Share

Berlibur ke Desa Purwosari, Jangan Lupa Mampir ke Kebun Teh Klasik Kulon Progo

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 19 Juni 2022 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 18 549 2613722 berlibur-ke-desa-purwosari-jangan-lupa-mampir-ke-kebun-teh-klasik-kulon-progo-O9Nz4rMdLF.JPG Owner Gumilir Tea, Kulon Progo, DIY, Sarimin (Foto: MNC Portal/Muhammad Sukardi)

JIKA menginjakkan kaki di Desa Purwosari, Kulon Progo, Anda dapat melihat hamparan kebun teh yang dikelola oleh warga lokal. Kebun teh tersebut ternyata punya kisah yang mengharukan di belakangnya. Penasaran?

Diceritakan Sarimin, pemilik kebun teh Gumilir Tea, kebun teh yang ada di Desa Purwosari itu punya kisah panjang yang berliku. Mulai dari kepemilikan yang sempat jatuh ke perusahaan teh hingga harga jual teramat rendah.

Ya, menurut Sarimin teh pertama kali ditanam itu pada 1991, mendapat bantuan dari pemerintah daerah waktu itu. Kemudian teh dipanen pertama kali pada 1993 yang mana dijual per kilogramnya Rp250. Teh disetor ke PT Pagilaran dari 1993 hingga 1996.

Kemudian, harga teh naik menjadi Rp750 per kilogram pada 1997 hingga 1999. Dan pada 2000 sampai 2007, harga teh kembali naik menjadi Rp1.000 per kilogram.

Gumilir Tea
(Foto: MNC Portal/Muhammad Sukardi)

"Namun, karena harga yang diberikan tidak memadai, banyak petani kami yang akhirnya tidak melanjutkan," kata Sarimin pada awak media yang berkesempatan mampir ke rumahnya di tengah kebun teh di acara Media Trip bersama Grand Dafam Signature International Airport Yogyakarta, belum lama ini.

Karena banyak petani yang 'lepas tangan', alhasil kebun teh yang awalnya 47 hektare, berkurang drastis menjadi 7 atau 8 hektare saja. Sarimin mengaku sedih dengan kondisi itu, tapi tak bisa berbuat banyak.

Sebab, kebun teh Sarimin sendiri yang ada di sekitar rumah harus dipangkas hingga menyisakan setengah hektare. "Saya kala itu frustrasi dengan harga yang ditawarkan," keluhnya.

Dari sepertiga lahan teh, Sarimin mengelolanya sendiri mulai 2012 setelah dirinya pensiun dari pekerjaan guru. Bahkan, dia sempat mengontrakkan kebun tehnya ke PT Pagilaran selama 15 tahun lamanya demi menyekolahkan anaknya.

"Kontrak dengan PT Pagilaran selama 15 tahun dengan biaya Rp15 juta. Itu saya harus lakukan demi menyekolahkan anak kuliah. Ini terjadi pada 2000 hingga 2015," ungkap Sarimin.

Nah, dari 2015 hingga sekarang kebun teh di area rumahnya kini dikelola sendiri oleh Sarimin dan kelompok taninya.

Di momen ini, Sarimin menjelaskan kalau proses pengolahan teh yang dilakukannya masih ada yang tradisional. Artinya, pucuk teh yang sudah dipetik, kemudian disangrai di tungku tanah liat yang dibakar di atas kayu bakar.

Teknik tersebut, lanjut Sarimin, ternyata punya pasarnya sendiri yang sampai sekarang tetap eksis. Tapi, karena dikerjakan manual, Sarimin tidak bisa menyanggupi dengan jumlah yang banyak.

Kebun Teh Gumilir Tea
(Foto: MNC Portal/Muhammad Sukardi)

"Ya, paling kuat sekarang 1,5 kilogram. Kalau ngerjain 5 kilogram itu bisa hampir seharian pengerjaannya. Sementara kami sudah tua," kata Sarimin.

Teh yang disangrai ternyata mengeluarkan bau sangit yang memang diincar pencintanya. Hal ini terbentuk dari proses pemanasan daun teh di dalam kuali yang dibakar di atas bara api dari kayu.

"Kami jual teh yang diproses tradisional ini Rp300 ribu per 1,5 kilogram" kata Sarimin.

Kata Sarimin, kalau cuma mengerjakan 1 kilogram, dia tidak menyanggupi, karena tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Gumilir Tea nama teh yang sudah dikemas. Teh tersebut dijual dalam bentuk teh kering dalam kemasan. Aroma sangit dari teh tersebut tercium kencang saat Anda mengolahnya dengan air panas. Sangat khas.

Di kesempatan itu Sarimin juga menjelasan kalau 1 kilogram teh kering berasal dari 5 kilogram daun teh basah.

"Teh yang diolah dipetik sehari sebelumnya. Untuk menghasilkan 1 kilogram teh kering dalam kemasan, diperlukan 5 kilogram teh basah," paparnya.

Sarimin berharap agar Gumilir Tea miliknya yang dikelola oleh warga lokal setempat bisa menjadi oleh-oleh dari liburan ke Kulon Progo. Ia pun mempersilahkan wisatawan untuk berjalan-jalan di kebun tehnya.

Ini merupakan bagian dari aktivitas wisata yang bisa Anda dapatkan jika berkunjung ke Kulon Progo. So, kalau ke Kulon Progo jangan lupa mampir ke kebun teh Sarimin di Desa Purwosari lho ya!

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini