Share

7 Wanita Hebat yang Memimpin Pemberontakan Besar-besaran di Negaranya

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis · Rabu 29 Juni 2022 21:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 28 406 2619815 7-wanita-hebat-yang-memimpin-pemberontakan-besar-besaran-di-negaranya-0RRXWm486V.jpg Laskarina Bouboulina (Lukisan National Historical Museum Athena)

ADA 7 wanita hebat yang memimpin pemberontakan besar-besaran di negaranya. Stigma mengenai wanita lebih lemah dibanding pria harus dibuang jauh-jauh. Sebab, masih banyak ditemui wanita mampu menjadi pemimpin walaupun diketahui pria lebih mendominasi sebagai pemimpin.

Tak sedikit para wanita membuang rasa lemahnya dan menggantinya dengan keberanian yang tiada habisnya. Bahkan, tak jarang para wanita hebat itu mampu memimpin pemberontakan besar-besaran di negaranya.

Lantas, siapa saja 7 wanita hebat yang memimpin pemberontakan besar-besaran di negaranya? Untuk mengetahuinya, simak ulasan berikut ini.

7 Wanita Hebat yang Memimpin Pemberontakan Besar-besaran di Negaranya

Berikut ini 7 wanita hebat yang memimpin pemberontakan besar-besaran di negaranya.

1. Laskarina Bouboulina – Yunani

Laskarina Bouboulina merupakan seorang komandan angkatan laut dari Yunani pada 1770-an. Ia juga pemimpin pemberontakan yang dikenal mampu membuat banyak pasukan musuh kalah telak. Salah satu kehebatan Laskarina adalah kemampuannya membuat Yunani mampu lepas dari belenggu tentara Turki Ottoman.

Kala itu, Laskarina berjuang habis-habisan dengan segala yang dimiliki. Satu-satunya yang ia pikirkan adalah bagaimana membuat negaranya jadi merdeka. Akhirnya, perjuangannya bertahun-tahun membuahkan hasil dan perang yang dimenangkannya mengukuhkan Yunani menjadi sebuah negara yang merdeka.

2. Yaa Asantewaa – Ghana

Yaa Asantewaa sebenarnya seorang ratu dari kerajaan Asante di Ghana pada 1830. Kala itu, daerah kerajaan Asante dikuasai oleh Inggris. Ia menjadi orang yang melakukan gerakan pemberontakan dan dengan sekuat tenaga berhasil membuat tentara Inggris sedikit mundur ke belakang.

Dalam setiap pertarungan, Asantewaa membawa sekitar 4.000 orang tentara untuk membantai tentara Inggris. Pertarungan yang dilakukan selama tiga bulan itu berhasil membuat Inggris kewalahan. Sayangnya, lantaran minimnya teknologi membuat Asantewaa ditangkap dan dipenjara.

3. Margarita Neri – Meksiko

Margarita Neri merupakan salah satu pimpinan militer yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintah di Meksiko sekitar 1910-1920. Kala itu, seorang diktator bernama Porfirio Diaz Mori membuat Meksiko menjadi lautan darah. Kebijakannya tersebut berhasil menewaskan hingga 900.000 orang.

Dengan situasi yang semakin tak karuan, Margarita akhirnya membawa sekumpulan wanita dan mengajak perang melawan diktator negerinya meski tahu risiko sangat besar.

4. Nanny of The Maroons – Jamaika

Nanny merupakan pimpinan kelompok budak yang dibawa dari Afrika menuju Jamaika. Mereka mendapatkan perlakuan buruk oleh militer Inggris yang saat itu menduduki negeri yang kini menjadi Ghana.

Kala itu, Nanny menjadi anak dari kerajaan setempat yang ditangkap dan dijadikan budak oleh para tentara sebelum ia kabur dan melakukan upaya penyerangan balik.

Ia mengumpulkan banyak sekali budak yang kabur lalu mengajari berperang. Setelah terkumpul banyak, Nanny melakukan serangan hingga membuat tentara Inggris geram. Serangan yang dilakukannya membuat Inggris melakukan damai dan memberikan tanah seluas 500 acres kepada para budak dan pemberontak.

5. Countess Emilia Plater – Polandia

Emilia pernah dianggap gila oleh beberapa orang sebab ia berjenis kelamin wanita. Untuk memenuhi rasa keadilan, akhirnya ia memotong rambut dan mengubah wujudnya menjadi pria.

Setelah perubahannya, ia diperbolehkan memimpin sebuah gerakan pemberontakan kepada Rusia yang saat itu mencengkeram Polandia.Saat itu, di tangannya, banyak sekali pasukan musuh yang tumbang dan kalah hingga membuatnya menjadi seorang kapten perang. Ia juga membuktikan kepada semua orang jika wanita bisa melakukan banyak hal bahkan berperang di garis depan yang sangat berbahaya.

6. Leymah Gbowee – Liberia

Leymah merupakan seorang wanita yang tangguh sejak ia lahir. Ia berhasil menghentikan perang sipil pertama di Liberia. Pembunuhan besar-besaran pada penduduk terhenti setelah berlangsung selama 15 tahun sejak 1980. Setidaknya tak akan ada lagi 250.000 jiwa melayang sia-sia dalam perang yang tak ada habisnya.

Leymah kala itu melakukan manuver politik besar-besaran kepada presidennya. Ia melakukan banyak hal untuk hak yang lebih baik bagi kaum wanita dan anak-anak. Meski tanpa kekuatan militer yang kuat, Leymah mampu menaklukkan kekuatan besar dan membuatnya meraih Nobel Perdamaian di tahun 2011.

ilustrasi

7. Kittur Rani Chennamma – India

Kittur Rani Chennamma merupakan seorang ratu di salah satu kerajaan kecil di India. Ia sejak kecil dididik keluarganya untuk dapat berperang meski seorang wanita. Benar saja, saat ia menikah, suaminya dibunuh oleh tentara Inggris dan membuatnya murka hingga melakukan pemberontakan besar-besaran.

Ia melakukan perang terhadap tentara Inggris yang saat itu menguasai India hampir di semua wilayahnya. Ia melakukan perang selama 12 hari hingga tentara Inggris kewalahan. Meski akhirnya Rani ditangkap dan dipenjara hingga tewas, namun yang ia lakukan telah menginspirasi banyak gerakan serupa di India.

Demikian 7 wanita hebat yang memimpin pemberontakan besar-besaran dI negaranya. Hal ini membuktikan bahwa wanita mampu melakukan hal yang dilakukan oleh kaum pria.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini