga bernama Yanto mengaku sudah hampir 10 tahun lebih tinggal di rumah yang didirikan pada bekas Stasiun Jagalan Malang. Ia menyatakan awalnya tinggal di bekas bangunan stasiun dengan menyewanya kepada petugas PJKA.

"Kebetulan saya ikut istri tinggal disini. Awalnya mertua yang menyewa kepada petugas PJKA sekarang PT KAI itu," ucap Yanto ditemui depan rumahnya, pada Minggu (5/6/2022).

Saat ini dikatakan Yanto, ada ratusan kepala keluarga yang mendiami kawasan eks Stasiun Jagalan Malang. Mereka masuk lingkungan RT09,10, 11,12/RW06, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

"Sekitar 300 lebih KK tinggal disini. Ada empat RT, Jalan Kyai Tamin Gang 1A, B, dan C. Seperti saya, mereka juga sudah lama tinggal disini," tuturnya.

Bangunan stasiun yang luas itu dibagi menjadi beberapa sekat dan dihuni oleh sejumlah kepala keluarga. Khusus dirinya hanya menempati petak ukuran 4x5 meter persegi untuk tempat tinggal.

"Bekas stasiunnya, sebagian rumah saya ini. Ada beberapa yang menempati dan difungsikan sebagai rumah. Punya saya sekitar 4x5 meter saja," ujarnya.

Awal mula tinggal, Yanto cukup terusik dengan lalu lalang KA BBM menuju depo Pertamina yang berada kurang lebih 1,5 kilometer arah selatan. Jika dihitung KA BBM melintas empat sampai lima kali dalam sehari.

"Kami tahu memang beresiko, karena lokasi rumah dengan jalur rel berdekatan. Makanya, tidak boleh dibangun area mainan anak-anak," katanya.

Sepengetahuan Yanto, tepat depan rumahnya dulunya ada tiga lajur kereta api. Namun saat ini sudah tertutup dan dimanfaatkan sebagai lahan parkir dan pemukiman warga.

"Kapan lalu mau dibangun tembok sama PT KAI. Untuk memisahkan kampung di sisi timur dengan jalur rel. Tapi warga menolak, karena biasanya digunakan untuk kepentingan tertentu, seperti ketika ada orang sakit dan sebagainya," bebernya.

Hampir seluruh warga, kata Yanto, membangun rumah dengan seadanya. Karena mereka tahu, lahan yang ditempati merupakan milik PT KAI. "Tidak ada pungutan. Dulu saja waktu zaman mertua diminta Rp 30 ribu setiap tahun. Sekarang tidak," tandasnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini