Share

Mengenal Tradisi Ma'Nene dan Tradisi Mayat Berjalan di Tana Toraja, Penghormatan pada Leluhur

Destriana Indria Pamungkas, Jurnalis · Minggu 12 Juni 2022 21:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 11 406 2609823 mengenal-tradisi-ma-nene-dan-tradisi-mayat-berjalan-di-tana-toraja-penghormatan-pada-leluhur-tLVbBV3lGJ.jpg Tradisi Ma'nene di Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Okezone.com/Jufri Tonapa)

MENGENAL tradisi Ma’Nene dan tradisi mayat berjalan di Tana Toraja. Indonesia memiliki berbagai macam suku dan juga budaya. Sehingga tak heran jika kita dapat menemukan berbagai macam tradisi pula.

Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga kini adalah tradisi Ma’Nene dan mayat berjalan. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Baruppu di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ma’Nene juga biasa disebut sebagai tradisi membersihkan jenazah.

Bagi yang belum tahu, berikut Okezone berikan informasi Mengenal Tradisi Ma’Nene dan Tradisi Mayat Berjalan di Tana Toraja.

 BACA JUGA: Mengenal Festival Kumbh Mela, Ritual Penghapusan Dosa Umat Hindu

Mengenal Tradisi Ma’Nene dan Tradisi Mayat Berjalan di Tana Toraja

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tradisi Ma’Nene merupakan tradisi untuk membersihkan jenazah leluhur yang telah meninggal puluhan hingga ratusan tahun yang lalu. Selain membersihkan jasad, tradisi ini juga mengharuskan pengikutnya untuk mengganti baju jenazah. Sedangkan, tradisi mayat berjalan merupakan bagian dari acara Ma’Nene.

 Ilustrasi

Tradisi Ma’Nene di Tana Toraja (Okezone.com/Jufri)

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Baruppu setiap tiga tahun sekali dan dilakukan secara serentak dengan warga desa lain. Hal ini dilakukan karena prosesi Ma’Nene yang cukup lama, yaitu bisa mencapai satu Minggu.

Sedangkan untuk waktu pelaksanaannya biasanya dilakukan pada bulan Agustus, yaitu setelah musim panen. Ma’Nene tidak boleh dilakukan sebelum masa panen karena dianggap bisa membawa sial bagi hasil panen, seperti sawah dan ladang mengalami kerusakan.

 BACA JUGA:Tradisi Wanita Suku Hamar, Rela Dicambuk untuk Buktikan Cintanya pada Kekasih

Sejarah Ma’Nene

Ma’Nene berawal dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Dahulu kala, Pong menemukan sebuah jenazah dengan kondisi memprihatinkan. Kemudian, ia membawa jenazah tersebut ke rumah untuk dipakaikan baju yang layak dan dikubur di tempat yang aman.

 Sejak itu, Pong mendapatkan banyak berkah. Mulai dari pertanian yang panen lebih cepat dan hasil buruan yang bagus. Pong beranggapan jika menghormati dan merawat orang lain itu diperlukan, sekalipun orang tersebut telah tiada, yaitu dengan merawat jenazahnya.

Prosesi Ma’Nene

Ma’Nane di awali dengan berkunjungnya para keluarga yang masih hidup ke Patane, yaitu kuburan yang berbentuk rumah. Patane bisa ditemukan di Lembang Paton, Sariale, Toraja Utara.

Sebelum membuka peti, tetua atau Ne’Tomina Lumba akan membacakan doa. Tak lupa, anggota keluarga juga harus mengorbankan minimal satu hewan, seperti babi atau kerbau.

 

Setelah doa dibacakan, jenazah bisa diambil dari dalam peti dan dibersihkan dari bagian atas hingga bawah. Jika sudah bersih, keluarga bisa memakaikan baju baru dan kemudian membaringkan jenazah ke dalam peti lagi.

Saat prosesi tersebut, pihak keluarga laki-laki akan membentuk sebuah lingkaran dan akan menyanyikan lagu serta menari. Lagu dan tarian ini berguna untuk menyemangati para keluarga yang ditinggalkan.

Nah, itulan Mengenal Tradisi Ma’Nene dan Tradisi Mayat Berjalan di Tana Toraja. Semoga bermanfaat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini