Share

Andai Naik Candi Borobudur Harus Bayar Rp750 Ribu, Turis Akan Pilih Makan Enak dan Belanja!

Syifa Fauziah, Jurnalis · Jum'at 10 Juni 2022 10:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 09 406 2608606 andai-naik-candi-borobudur-harus-bayar-rp750-ribu-turis-akan-pilih-makan-enak-dan-belanja-1L2PgvcFJ9.JPG Turis asing berpose di atas Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (Foto: Instagram/@iraialan)

PUBLIK dalam beberapa hari terakhir sempat dibuat geger oleh rencana pemberlakuan tarif baru naik ke Candi Borobudur yang dibanderol Rp750 ribu per orang untuk wisatawan lokal. Meski akhirnya diputuskan ditunda, namun respons kontra dari masyarakat kadung muncul ke permukaan.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, Junus Satrio Atmodjo mengatakan, wacana tersebut akan berdampak pada ekonomi masyarakat yang mengandalkan pemasukan dari turis.

“Kalau banyak orang yang menganggap (naik) ke Borobudur mahal, apakah mereka masih berniat mau ke Borobudur? Bertiga saja sudah satu juta lebih, mereka pasti milih ke tempat lain, makan enak dan belanja. Alhasil tidak ada yang datang ke Borobudur, ekonomi melemah untuk mereka yang berusaha hidup lewat tourism,” kata Junus kepada MNC Portal di Jakarta belum lama ini.

Infografis Tips ke Borobudur

Di sisi lain, ia mengakui jika pemeliharaan Borobudur memang sulit, karena batu-batunya mudah rusak, apalagi perilaku wisatawan lokal hanya senang-senang saja kemudian mereka coret-coret. Namun pemerintah harus tetap memerhatikan dampaknya juga.

“Artinya dengan jumlah wisatawan sedikit, income pengelola itu juga jadi lebih sedikit. Sebagian anggaran itu juga jadi sedikit, pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk maintenance,” jelasnya.

“Ada dampak berantainya ketika tidak ada turis datang. Tempat wisata sepi, jasa yang ditawarkan untuk makan dan minum surut. Orang jual makanan lebih sedikit. Jadi panjang. Supply makan yang sifatnya elementer jadi enggak tercapai. Apakah sudah ada studi ini? Kalau sudah ada jelaskanlah ke publik,” terang Junus.

Menurut dia, jika jadi berlaku tarif itu, khususnya bagi wisatawan lokal maka secara otomatis akan terbentuk stratifikasi sosial, di mana hanya orang kaya yang bisa menikmati Candi Borobudur.

Baca Juga: Dua Kapal Ikan Asing Pelaku IUU Fishing Berhasil Diamankan BAKAMLA dan KKP RI

“Di mana sih tempatnya masyarakat jelata Indonesia ketika mereka ingin menikmati karya nenek moyang? Tapi mereka hanya bisa lihat dari luar pagar. Mereka yang punya uang bisa sampai atas, berfoto ria terus turun. Ada perasaan tidak adil. Kenapa masyarakat diperlakukan tidak adil? Bukankah warisan budaya ini adalah milik bangsa?,” tuturnya.

Junus mengatakan bila persoalan perilaku masyarakat ini menjadi salah satu isu jumlahnya wisatawan yang datang ke Borobudur harus dikurangi, sebaiknya PT Taman Wisata Candi Borobudur memberi edukasi kepada wisatawan ketika akan naik ke atas candi.

Infografis Candi Borobudur

“Ada keluhan memang terkait kelakuan turis, misalnya musim wisata seperti rombongan (anak) SMP atau SMA naik ke atas buang sampah sembarangan. Memang ada yang kayak gitu. Tapi kan itu semua anak bangsa. Bagaimana kita mengenalkan anak bangsa tentang karya nenek moyangnya? Harus diatur dan harus ada regulasi untuk memberi kesempatan kepada semua orang yang datang ke situ. Terutama justru adalah warga negara,” paparnya.

Junus menambahkan, jika memang nantinya pemerintah memberlakukan tarif Rp750 ribu untuk naik ke salah satu keajaiban dunia itu, sebaiknya dibuat juga alternatif lainnya. Semisal dibuatkan museum atau galeri yang berisi tentang cerita Candi Borobudur secara lengkap.

Sebab, lanjut Junus, wisatawan yang datang ke Borobudur terdapat dua tipe, yang pertama mencari informasi dan kedua mendapat feeling tentang Borobudur itu sendiri.

“Feeling itu sulit diukur, sifatnya pribadi. Ketika mereka sudah dapatkan itu, ya untuk apalagi naik ke Borobudur. Itu yang belum dipikirkan. Ini alternatif, artinya membangun fasilitas tentang Borobudur lengkap dengan semua aspek,” katanya memungkasi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini